Ini MNC lagi kenapa sih? Abis latihan PBB?
Month: May 2015
Ketika saya sedang menonton program berita GlobalTV, saya belum mendapat inspirasi untuk membuat postingan di blog. Padahal, blog TeddyTV sudah hampir 10 bulan tidak update lagi. Namun, inspirasi untuk membuat posting muncul saat program berita tersebut berakhir. Ada pemandangan menarik setelah credit title.
Bukan, ini bukan gambar pemandangan indah, dimana ada 2 gunung yang mataharinya terbit di antara keduanya, sawah, jalan, dan ada sebuah rumah di pinggir jalan tersebut (Okeh, ini mulai ngaco). Pemandangan menarik tersebut adalah banner pengumuman untuk promosi pemasangan iklan di GlobalTV. What? stasiun TV sekelas GlobalTV yang dimiliki oleh grup media terbesar di Indonesia, MNC Media, mengemis iklan?!
Dalam banner tersebut tertulis: “Untuk Pemasangan Iklan di GlobalTV, Hubungi “.
Ini mengingatkan saya dengan pengumuman serupa yang biasa terbit di surat kabar, baik lokal ataupun nasional, itupun diletakkan di halaman khusus iklan. Padahal, dalam industri televisi, sistem pemasangan iklannya berbeda dengan surat kabar. Jika dalam surat kabar, pemasangan iklan dapat dilakukan dengan menggunakan jasa internal perusahaan surat kabar atau menggunakan jasa biro iklan. Dalam siaran TV (dan radio juga), pemasangan iklan hanya bisa dilakukan oleh stasiun TV (atau radio) tersebut, itupun harus melewati proses pengeditan, meliputi sensor pada bagian yang dianggap tidak layak untuk ditonton dan pengecekan kualitas iklan.
Cara promosi pemasangan iklan GlobalTV ini memang bisa dibilang berbeda, sekaligus prihatin. Berbeda, karena stasiun TV yang berbuat demikian biasanya adalah stasiun TV lokal, dan prihatin karena posisi GlobalTV sebagai stasiun TV nasional yang berada di bawah naungan MNC Media.
Padahal, dulu GlobalTV lumayan terkenal di masyarakat. Mulai dari program Abdel dan Temon, Dimas dan Raka, Be A Man, Kungfu Chef, dan lain-lain. Kartun Nickelodeon pun sering tayang di GlobalTV, tidak sesedikit sekarang. Hal tersebut mengundang banyak pengiklan untuk beriklan di Global TV. Sekarang, terlihat sekali para pengiklan sudah jarang beriklan di GlobalTV. Hal tersebut terlihat dari sedikitnya iklan promosi produk dibandingkan iklan promosi acara di GlobalTV.
Apa mungkin menurunnya minat pengiklan tersebut karena perubahan logo yang dilakukan oleh GlobalTV? Dari yang awalnya bola biru dengan huruf G, kini menjadi tulisan GlobalTV saja yang desainnya mirip logo SindoTV (sekarang iNewsTV) dan MNC TV. Entahlah, tapi terlihat sekali jika penurunan pengiklan tersebut dimulai sejak perubahan logo tersebut.
Bisa dibilang akibat mengubah logo, GlobalTV harus memulai kembali dari nol untuk menarik minat pengiklan agar dapat beriklan di GlobalTV. Apa itu dari segi kualitas program, dan jam tayangnya. Bukan sekedar dari rating, yang biasanya menjadi patokan stasiun TV dalam membuat program.
Awalnya stasiun TV ini menjadi “Recycle Bin”-nya MNC. Terus ganti nama biar bisa saingan sama koran sebelah. Lalu ganti nama lagi biar kerasa beritanya. Ehh, sekarang malah caplok semua buletin berita di TV sodaranya. Maunya apa sih?
“Bedebah banget sekarang MNC!” Mungkin itulah perkataan yang sedang terlintas dalam pikiran masyarakat yang aktif dalam pertelevisian, baik masyarakat yang aktif dalam mengawasi isi siaran televisi, pemerhati media, khususnya pemerhati televisi. Karena akhir-akhir ini, MNC Media telah melakukan serangkaian “perilaku abnormal” yang merugikan dunia entertainment dan dunia pertelevisian Indonesia. Mungkin kita semua telah mengetahui perilaku ini sejak MNC menjadi media partner dalam menyiarkan Panasonic Gobel Awards, dimana program-program MNC (baca: RCTI) selalu merajai tiap nominasi, semenjak MNC kebakaran jenggot saat mayoritas program Trans Corp (sekarang Trans Media) menjadi jawara dalam Panasonic Gobel Awards 2010.
Lalu kita juga mengetahui “perilaku abnormal” lainnya saat Pemilu 2014, baik Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden. Kita masih ingat ketika bakal calon presiden 2014, Wiranto, harus rela menyamar sebagai tukang becak, kenek bus, dalam program Mewujudkan Mimpi Indonesia. Ataupun program Kuis Kebangsaan yang ditayangkan RCTI tahun lalu yang secara terang-terangan melakukan money politic untuk kampanye WIN-HT (Wiranto – Hary Tanoe) sebagai calon presiden 2014-2019, padahal KPU (Komisi Pemilihan Umum) belum memulai masa kampanye bagi para calon presiden. Hingga akhirnya perolehan suara Partai Hanura, partai pengusung WIN-HT, tidak cukup untuk mengirim perwakilan mereka ke DPR-RI.
Kita juga masih ingat sebelum Pilpres digelar, Hary Tanoe sudah “berpindah ke lain hati” untuk mendukung Prabowo Subianto sebagai calon presiden, padahal “mantan pasangannya”, termasuk Partai Hanura, lebih memilih Jokowi sebagai calon presiden. Media-media di bawah naungan MNC Media dijadikan oleh Hary Tanoe sebagai alat pemenang Prabowo, bersama Aburizal Bakrie, yang merupakan Ketua Umum Partai Golkar dan pemilik grup media VIVA (terutama tvOne). Perilaku “abnormal” MNC kembali lagi saat menampilkan hasil quick count pemilihan presiden, dimana di saat media yang lain menampilkan bahwa Jokowi unggul dalam Hitung Cepat, sedangkan MNC dan VIVA malah menampilkan Prabowo sebagai pemenang dalam quick count versi mereka. Akibatnya, lembaga survei yang bekerjasama dengan MNC dan VIVA diblacklist dari anggota perhimpunan lembaga survei di Indonesia.
Oke, sekarang kita lupakan masa lalu. Sekarang yang akan saya bahas kali ini dalam Fokus Teddy TV adalah tentang perilaku “abnormal” MNC Media yang semakin menjadi-jadi. Mulai dari menegakkan logo MNC Media, MNC TV, dan RCTI, dimana perubahan logo pada RCTI menimbulkan kontroversi, dan manipulasi pemenang nominasi dalam ajang penghargaan yang diadakan oleh RCTI yang merugikan dunia entertainment dan pertelevisian. Fokus Teddy TV juga akan membahas tentang perilaku GlobalTV yang secara tiba-tiba menjadi “pengemis iklan”, dan perubahan nama SindoTV, stasiun TV berjaringan milik MNC, menjadi iNewsTV. Simak penelusuran Fokus Teddy TV dalam rangka ulang tahun ke-5 Teddy TV. Salam Pertelevisian Indonesia.
Catatan: Oh iya, logo 5 tahun Teddy TV kali ini sedikit berbeda, karena kita anti-mainstream :v