Isu PHK NET: Dari Penurunan Kinerja, Sampai Kurangnya Verifikasi

Seiring kinerjanya yang menurun, NET diisukan akan mem-PHK karyawannya. Sayang, media pemantik isu tersebut kurang verifikasi. Hasilnya, warganet terkaget-kaget.

Jumat (9/8/2019) siang, pengguna Twitter di Indonesia tiba-tiba banyak yang membicarakan NET TV. Terpantau sampai Jumat malam, jumlah tweet yang membicarakan topik tersebut telah mencapai lebih dari 26.800 tweet dan menjadi trending topic di Indonesia.

Topik tersebut bisa ramai karena adanya pemberitaan soal isu pemutusan hubungan kerja (PHK) massal yang akan dilakukan oleh stasiun TV yang didirikan oleh Wishnutama dan Agus Lasmono tersebut.

Kebanyakan dari pengguna Twitter tersebut tidak menyangka stasiun TV sekelas NET bisa terancam bangkrut, padahal acara-acara yang ditayangkan menurut mereka “lebih berkualitas ketimbang stasiun TV lainnya”. Tak hanya itu, beberapa warganet juga menyayangkan beberapa acara NET favoritnya yang tak lagi tayang.

Isu PHK massal tersebut pertama kali dikabarkan oleh laman Celebes Top News pada Kamis (8/8/2019). Mereka mengutip pernyataan dari narasumber mereka yang tidak ingin disebut namanya. “News lagi gonjang-ganjing nih, gue juga bisa kena,” kata narasumber yang bekerja sebagai jurnalis di stasiun TV ber-tagline “Televisi Masa Kini” itu.

[UPDATE: Laman berita Celebes Top News yang dikutip di artikel ini sudah disunting kembali pada Sabtu (10/8/2019)]

Menurut narasumber tersebut, jurnalis yang berada di divisi pemberitaan (news) akan dikurangi jumlahnya. Dari yang berjumlah 180 orang, menjadi 30 orang saja. Jumlah jam tayang acara berita pun kini dipangkas hanya 1 jam.

Namun, isu tersebut baru populer setelah sebuah media online, law-justice.co, menulis kembali berita tersebut dengan mengutip hampir semua isi berita dari Celebes Top News. Kemudian, media online lain ikut memberitakan kabar yang sama, mulai dari Nawala Karsa, hingga Detikcom.

Detikcom mengkonfirmasi kabar tersebut kepada Dede Apriyadi, Pemimpin Redaksi sekaligus Vice President PR & Corsec NET Mediatama. Dede berkata dirinya belum bisa berkomentar karena sejauh yang dia tahu, kondisi di NET TV “tidak terjadi apa-apa”. Dia juga harus meminta konfirmasi langsung kepada atasan terkait hal itu.

Akhirnya pada Jumat malam, Wishnutama, yang kini menjabat sebagai Komisaris Utama NET, memberikan klarifikasi. Saat dihubungi oleh Kompascom pada Jumat malam, salah satu pendiri NET itu telah meminta penjelasan kepada direksi terkait informasi rencana PHK yang telah diketahui publik tersebut.

“Baru saja tadi ketemu dengan direksi untuk minta penjelasan perihal berita ini. Menurut informasi yang disampaikan kepada saya oleh BOD (Board of Director / jajaran direksi, red), tidak ada PHK seperti yang diberitakan,” ujar Wishnutama.

Menanggapi hal ini, Chief Operating Officer (COO) PT NET Mediatama Indonesia, Azuan Syahril, juga menampik kabar bahwa pihaknya akan melakukan PHK massal.

“Kami enggak ada PHK massal, kami enggak ada. Yang ada kami itu sebenarnya begini, ini, kan, kami juga di era sekarang ini dengan kompetisi yang semakin berat. Jadi kami melakukan restrategi terhadap perusahaan. Jadi kami membuat strategi-strategi baru, begitu lho. Nah terkait juga soal strategi human resource kami,” ujar Azuan saat dihubungi Kompas.com, Jumat kemarin.

Menurut dia, saat ini pihaknya memberikan penawaran tak mengikat kepada karyawan yang bersedia mengundurkan diri. NET pun akan memberikan benefit kepada mereka.

