Dalam seri ulasan majalah televisi 90-an, saya sudah mengulas majalah RCTI, yang artikelnya dapat Anda baca dalam tautan ini. Pada tulisan kali ini, saya akan mengulas majalah TPI, yang dinamakan “Buku Acara TPI”. Yup, Anda tidak salah baca. TPI menamakan majalah mereka sebagai “buku”. Jangan tanya kenapa namanya begitu, karena saya juga gak tahu hehehe……

Buku Acara TPI yang diulas dalam tulisan ini adalah adalah edisi Mei 1994 dan Februari 1994. Berikut ini adalah ulasannya.

Gambaran Umum

Majalah ini terdiri dari 90-an halaman. Lebih banyak ketimbang majalah RCTI yang memiliki 70-80 halaman. Edisi yang saya ulas kali ini (Mei 1994) terdapat 92 halaman.

Isi utama dari majalah ini sebenarnya sama dengan majalah RCTI, yaitu menyajikan sinopsis dan jadwal acara-acara yang tayang selama bulan majalah ini terbit. Namun, TPI memposisikan majalah ini sebagai majalah untuk masyarakat umum selaku pemirsa. Hal ini bisa dilihat dari prakata dari tim redaksi yang bisa dibaca saat pembaca membuka lembar pertama majalah ini.

Karena majalah ini untuk pemirsa, maka terdapat konten tambahan yang membuatnya lebih variatif. Mulai dari adanya surat pembaca, iklan komersial, iklan layanan masyarakat, dan iklan promo acara TPI.

Iklan komersial dari majalah ini berasal dari pihak-pihak yang menjadi sponsor dalam penerbitan majalah ini. Itu kenapa saat majalah ini terbit, pemirsa TPI bisa mendapatkannya secara gratis.

Sebagai stasiun televisi pendidikan yang direstui oleh rezim Orde Baru, majalah ini turut membawa pesan-pesan yang ingin disampaikan oleh Presiden Soeharto melalui iklan layanan masyarakat. Mulai dari ajakan untuk menjalani program Keluarga Berencana (KB), pesan untuk melestarikan lingkungan sekitar, pesan untuk menyejahterakan keluarga, hingga pesan untuk mematikan lampu dan TV sebelum tidur.

Berbeda dengan majalah RCTI, majalah ini tidak memiliki rubrik Daftar Isi. Gambaran dari acara-acara yang tayang di bulan terbit majalah ini hanya dimunculkan di sampul depan saja.

Seperti majalah RCTI, majalah ini juga memuat promo khusus untuk acara-acara tertentu. Terkadang, desain promonya simpel. Salah satunya adalah promo acara Saur Sepuh berikut ini, yang copywriting-nya seakan ditujukan untuk psikopat………

Konten, Layout, dan Copywirting

Sepertinya majalah ini lebih “cinta produk dalam negeri” ketimbang majalah RCTI. Acara-acara dalam negeri lebih banyak diulas pada majalah ini, yang tentu saja mengikuti pola acara dari TPI itu sendiri. Meski begitu, sinopsis acara luar negeri yang tayang di stasiun TV milik anak Alm. Soeharto itu juga tersedia di majalah ini.

Tidak seperti majalah RCTI yang lebih banyak mengandalkan poster dari film yang tayang, foto-foto acara di majalah ini mengandalkan berbagai sumber. Bisa dari potongan adegan, dokumentasi rumah produksi, bahkan foto dari majalah lain. Majalah-majalah lain yang turut menyumbangkan foto-foto di majalah ini adalah majalah Hai, Sportif, dan Citra.

Majalah ini memiliki beberapa rubrik dan selalu hadir di tiap edisinya. Saya akan bahas tiap rubrik dalam bagian terpisah. Penataan konten majalah ini bisa dibilang cenderung konsisten di tiap edisinya. Rubrik “Surat Pemirsa” ditaruh di halaman 4. “Yang Diunggulkan” selalu ditempatkan di halaman-halaman awal. “Film Unggulan” berada di akhir-akhir majalah.

Majalah ini bisa dibilang sangat menjiwai nama dari majalahnya: “buku acara”. Sebagai sebuah “buku”, isi yang dimuat dalam majalah ini lebih kaya informasi ketimbang majalah RCTI. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya jumlah acara yang dibuatkan sinopsis dalam majalah ini.

Konsekuensi dari banyaknya sinopsis acara di majalah ini adalah ukuran hurufnya lebih kecil daripada ukuran huruf yang digunakan majalah RCTI. Pada gambar di bawah ini, saya mengambil sampel salah satu halaman sinopsis acara di majalah RCTI (dalam gambar di bawah ini, ada di sebelah kiri). Di sebelah kanan gambar, terdapat salah satu halaman di majalah TPI. Saya mengusahakan posisi kamera terhadap kedua halaman tersebut bisa sama. Sehingga gambar di bawah ini dapat menjelaskan perbedaan besar huruf dari kedua majalah itu.

