Mengapa Ada Orang yang Jadi Penggemar TV Sejak Kecil?

Akhir-akhir ini penggemar TV mulai bermunculan. Banyak dari mereka yang mulai menggemari TV sejak berusia anak-anak. Saya akan mengulas latar belakang seseorang menyukai TV dari sudut pandang ilmiah dan pola pengasuhan orang tua.

maniak tv

Seandainya John Logie Baird tidak mengembangkan cakram berputar karya Paul Nipkow – ilmuwan asal Jerman – pada tahun 1923, mungkin masyarakat saat ini tidak akan mengenal sebuah benda yang kita sebut dengan nama televisi. Benda tersebut diperkenalkan pertama kali oleh Baird di sebuah laboratorium di London pada 26 Januari 1926.

Dimulai dari sana, sistem televisi mulai berkembang. Termasuk juga siaran televisi. Siaran televisi pertama di dunia mulai mengudara pada 11 Mei 1939 di Berlin, Jerman. Semenjak itu, siaran televisi mulai mewarnai kehidupan kita sehari-hari.

Saya sendiri pertama kali mengenal siaran televisi saat Anteve memutar video di bawah ini saat pergantian acaranya:

Seiring usia bertambah, menonton TV menjadi salah satu kegemaran saya. Tak cukup sampai di sana, saya mulai memperhatikan hal-hal kecil yang tayang di siaran televisi. Mulai dari pergantian antar acara, opening sebuah acara, hingga logo dari stasiun TV di Indonesia.

Apakah itu cukup? Masih belum. Saat SD, saya pernah berkhayal punya stasiun TV sendiri. TeddyTV namanya.

Nah, jadi tau kan kenapa nama blog ini awalnya bernama TeddyTV? Hehe

Khayalan saya terhadap TV pun saya wujudkan dalam berbagai bentuk.

Dalam bentuk gambar, saya membuat logo-logo stasiun TV, mendesain tampilan acara berita di TV saya, serta menggambar gedung stasiun TV impian saya.

Sedangkan dalam bentuk kegiatan fisik, saya pernah menjadikan teman akrab saya sebagai host sebuah acara petualangan. Saya sendiri bertugas sebagai “cameramen”-nya.

Padahal, “petualangan” yang dimaksud cuma dari Balaikota sampai gedung SD saya dulu yang jaraknya cuma 1,5 kilometer.

Tak hanya itu, saya pernah iseng main “reporter-reporteran” menggunakan mic KW 12 berlogo TeddyTV. Kurang lebih seperti ini bentuk mic-nya:

Percayalah, saya menganggap benda ini sebagai “mic” ((=

Kegemaran saya terhadap TV terus berlanjut sampai kini. Meski stasiun TV bernama “TeddyTV” tidak pernah mengudara sampai sekarang, semangatnya masih bisa Anda lihat melalui blog yang sedang dibaca ini.

Di sisi lain, kegemaran saya tersebut membuka jalan bagi saya untuk mendalami passion di bidang media kreatif. Mulai dari organisasi yang saya ikuti sejak SMK sampai sekarang, hingga pernah menjalani magang di stasiun TV nasional.

Cerita Penggemar TV Lainnya

Cerita di atas rupanya tak hanya dialami oleh saya saja. Di luar sana, ternyata ada juga orang yang memiliki kegemaran yang sama terhadap TV sejak kecil.

Pada Oktober 2019 lalu, saya berjumpa dengan Rio Nur, seorang driver ojek online merangkap mahasiswa asal Tangerang, Banten. Kami bertemu di sebuah warteg di kawasan Serpong, Tangerang Selatan. Kepada saya, dia menceritakan kegemarannya pada TV.

“Gue awalnya (menggemari TV) itu dari jaman acara-acara TransTV tahun 2006 kalo gak salah. Terus pas TV7 ganti nama jadi Trans7, nah dari situ gua demen sama desain-desain yang tayang di sana,”

kata Rio saat ditanya awal mulanya dia menggemari TV.

Kesukaan Rio terhadap televisi pun tak hanya dari situ. Dia pernah menggambar logo-logo stasiun TV yang ada di Indonesia. “Terus udahnya gue gunting dan ditempel di dinding kamar,” tutur Rio.

Di lain kesempatan pada akhir Desember 2020, saya ngobrol dengan beberapa anak berusia 12 sampai 17 tahun yang tertarik dengan TV, khususnya yang berkaitan dengan grafis. Mereka memperkenalkan karya-karyanya sebagai “stasiun TV internet”.