Bermula dari Penurunan Kinerja

Meski isu tersebut sudah dikonfirmasi kebenarannya, isu tersebut bisa saja benar-benar akan terjadi. Apalagi jika kita melihat kinerja NET yang cenderung menurun sejak 2 tahun terakhir.

TeddyTV.xyz pada Februari 2019 pernah mengulas perolehan rating mayoritas acara NET yang tidak sesuai harapan. Hal tersebut juga berdampak pada perolehan share stasiun TV tersebut ketimbang “rekannya” sesama anggota ATVNI, RTV.

Akibatnya, beberapa acara yang menjadi ciri khas NET harus berhenti tayang. Untuk mengisi jadwal yang kosong, NET kembali menghadirkan acara anak NET Toon melalui animasi produksi Cartoon Network dan menayangkan ulang beberapa acara lama.

Selang 5 bulan setelah artikel tersebut rilis, ternyata penghentian acara-acara di NET masih berlanjut.

Baca juga: Mengapa Banyak Acara Unggulan NET Berhenti Tayang?

7 Juni 2019, buletin berita NET, NET 12, tiba-tiba harus berakhir untuk selamanya. Acara tersebut digantikan oleh acara NET News keesokan harinya, yang hanya bertahan sebulan saja. Kini, buletin berita NET hanya tersisa 2 saja, yaitu Warna Warni dan NET 24.

Berakhirnya NET 12 menjadi puncak dari “dibungkusnya” beberapa acara berita NET seperti NET 10, Entertainment News, dan Good Afternoon. Indonesia Morning Show, acara buletin berita pagi NET, sampai saat ini belum jelas kabarnya. Gambar terakhir yang diunggah oleh akun Instagram acara tersebut menjelaskan bahwa mereka sedang “mudik” dan akan kembali.

Akibat dari penghentian tersebut, jam tayang acara yang kosong semakin banyak. Untuk mengakalinya, mereka semakin intens menayangkan acara animasi Cartoon Network pada pagi dan siang hari. Sore harinya, mereka menayangkan ulang sitkom Suami-Suami Takut Istri serta acara serial mereka yang pernah tayang pada 2016 lalu, Keluarga Besar.

Perubahan besar tidak terlalu kentara pada jadwal acara NET di jam prime time (17.00 – 0.00 WIB). Bisa dibilang, NET sedang menggenjot habis-habisan acara prime time mereka, seperti Ini Talkshow, 86, dan Tonight Show.

Melalui kampanye terbarunya, Nonton TV Asiknya di NET, NET seakan mengajak pemirsa setianya (termasuk masyarakat yang menjadi obyek survei peoplemeter Nielsen) untuk kembali menyaksikan acara-acara NET yang kini “tersedia untuk semua kelas ekonomi”.

Dampak dari kampanye tersebut lumayan berhasil, kalau tak mau dibilang tidak berpengaruh. Perolehan rating dan share NET semenjak merombak abis-abisan jadwal acaranya pernah naik ke posisi 11 dan 10. Padahal sebelum itu, perolehan share NET bisa stagnan di posisi 13 hingga 15.

Menariknya, akhir-akhir ini para pengisi acara prime time mulai menjadikan isu di internal NET sebagai bahan candaan mereka. Mungkin mereka bermaksud menjadikan penderitaan mereka sebagai “bahan bakar” tawa penonton sekaligus wadah protes mereka terhadap stasiun TV yang menaungi mereka tersebut. Sebuah ironi yang terjadi seiring adanya kabar bahwa beberapa pengisi acara NET ada yang belum dibayar upahnya.

Krisis yang dialami NET sekarang ini sepertinya sudah mulai terungkap perlahan. Laman Celebes Top News, setelah memberitakan isu PHK karyawan, juga memberitakan masalah-masalah lain yang sedang dialami oleh NET. Mulai dari lamanya pembayaran vendor, sampai usaha dari karyawan agar mendapat hak mereka jika suatu saat terkena PHK.

Terkait hal terakhir, narasumber Celebes Top News, yang juga tidak mau disebut namanya, mengatakan pihak perusahaan sudah bertemu dengan perwakilan karyawan.