Untungnya, layout dari majalah ini lebih rapi ketimbang majalah RCTI. Saya tidak menemukan warna tulisan yang “nabrak” dengan background tulisan. Tertatanya konten-konten dalam majalah ini membuat mata saya lebih nyaman membacanya.

Saat membandingkan dua edisi majalah ini, format tiap rubriknya juga konsisten. Rubrik “Surat Pemirsa” terdapat 4 kolom, “Yang Diunggulkan” dan “Film Pilihan” 2 kolom, dan “Jadwal Acara” ada 6 kolom + tabel jadwal acara 1 hari.

Untuk menghilangkan kejenuhan pembaca, terdapat iklan yang ditempatkan di antara peralihan rubrik atau di dalam rubrik itu sendiri. Iklan yang dimuat bisa berupa iklan komersial atau promo acara TPI. Namun, iklan yang muncul pada majalah ini kadang dimuat lagi dalam beberapa edisi.

Copywriting majalah ini sangat terasa sekali untuk mengajak pemirsa untuk menonton acara yang diulas. Coba deh baca petikan sinopsis acara Serbaneka di halaman 79 berikut ini:

“Informasi aktual lambat laun akan dapat menjadi kebutuhan pokok bagi kita. Pentingnya informasi menjadikan kita selalu memburu keakuratan informasi dari berbagai media. Dalam tayangan Serbaneka di layar TPI, akan disajikan informasi-informasi dan peristiwa-peristiwa menarik, aktual, dan penting, yang terjadi setiap hari di sekitar kita. …..Oleh karena itu, agar tak ketinggalan informasi aktual, ikut terus tayangan ini.”

Sampul Depan dan Belakang

Sampul majalah ini menggunakan kertas glossy yang sedikit lebih tebal dari halaman isinya. Namun jika dibandingkan dengan majalah RCTI, sampul majalah ini lebih tipis.

Pada sampul depan, terdapat foto dari acara unggulan yang akan tayang di saluran TV pendidikan itu dalam bulan majalah ini terbit. Foto di sampul depan tidak dimuat dalam satu halaman penuh. Di sampul depan juga terdapat highlight isi majalah tersebut, yang memunculkan nama-nama acara TPI yang akan tayang di bulan majalahnya terbit. Oh iya, tidak ada efek khusus yang diterapkan pada nama majalah yang tercetak di sampul depan ini.

Sedangkan di sampul belakang, terdapat iklan layanan masyarakat dari TPI. Tidak seperti majalah RCTI yang menampilkan promo acara yang akan tayang mendatang.

Rubrik Majalah

Kita masuk ke pembahasan rubrik-rubrik yang ada di majalah ini. Ada 4 rubrik yang selalu ada di majalah ini: Surat Pembaca, Yang Diunggulkan, Jadwal Acara, dan Film Pilihan. Pembagian rubrik di majalah ini lebih sederhana ketimbang pembagian rubrik di majalah RCTI. Sinopsis acara yang lebih panjang hanya dimuat di rubrik Yang Diunggulkan dan Film Pilihan. Sedangkan kebanyakan sinopsis acara dimuat di rubrik Jadwal Acara. Berikut ini adalah ulasan dari tiap rubriknya:

Surat Pemirsa

Ini yang membedakan majalah TPI dengan majalah RCTI. Rubrik ini memuat surat yang dikirimkan oleh pembaca sekaligus pemirsa TPI. Melalui halaman ini, TPI menerima saran, kritik, dan komentar dari pemirsa mengenai apapun yang terkait TPI. Mulai dari acaranya, kualitas sinyal yang diterimanya, hingga permintaan majalah ini secara gratis untuk pemirsa di luar negeri.

Yang Diunggulkan

Rubrik ini memuat sinopsis dari acara-acara yang diunggulkan oleh TPI pada bulan terbit majalah tersebut.

Acara yang diunggulkan bisa berupa acara drama, variety show, musik, dan upacara terkait pendidikan. Iya betul, upacara. Sebagai stasiun TV pendidikan, TPI menayangkan acara seremonial negara yang mendukung pendidikan di Indonesia. Pada edisi yang saya ulas ini, terdapat ulasan acara siaran langsung upacara pencanangan wajib belajar 9 tahun.

Jadwal Acara

Bagian ini juga yang membedakan majalah TPI dengan majalah RCTI. Jika majalah RCTI membagi sinopsis-sinopsis acaranya ke dalam beberapa rubrik, majalah TPI memuat beberapa sinopsis acara yang tayang dalam 1 hari.

Format jadwalnya sendiri mirip dengan format jadwal acara yang terdapat di majalah Vista TV. Yang membedakan, majalah TPI memuat jadwal acara 1 hari dalam 2 halaman. Artinya, jumlah halaman rubrik ini tergantung dari jumlah hari dalam satu bulan. Contohnya pada edisi Mei 1994 yang saya ulas ini, terdapat 62 halaman karena bulan tersebut mempunyai 31 hari.