Mengapa namanya TV internet? Simpel aja, karena mereka menunjukkan karya “TV-TVan” mereka melalui internet. Bisa melalui Instagram dan Youtube. Saya akan bahas lebih detail soal TV internet ini dalam tulisan terpisah.

Saya menanyakan awal ketertarikan mereka untuk “membangun” TV internet ini. Berikut ini penuturan dari salah satu punggawanya:

“Saya suka nonton siaran Metro TV, TransTV, Trans7, dan TV lokal. Dari sana, aku terinspirasi untuk bikin seperti itu (stasiun TV sendiri)”

kata Rafael, salah satu punggawa “TV internet”, 14 tahun, asal Blitar, Jawa Tengah

Ketika para narasumber saya ditanya soal alasan mereka menggemari TV, saya menemukan hal menarik.

Kalau Rio Nur menjawabnya seperti ini: “Gak tau yah. Gue waktu kecil kayak suka aja gitu sama hal-hal yang berhubungan dengan grafis di TV.”

Sementara itu, Firza, punggawa TV internet lainnya, menjawab begini: “Saya suka OBB (opening sebuah program TV) tuh karena suka lagu-lagunya. Desain opening-openingnya juga keren.”

Jawaban Firza tersebut dirasakan juga oleh teman-temannya sesama “pemilik” TV internet yang saya ajak obrol juga.

Pernyataan mereka tersebut hampir sama seperti apa yang saya alami dulu. Alasan kami bisa menggemari TV adalah pendapat subyektif.

Meski begitu, intinya sama: kami menyukai hal-hal yang tayang di televisi. Seakan-akan, kejelian kami mendapat “inspirasi” dari TV sudah ada “dari sono”-nya, alias sudah diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Penelitian soal Ketertarikan Anak Kecil terhadap TV

Ketertarikan saya dan orang-orang yang tertarik dengan TV sejak kecil ternyata pernah diteliti oleh beberapa ahli psikologi. Salah satunya adalah Tim Smith, seorang psikolog perkembangan anak dari Birkbeck Babylab di London. Dia melakukan beberapa penelitian yang menggunakan acara khusus anak-anak sebagai media penelitian.

Pada penelitiannya pada 2014, Smith dan timnya mencari tahu seberapa dekat hal-hal yang menarik perhatian, seperti warna, kecerahan dan gerakan, dengan tokoh utama dari acara TV anak-anak, dibandingkan dengan enam acara dewasa.

“Kami ingin melihat apakah pembuat acara anak-anak ini, meskipun sifatnya coba-coba, mengembangkan teknik yang secara efektif membantu bayi untuk memahami dan memproses informasi.”

kata Smith mengutip BBC.

Hasil penelitian itu menunjukkan meski sistem motorik mata yang dimiliki anak-anak cenderung lamban, mereka masih bisa mengikuti pergerakan visual yang relatif cepat.

Hal tersebut dapat dilihat saat mereka masih bisa mengenali karakter dari tokoh utama di acara TV khusus anak-anak. Sehingga memudahkan mereka untuk mengikuti cerita dan dapat mempelajari pesan yang terdapat di acara TV tersebut.

“Anak-anak dapat sangat terlibat dan aktif secara kognitif, tetapi perhatian mereka selalu terbatas”, Smith menambahkan.

Sementara itu psikolog Evans Garey menuturkan, pada prinsipnya manusia dari sejak kecil sudah memiliki kemampuan secara biologis untuk melakukan persepsi secara visual.

“Seiring dengan pertumbuhan usia anak, kemampuan anak memvisualisasikan berkembang”

kata Evans mengutip dari Medcom.id.

Penelitian di atas bisa menjawab mengapa anak kecil pada umumnya tertarik pada visual yang ditayangkan di televisi. Namun, saya masih belum menemukan jawaban mengapa saya dan beberapa orang lainnya cenderung mengembangkan ketertarikan terhadap visual di TV dalam bentuk lain. Karena pertanyaan itulah, alasan tulisan ini dibuat.

Sampai akhirnya, saya menemukan jawabannya: kecerdasan visual spasial.

Mengenal Kecerdasan Visual Spasial pada Anak

Mengutip dari Parenting Science, kecerdasan spasial atau kemampuan visual-spasial diartikan sebagai “kemampuan untuk menghasilkan, mempertahankan, mengambil, dan mengubah gambar visual yang terstruktur dengan baik” (Lohman 1996).

