Tahun 1973, siaran televisi di Indonesia sudah mengudara selama 11 tahun. TVRI, selaku pemain tunggal pertelevisian Indonesia saat itu, mulai melebarkan jangkauannya ke beberapa kota di Indonesia. Sebagai media baru saat itu, TVRI mendapat antusias lebih dari masyarakat. Untuk mengakomodir antusias tersebut, TVRI menerbitkan sebuah terbitan cetak bernama “Monitor TVRI”.
Namun, saya bingung menyebut terbitan ini sebagai majalah atau tabloid. Dibilang majalah, ukurannya gak kayak majalah dan isinya tidak sebanyak majalah. Tetapi kalau disebut tabloid, tampilannya kayak majalah. Bahkan ada sampul depan dan belakang.
Namun jika melihat nama barang yang diberikan oleh tempat penjual media cetak ini di marketplace online, terbitan ini disebut majalah. Jadi, mari kita sepakati di awal bahwa terbitan ini adalah majalahnya TVRI.
Gambaran Umum
Majalah ini diterbitkan pertama kali oleh TVRI pada November 1972 dan terbit 2 minggu sekali. Majalah yang saya dapatkan untuk diulas pada tulisan ini adalah edisi ke-21, yang terbit untuk tanggal 1 sampai 15 September 1973. Majalah ini terdiri dari 8 lembar atau 16 halaman, yang sudah termasuk sampul depan dan belakang.
Saat saya menerima paket dari tempat penjual majalah ini, saya kaget karena ukuran paketnya tidak seperti ukuran paket berisi majalah pada umumnya. Karena saya menggunakan alamat kantor, paket tersebut diterima oleh satpam kantor. Dia juga heran dengan ukuran paket yang ditujukan kepada saya. Dia kira, paket saya itu berisi layang-layang. Saya iseng saja mengiyakan biar satpamnya penasaran hehehe.
Ukuran paket yang tidak biasa tersebut disebabkan oleh ukuran majalah itu sendiri. Majalah ini memiliki dimensi yang tidak umum bagi sebuah majalah, yaitu 26,8 cm x 36,4 cm. Ukuran ini mengingatkan saya dengan ukuran Koran Tempo edisi cetak. Bedanya, kertas yang digunakan majalah ini lebih tipis daripada halaman Koran Tempo.

Baca Juga: Review Majalah TPI: Majalah TV yang Seperti “Buku”
Tipisnya majalah ini cukup riskan, karena kondisi majalah ini sudah mulai ada sobekan di beberapa sisi saat saya terima. Untungnya, sobekan tersebut tidak sampai membuat halamannya terlepas. Meski begitu, saya harus berhati-hati saat membuka halaman majalah ini agar sobekannya tidak parah.
Oh iya, harga majalah ini saat diterbitkan adalah Rp 85, atau jika dikalkulasi dengan nilai inflasi saat ini, harga tersebut setara dengan Rp 8.800,-. Harganya memang lebih murah dari harian Kompas yang harganya Rp 9.000,-. Namun jika melihat ukuran dan isi majalahnya, menurut saya harga majalah ini di zaman sekarang tidak worth it dengan apa yang didapat.
Sampul Depan dan Belakang
Yang membuat “majalah” ini tidak seperti tabloid adalah di bagian sampulnya. Sampul majalah ini menggunakan foto model, yang dibingkai dengan warna pastel. Suasananya sungguh retro sekali yah.
Nama majalah “Monitor TVRI” dengan logo pertama TVRI terpampang di kiri bawah sampul depan. Selain itu, di sampul depan juga terdapat nomor edisi dan waktu terbit, tagline “Media Penunjang Pembangunan”, dan highlight dari isi majalah ini.

Tulisan highlight-nya menggunakan warna putih. Sayangnya, ada tulisan yang tabrakan dengan background, yaitu tulisan “Memuat Acara 1 – 15 September 1973”. Akibatnya, tulisan tersebut tidak terlalu kelihatan.
Selain itu, tulisan highlight-nya sangat tidak menjual. Gimana orang bisa tau isi majalahnya, kalo tulisannya hanya “Kamsidi” dan “2 Film Seri” doang? Saya baru tau maksud kedua tulisan itu setelah membaca isi majalah. Ternyata maksud “Kamsidi” tuh adalah nama tokoh yang profilnya diulas oleh majalah ini. Ampun deeehhh.
Sampul belakang majalah ini hanya memuat foto model dan bingkai berwarna pastel saja. Tulisan yang ada hanya nama model, yang pada foto ini namanya “belum mau ditonjolkan”.