Jadwal lengkap satu hari dimuat dalam setengah halaman pertama, lalu setengah halaman pertama dan halaman kedua diisi dengan sinopsis acara.

Karena keterbatasan halaman, sinopsis yang dimuat berupa sinopsis singkat dan hanya beberapa acara saja. Menariknya, terdapat selipan pesan layanan masyarakat atau iklan komersial di antara sinopsis-sinopsis tersebut.

Bagian lainnya yang jadi pembeda jadwal acara di majalah ini dengan majalah RCTI adalah kode warna untuk rating umur penonton dari acara-acara yang sinopsisnya dimuat. Warna hijau untuk anak-anak, biru untuk semua umur, dan warna merah untuk 17 tahun ke atas. Bagian ini menarik, karena pada saat itu pertelevisian kita belum menerapkan sistem rating umur kayak R13+, D, SU, dan A-BO seperti saat ini.

Di bagian tengah (antara hari ke-16 dan 17) serta di akhir rubrik ini, terdapat halaman iklan layanan masyarakat atau promo acara TPI lainnya. Halaman ini dicetak dengan kertas glossy. Bagian ini seakan memberi “jeda” untuk yang membaca rubrik ini.

Film Pilihan

Untuk memperkenalkan film-film yang tayang, TPI menempatkan rubrik sinopsis filmnya di bagian belakang majalah. Maklum, karena 60-an halaman sudah terpakai untuk rubrik jadwal acara. Tidak seperti majalah RCTI yang memang mengunggulkan film dan serial pada majalahnya.

Film yang dimuat sinopsisnya dalam rubrik ini tidak melulu berasal dari luar negeri. Terdapat sinopsis film dari dalam negeri di rubrik ini.

Penutup

Untuk keseluruhan, majalah ini lebih ramah untuk pembaca umum ketimbang majalah RCTI. Layout-nya lebih rapi dan gambar yang digunakan tidak mengganggu isi majalah. Meskipun besar huruf yang digunakan cenderung lebih kecil, tetapi masih bisa terbaca. Saya memaklumi desainnya yang sederhana, mengingat majalah ini terbit di era 90-an.

Selain itu, kontennya lebih variatif karena tidak terfokus pada sinopsis dan promo acara saja. Kehadiran iklan komersial dan iklan layanan masyarakat di majalah ini menambah ciri khas tersendiri dari majalah ini.

Sebagai sebuah majalah informasi acara televisi, majalah ini sudah menjalankan tugasnya dengan baik. Kumpulan sinopsis dalam satu hari jadwal acara membantu saya memahami gambaran dari acara yang ditayangkan pada hari itu. Alih-alih disebut sebagai majalah, saya bisa bilang kalau majalah ini pantas disebut sebagai “buku”, dengan tambahan iklan.

Jika saya membaca majalah ini tiap edisi majalah ini terbit, saya pasti akan terbantu sekali. Apalagi, saya bisa mendapatkan majalah ini secara cuma-cuma. Oleh karena itu, majalah ini saya kasih nilai 9/10.

Selanjutnya, saya akan mengulas majalah yang diterbitkan oleh stasiun televisi pertama negara kita: TVRI. Ulasan majalah ini akan terbit dalam dua artikel, karena saya mendapatkan dua majalah TVRI yang cetakannya berbeda. Saya akan ulas perbedaannya nanti dalam tulisan tersebut.

Tambahan

Setelah membandingkan 2 majalah yang diterbitkan RCTI dan TPI di era 90-an, saya jadi ngerasa perbedaan yang jomplang antara kondisi kedua stasiun TV swasta itu di era 90-an dengan kondisi sekarang. Baik RCTI dan TPI (sekarang MNC TV), kondisinya sama-sama mengkhawatirkan. RCTI kini diplesetkan sebagai Rerun Citra Televisi Indonesia, sedangkan MNC TV saat ini hanya mengandalkan animasi Upin Ipin dan kuis Family 100.

Namun harus diakui, keduanya sudah terbukti ketahanannya di tengah ketatnya persaingan di industri pertelevisian Indonesia. Saya sendiri (dan mungkin Anda juga) berharap keduanya dan semua stasiun TV yang kita kenal sejak lama bisa kembali menyuguhkan acara-acara yang tidak sekedar mementingkan rating semata.

Namun sayangnya, rating masih menjadi tolak ukur bagaimana sebuah stasiun TV bisa bertahan. Seperti judul lagu Bernadya, kita hanya bisa bilang: “Sialnya, Rating di TV Indonesia Harus Tetap Berjalan.”

Ikuti media sosial Suar Pemancar di Instagram, dan subscribe saluran Youtube Suar Pemancar, agar tidak ketinggalan pembahasan lainnya seputar televisi dan media di Indonesia.