Kecerdasan visual spasial adalah salah satu dari 8 Theory of Multiple Intelligences (delapan jenis kecerdasan yang dimiliki manusia) yang dirumuskan oleh Howard Gardner pada tahun 1983. Setiap kecerdasan dalam teori Gardner ini tidak berkaitan satu dengan lainnya.

Nah, anak-anak dengan kecerdasan jenis ini memiliki beberapa ciri. Salah satunya adalah piawai dalam mengingat visual hingga detil-detil tertentu. Cukup sekali melihat, mereka bisa mengingat bagaimana bentuk sebuah visual, lengkap dengan detil-detil terkecilnya. Agar selanjutnya visual tersebut dituangkan dalam bentuk gambar yang rinci.

Bisa jadi, inilah alasan mengapa saya ingat betul apa yang ditayangkan Anteve saat pergantian acara, alasan Rio Nur bisa tertarik dengan segala hal yang “berbau” grafis di televisi, atau sesuatu yang membuat Rafael dan kawan-kawannya “terinspirasi” untuk membuat stasiun TV-nya sendiri.

Dari pengalaman-pengalaman itulah, dapat dikatakan bahwa latar belakang seseorang bisa menggemari TV sejak kecil ada 2 hal: kemampuan biologis anak terhadap pergerakan visual di TV dan kecerdasan visual spasial pada anak. Meski begitu, belum ada penelitian spesifik yang bisa membuktikan hubungan kedua hal tersebut secara ilmiah.

Orang tua tak perlu khawatir jika mendapati anaknya cenderung menyukai hal-hal yang berhubungan dengan televisi. Karena ada potensi anak tersebut memang unggul di kecerdasan visual spasial.

Untuk itu, pendampingan orang tua saat anak menonton TV mutlak diperlukan, baik saat menonton acara yang sesuai umur ataupun tidak. Arahkan anak agar menonton acara TV yang sesuai dengan umurnya.

Tak hanya pendampingan, anak yang menyukai televisi sebaiknya disediakan lingkungan yang kondusif agar mereka bisa mengembangkan kecerdasan visual spasialnya secara maksimal. Berikut ini kegiatan yang bisa orangtua lakukan dirangkum dari berbagai sumber:

  • Berikan stimulasi pembelajaran dengan media visual, bukan melalui kata-kata
  • Minta anak menjelaskan visualisasi yang ada dalam benak mereka secara rinci
  • Ajak anak berimajinasi seluas-luasnya yang disesuaikan dengan potensi kreativitas yang dimiliki
  • Memberikan tugas dengan konsep “project”, yang melibatkan media visual dalam rangkaian prosesnya
  • Berikan mainan yang dapat membantu anak menggambarkan struktur visual tertentu. Contohnya “block play” atau bahasa pasarannya “Lego”
  • Menggunakan teka-teki atau puzzle untuk menjelaskan analogi tentang perhitungan matematika
  • Gunakan bahasa spasial dalam berkomunikasi sehari-hari dengan anak. Contoh: segitiga, besar, tinggi, kecil
  • Ajak anak mengenal dan menggambarkan bentuk dari benda-benda yang ada di sekitarnya

Fakta Anak Penggemar TV Sekarang Ini

Namun, kita harus melihat realita yang ada di masyarakat saat ini. Tak semua orang tua yang memiliki anak dengan kecerdasan jenis ini bisa menyediakan lingkungan yang kondusif. Mulai dari ketersediaan mainan, pola asuh yang benar, bahkan waktu untuk bermain dengan anaknya.

Pada beberapa kesempatan sebelum pandemi, saya melihat orangtua sekarang ini yang cenderung mempercayakan TV dan smartphone sebagai media untuk membuat anak mereka “tenang”. Maksud “tenang” di sini adalah sang anak dianggap tidak mengganggu pekerjaan mereka.

Dalam kasus yang sering saya temui, mereka akan memutarkan video dari acara anak di TV (mayoritas acara animasi) pada smartphone mereka. Video tersebut ada yang sudah tersimpan di perangkat mereka. Ada juga diantara mereka yang sudah hapal “keyword” yang tertuju pada video kegemaran anak mereka di internet.