Jika dibandingkan dengan majalah jaman kiwari, sampul majalah Monitor TVRI ini terkesan “kurang menjual”. Menurut saya, justru nama TVRI-nya yang menjadi daya tarik pada sampul majalah ini. Sebagai media elektronik yang baru bersiaran selama 11 tahun, hype TVRI masih terasa di masyarakat kala itu. Kondisinya mungkin mirip sewaktu NET. pertama kali mengudara 11 tahun lalu.
Isi Majalah
Majalah ini tidak seperti majalah RCTI dan TPI yang pernah saya ulas sebelumnya. Isi majalah yang terkait dengan TVRI hanya 3 halaman saja: 2 halaman jadwal acara dan 1 halaman sinopsis film seri. Sedangkan sisanya berupa informasi populer, profil tokoh, komik pendek, artikel, dan cerita pendek.
Baca Juga: Review Majalah RCTI: Bukti Sang Rajawali (Pernah) menjadi Pentas Dunia di TV Indonesia
Di halaman 2 dan 3, saya menjumpai teks pidato dan sambutan dari pejabat, mulai dari Menteri Penerangan, Direktur TVRI, dan Dirjen RTF Departemen Penerangan. Maklum, edisi yang saya dapatkan ini terbit beberapa hari setelah ulang tahun TVRI ke-11. Namun di halaman 3, terdapat susunan redaksi dari majalah ini. Alamat redaksi majalah ini tertulis di kantor TVRI, Senayan, Jakarta. Tapi untuk urusan tata usaha, majalah ini menggunakan alamt kantor Direktorat Televisi di Gedung Departemen Penerangan di Jl. Merdeka Barat (sekarang kantor Kementerian Komdigi, di Jl. Medan Merdeka Barat).

Di halaman 4 dan 5, majalah ini menyuguhkan jadwal acara TVRI selama 2 minggu. Tampilan jadwal acara di majalah ini tidak seperti di Majalah RCTI dan TPI. Tampilannya lebih mirip tampilan jadwal acara televisi yang terbit di koran, dengan tambahan gambar dari acara yang ditayangkan di beberapa bagian.

Karena jadwalnya lebih ringkas, maka rubrik ini menyisakan setengah halaman untuk diisi. Nah oleh pihak redaksi, bagian sisanya ini ditambahkan jadwal acara dari TVRI Yogyakarta. Namun karena keterbatasan ruang, jadwal acara yang ditampilkan hanya untuk hari Minggu, Selasa, dan Kamis.
Penambahan jadwal acara TVRI Yogyakarta itu menyisakan 1/8 halaman lagi. Sehingga oleh pihak redaksi, disisipkan informasi singkat jenaka seperti Sekilas Kawat Mancanegara punya harian Kompas.
Kekurangan dari rubrik ini adalah tidak konsisten dalam urutan bacanya. Sebagai gambaran, berikut ini urutan baca jadwal dari edisi yang saya dapatkan.

Saya belum tahu apakah di edisi lainnya ada kekurangan yang sama. Untungnya, ada penanda tanggal yang membuat pembaca bisa mengurutkan sendiri pembacaannya.
Di halaman 6 dan 7, terdapat rubrik Film Seri (halaman 6) dan profil tokoh (halaman 7). Namun, kedua rubrik tersebut hanya ditampilkan setengah halaman saja. Jadi setengah halamannya diisi dengan artikel lain. Rubrik Film Seri berisi sinopsis dari film seri yang ditayangkan oleh TVRI. Waktu edisi ini terbit, TVRI menyiarkan film seri Amerika berjudul “Monte Cristo” dan “Fury”. Sedangkan pada rubrik profil di edisi ini, tokoh yang diulas adalah pencipta lagu PON, Kamsidi.

Pada halaman 8, terdapat artikel panjang yang mengisi satu halaman penuh. Artikelnya cenderung mirip dengan tulisan karya motivator. Jia melihat sumber artikelnya, sepertinya pihak redaksi menyadur tulisan dari buku “Daya Kemauan dalam Usaha” karya Herbert Newton Casson.

Berlanjut ke halaman 9, terdapat artikel tentang musik dan kolom khusus untuk Surat Pembaca. Rubrik Surat Pembaca ini hanya dicetak satu kolom saja, dimana isinya adalah surat dari pemirsa TVRI atau pembaca majalah ini. Pihak redaksi menjawab surat-surat tersebut dalam rubrik ini. Tapi balasannya singkat-singkat kayak balasan chat gebetan. Ambil contoh pada balasan surat dari Ernawati di gambar berikut ini:

Sepertinya suguhan utama majalah ini ada di halaman 10 dan 11. Di kedua halaman ini, terdapat artikel yang membahas pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON) VIII yang digelar di Jakarta pada 4 sampai 15 Agustus 1973. Tulisan tentang PON lebih menitikberatkan kepada prestasi yang dicapai oleh atlet dari beberapa cabang, termasuk pencatatan rekor terbaru yang tercipta saat PON berlangsung.

Lanjut ke halaman 12. Di sini mulai muncul iklan komersial yang memakai setengah halaman. Setengah halaman sisanya dipakai untuk sebuah tulisan. Sepertinya, bagian ini diperuntukkan untuk siapa saja yang ingin mengirimkan tulisannya kepada redaksi. Pada edisi ini, terdapat tulisan dari Ping Astono, seorang penyanyi keroncong, yang meninggal dunia di tahun 1984.
Di halaman selanjutnya, terdapat tulisan panjang yang membahas surat cinta dari Napoleon Bonaparte kepada seorang wanita Polandia bernama Marie Walewska. Saya tidak tahu tulisan itu menyadur dari buku mana lagi, karena tidak dituliskan sumbernya. Di seperempat halaman yang tersisa, redaksi kembali menyisipkan rubrik profil tokoh. Tokoh yang kali ini diulas adalah Bing Crosby, peraih Oscar 1944 dalam perannya di film “Going My Way”.