“Kami sudah sepakat untuk gak melibatkan pihak eksternal (lawyer, media, disnaker, dll) dulu. Itu untuk bargaining power dalam skema kami bang. (Sekarang) ini sudah tahap mediasi,” kata narasumber tersebut saat dihubungi melalui pesan singkat.

Media Pemantik Isu Kurang Konfirmasi

Meski sudah banyak memberitakan masalah-masalah yang terjadi di internal NET, Celebes Top News masih belum terlihat meminta konfirmasi langsung kepada manajemen NET. Berita mereka terkait klarifikasi dari Wishnutama dan Azuan pun hanya mengutip berita dari Detikcom dan Kompas.com. Mereka mengutip berita dari kedua media online tersebut tanpa menyebutkan sumber berita yang dimaksud.

Begitu pula dengan laman law-justice.co, yang menjadi titik mula isu PHK NET bisa populer. Setelah menerbitkan berita tentang isu PHK NET, mereka merilis berita tentang tanggapan pengamat bisnis Yodhia Antariksa, Founder sekaligus CEO PT Manajemen Kinerja Utama. Tanggapan tersebut mereka kutip dari berita di Warta Kota. Tidak ada berita klarifikasi dari NET yang diterbitkan setelah berita tersebut.

Padahal, jika berita tersebut disinyalir bisa merugikan pihak lain (dalam isu ini berarti NET), sebuah media tersebut harus melakukan verifikasi pada berita yang sama untuk memenuhi prinsip akurasi dan keberimbangan. Hal tersebut sudah tertuang dalam Pedoman Media Siber yang ditandatangani oleh Dewan Pers dan komunitas pers di Jakarta, 3 Februari 2012.

Setelah verifikasi didapatkan, hasil verifikasi dicantumkan pada berita pemutakhiran dengan tautan (link) pada berita yang belum terverifikasi. Di antara kedua pemantik isu tersebut, hanya Celebes Top News yang melakukannya, walau tidak dilakukan pada berita-berita mereka lainnya seputar isu tersebut.

Isu PHK karyawan NET bisa dibilang menjadi topik sensitif di tengah persaingan di dalam dunia televisi Indonesia yang semakin sengit saja dengan kehadiran konten-konten digital macam Netflix, Youtube, dan Instagram. Pengelola stasiun TV harus memutar otak agar roda bisnis terus berjalan walau harus mengorbankan beberapa hal, salah satunya melakukan PHK terhadap karyawan.

Namun, sebaiknya isu tersebut tidak dijadikan sebagai bahan pendulang klik masyarakat semata dengan melakukan tahapan verifikasi yang setengah-setengah. Kaidah jurnalistik tetap harus dilakukan dengan baik dan benar, walau perkembangan berita saat ini bisa lebih cepat karena kehadiran media online.

Masyarakat juga sebaiknya tidak mencerna sebuah informasi secara utuh tanpa memilah kebenaran dari informasi tersebut. Azuan, saat mengakhiri klarifikasinya kepada Kompas.com, berharap agar semua pihak tidak memercayai informasi-informasi yang beredar tanpa konfirmasi langsung dari NET TV.

Isu ini juga bisa menjadi momentum bagi masyarakat, untuk menuntut pihak-pihak terkait agar bisa menjamin stasiun TV yang sudah jatuh bangun menyajikan konten berkualitas, tetap konsisten dan tidak menyerah pada kenyataan. Perbaikan kualitas konten dalam penyiaran publik juga perlu dilakukan, tanpa perlu diawasi secara berlebihan.

Tulisan terkait

Mungkin kamu pengen baca ini juga

RTV, Nama Baru B Channel?

Rajawali Corpora, nama yang baru terdengar oleh saya. Tetapi, ternyata Rajawali Corpora ini sudah lama melintang di dunia pertelevisian Indonesia. Cuma tidak seperti perusahaan media lainnya seperti MNC, Trans Corp, Viva, Media Group dan Emtek, yang selalu “berperang” di dunia pertelevisian Indonesia, bahkan ada yang “berperang” gara-gara politik (taulah maksud saya apa), Rajawali Corpora tidak […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *