Category: Humaniora Halaman 1 dari 2

Rubrik yang membahas seputar sosial budaya di lingkungan masyarakat dan hal-hal lainnya di ranah humaniora

Adil dan Setara

Kedua kata dalam judul tulisan ini pasti sering kita temui menjelang Pemilu. Maklum, kedua kata tersebut selalu jadi “andalan” untuk menggaet pemilih agar mau mencoblos calon wakil rakyat dan calon pemimpin negara. Kita akan menemuinya dalam berbagai istilah. Mulai dari keadilan sosial, kesetaraan gender, keadilan dalam penegakan hukum, kesetaraan dalam ekonomi, dan lainnya.

Kita mungkin sudah terbiasa dengan kata “keadilan” dan “adil”. Dari bangku sekolah, kita sudah dikenalkan dengan sila kelima Pancasila: “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”. Kata “setara” dan “kesetaraan” mungkin baru akhir-akhir ini terdengar, seiring penggunaan media sosial yang semakin masif di masyarakat.

maniak tv

Mengapa Ada Orang yang Jadi Penggemar TV Sejak Kecil?

Seandainya John Logie Baird tidak mengembangkan cakram berputar karya Paul Nipkow – ilmuwan asal Jerman – pada tahun 1923, mungkin masyarakat saat ini tidak akan mengenal sebuah benda yang kita sebut dengan nama televisi. Benda tersebut diperkenalkan pertama kali oleh Baird di sebuah laboratorium di London pada 26 Januari 1926.

Dimulai dari sana, sistem televisi mulai berkembang. Termasuk juga siaran televisi. Siaran televisi pertama di dunia mulai mengudara pada 11 Mei 1939 di Berlin, Jerman. Semenjak itu, siaran televisi mulai mewarnai kehidupan kita sehari-hari.

Dari Mudik vs Pulang Kampung sampai Kalung Anticorona: Ekosistem Media Online adalah Big Brother yang Kita Ciptakan Sendiri

Blunder Presiden Jokowi mengenai perbedaan mudik dan pulang kampung masih hangat dalam memori kita. Pernyataan beliau pada 22 April 2020 dalam acara Mata Najwa menjadi bulan-bulanan para ahli maupun non-ahli.

Selain dari Jokowi, tentu kita pun masih ingat dengan blunder Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo yang memperkenalkan kalung yang digadang-gadang dapat menangkal virus Corona.

Tak hanya di lingkaran pemerintah, kita juga pernah dibuat heran oleh selebgram Dinda Hauw yang (katanya) gak bisa masak mie instan. Pada akhirnya, yang bersangkutan mengaku hal tersebut hanya prank semata.

Walaupun kita semua tahu betapa absurdnya ketiga hal di atas, media menerima ujaran-ujaran tersebut dengan tangan terbuka. Sesuatu yang dilakukan figur publik adalah mangsa empuk bagi industri media, baik untuk diolok-olok ataupun dibesar-besarkan.

Media kita, terutama media daring, begitu intrusif jika berhubungan dengan pribadi seseorang. Saking intrusifnya, saya jadi teringat akan novel 1984-nya George Orwell dan sosok mahatahu di dalamnya, “Big Brother”.

donasi covid-19

Perlunya Variasi Donasi kala Pandemi

Kedatangan pandemi Covid-19 mengguncang kehidupan kita. Segala aspek kehidupan kita berubah total semenjak pandemi ini memakan banyak korban jiwa. Mulai dari pekerjaan, pendidikan, dan ibadah.

Dampak wabah ini pun membuat banyak masyarakat yang dirumahkan dari pekerjaannya, bahkan ada yang terkena PHK. Kebanyakan yang mengalami hal ini adalah para buruh harian, tetapi ada juga buruh pabrik yang bernasib sama.

Gimana Pendapat Pekerja Muda soal Serikat Buruh?

Ternyata, gak se-ideologis yang saya kira. Tapi, jawaban mereka menarik juga.

Halaman 1 dari 2

Dikelola oleh Suar Pemancar - 2026

Didukung oleh WordPress & Tema oleh Anders Norén

Eitsss, jangan copy paste yahhh ;)