Artikel tentang tokoh kembali disisipkan di halaman 14. Kali ini, tokoh yang diulas adalah Alfred Hitchcock, seoarang sutradara film Hollywood yang dikenal sebagai “bapak film suspense”. Artikel ini memakan setengah halaman. Sisanya digunakan untuk iklan komersial lagi.
Akhirnya kita tiba di halaman terakhir. Di halaman ini, terdapat teka-teki silang (TTS) berhadiah dan komik singkat. Komiknya sendiri menggunakan tokoh Bugs Bunny, yang dikenal dalam kartun Looney Tones. Pihak redaksi menyadur komik ini entah darimana, karena balon teksnya menggunakan bahasa Inggris. Menariknya, mereka lebih memilih menerjemahkan balon teks tersebut di bawah panel komik ketimbang di dalam balon teksnya.


Jujur, isi dari majalah ini tidak terlalu menarik bagi saya. Bagian jadwal acaranya terkesan seadanya. Sinopsis acara yang diterbitkan tidak selengkap majalah RCTI ataupun TPI. Keberadaan artikel tambahan di majalah ini rasanya tidak relevan dengan tagline majalah ini yang tertulis di sampul depannya, yaitu sebagai “Media Penunjang Pembangunan”. Rubrik yang di-highlight pada sampul depannya ternyata tidak terlalu “berisi”.
Susunan Konten, Desain, dan Layout
Majalah ini memakai format 4 kolom tulisan di semua rubriknya, walau tampilan di tiap rubrik tidak sama. Penggunaan font (gaya huruf) pada semua tulisan di majalah ini tidak konsisten. Ada tulisan yang memakai gaya huruf Serif, tetapi ada juga yang memakai Sans Serif.
Sebagai sebuah majalah, Monitor TVRI kurang memberikan nama rubrik. Hanya rubrik Surat Pembaca, Jadwal Acara, TTS Berhadiah, dan Cerita Bergambar (komik strip) yang dituliskan nama rubriknya. Sedangkan sisanya tidak diberi nama. Hal ini mungkin terjadi karena beberapa tulisan di majalah ini menyadur buku-buku lain.
Yang menarik perhatian saya adalah pemakaian ornamen grafis di beberapa judul tulisan pada majalah ini. Pemakaian ornamen ini memang identik dengan media cetak yang terbit antara tahun 1950-1980. Contohnya pada tulisan berjudul “Hidup dengan Wanita” dan profil tokoh Kamsidi berikut ini:

Selain itu, kupon TTS berhadiah di majalah ini tidak berbentuk kotak seperti halnya TTS berhadiah di surat kabar. Kuponnya malah berbentuk awan. Kira-kira saat pembacanya mengirim jawaban TTS ini, mereka menggunting kuponnya dengan mengikuti bentuk awannya atau cukup potong kotak aja yah?

Penutup
Sebagai sebuah majalah televisi, Monitor TVRI versi awal ini kurang memaksimalkan tugasnya untuk memberi informasi tambahan mengenai siaran mereka. Konten majalah yang relevan dengan TVRI hanya sedikit. Sisanya adalah saduran buku lain, atau tulisan dari tim redaksi yang tidak berkaitan dengan TVRI.
Kekurangan majalah ini membuat saya bingung. Apa tujuan TVRI membuat majalah ini? Ditujukan sebagai pendamping masyarakat untuk menonton TVRI atau sekedar sebagai media “sampingan” yang diterbitkan oleh TVRI?
Keberadaan majalah ini mungkin lebih ditujukan sebagai sumber cuan alternatif agar tidak melulu bergantung pada APBN dan iklan komersial TV. Namun sayangnya, sumber daya TVRI kala itu belum mumpuni untuk membuat sebuah media cetak yang proper. Jadi, saya hanya bisa memaklumi saja kekurangan tersebut.
Meski begitu, kita harus mengapresiasi langkah TVRI untuk membuat publikasi cetak agar masyarakat mendapat informasi dari TVRI. Baik informasi tentang TVRI itu sendiri dan juga informasi lainnya. Padahal, umur TVRI saat majalah ini terbit baru berusia 11 tahun dan perkembangan teknologi saat itu tidak sepesat saat ini.
Kekurangan yang ada di majalah ini ternyata diperbaiki pada majalah Monitor Radio dan Televisi, versi kedua dari majalah ini. Penamaan tersebut diakibatkan oleh masuknya konten dari RRI dalam majalah ini. Saya akan mengulas majalah ini pada tulisan selanjutnya. Jadi, jangan sampai terlewat yahh.
Ikuti media sosial Suar Pemancar di Instagram, dan subscribe saluran Youtube Suar Pemancar, agar tidak ketinggalan pembahasan lainnya seputar televisi dan media di Indonesia.