Baca juga: Omnibus Law Berdampak Positif untuk Penyiaran? Nanti Dulu

Baru setelah itu, smartphone diberikan ke anak mereka. Baik saat si anak sedang rewel, atau memang diberikan saja agar orangtua bisa mengerjakan pekerjaan lain. Alhasil, si kecil jadi semakin sering terpapar layar gadget.

Fakta yang saya temui tersebut seirama dengan penelitian yang diterbitkan dalam laman Jama Pediatrics. Hasil penelitian itu menyebutkan bahwa waktu mengakses gadget & TV (screen time) pada anak berusia 1 sampai 3 tahun meningkat 300% akhir-akhir ini.

Khusus pada anak yang menggemari TV, pola asuh seperti ini membuat mereka menjadikan smartphone sebagai media untuk menuangkan kreatifitas mereka yang berhubungan dengan TV. Tidak seperti saya atau Rio Nur yang menjadikan kertas dan pensil warna sebagai media untuk berkreasi.

Pada akhirnya, mereka dapat menggunakan beberapa aplikasi pada smartphone untuk mewujudkan imajinasi mereka tentang TV. Mulai dari aplikasi video editor, photo editor, hingga media sosial seperti Instagram dan Youtube. Semua fakta tersebut berdasarkan cerita para “pemilik” TV internet yang saya ajak ngobrol.

Berkreasi dengan smartphone pada zaman sekarang ini memang boleh-boleh saja. Namun jika screen time pada anak penggemar TV tidak dibatasi dan tidak didampingi orangtua, mereka akan cenderung menjadikan media sosial sebagai tempat utama bersosialisasi ketimbang dunia nyata. Dimana belum tentu semua penggunanya merespon positif kreasi mereka tersebut. Akibatnya, cyberbullying pun mengintai mereka.

Resiko ini akan semakin besar bagi ABK (anak berkebutuhan khusus) penggemar TV yang memiliki kendala berkomunikasi dan memiliki akun media sosial. Mereka hanya menjadikan media sosial sebagai media berkreasi semata, tanpa bisa berpikir panjang dampak dari karya yang mereka kirimkan.

Hal tersebut membuat jejak digital mereka menjadi bahan perbincangan netizen di akhir tahun 2020. Pemicunya adalah kiriman dari fanpage Facebook berikut ini

Bicara soal kelakuan penggemar TV, saya sudah memantau kelakuan mereka yang terlihat nyentrik (bahkan bisa disebut sebagai “maniak”) sejak November 2019. Perbedaan penggemar TV biasa dengan yang nyentrik, dapat dilihat dari bagaimana mereka menuangkan kesukaannya terhadap TV.

Untuk memudahkan pemantauan, saya membuat daftar orang-orang yang terindikasi penggemar TV nyentrik berdasarkan jejak digitalnya yang tersimpan di media sosial.

Dari daftar tersebut, seperempatnya masih berusia anak-anak. Mirisnya, 38% dari orang yang masuk daftar punya indikasi orang berkebutuhan khusus, baik yang masih berusia anak-anak (ABK) dan yang umurnya sudah 20 tahunan. Hal tersebut bisa saya lihat dari kacaunya tata bahasa pada konten media sosial mereka.

Meski begitu, ada juga diantara mereka yang penggunaan kata di media sosialnya masih lebih baik karena mendapat dukungan pendidikan yang baik.

Pada bagian kedua seri konten ini, saya akan memaparkan hasil pemantauan saya mengenai penggemar TV nyentrik ini. Nantikan ulasan saya selanjutnya.

CATATAN: Tulisan ini mengawali seri konten terbaru Suar Pemancar yang membahas ragam penggemar TV “nyentrik” yang ada di Indonesia. Dimana seri ini akan tersaji dalam bentuk artikel, infografis, video, hingga podcast. Kamu bisa mengikuti seri konten ini melalui platform yang dikelola oleh Suar Pemancar (blog, Instagram, Youtube, dan Podcast)

Tulisan terkait

Mungkin kamu pengen baca ini juga

Ada Apa dengan MNC Media?

“Bedebah banget sekarang MNC!” Mungkin itulah perkataan yang sedang terlintas dalam pikiran masyarakat yang aktif dalam pertelevisian, baik masyarakat yang aktif dalam mengawasi isi siaran televisi, pemerhati media, khususnya pemerhati televisi. Karena akhir-akhir ini, MNC Media telah melakukan serangkaian “perilaku abnormal” yang merugikan dunia entertainment dan dunia pertelevisian Indonesia. Mungkin kita semua telah mengetahui perilaku […]

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *