Dari Mudik vs Pulang Kampung sampai Kalung Anticorona: Ekosistem Media Online adalah Big Brother yang Kita Ciptakan Sendiri

Media kita, terutama media online, begitu intrusif jika berhubungan dengan pribadi seseorang. Saking intrusifnya, seolah mirip dengan sosok “Big Brother” dalam novel karya George Orwell, 1984.

Blunder Presiden Jokowi mengenai perbedaan mudik dan pulang kampung masih hangat dalam memori kita. Pernyataan beliau pada 22 April 2020 dalam acara Mata Najwa menjadi bulan-bulanan para ahli maupun non-ahli.

Selain dari Jokowi, tentu kita pun masih ingat dengan blunder Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo yang memperkenalkan kalung yang digadang-gadang dapat menangkal virus Corona.

Tak hanya di lingkaran pemerintah, kita juga pernah dibuat heran oleh selebgram Dinda Hauw yang (katanya) gak bisa masak mie instan. Pada akhirnya, yang bersangkutan mengaku hal tersebut hanya prank semata.

Walaupun kita semua tahu betapa absurdnya ketiga hal di atas, media menerima ujaran-ujaran tersebut dengan tangan terbuka. Sesuatu yang dilakukan figur publik adalah mangsa empuk bagi industri media, baik untuk diolok-olok ataupun dibesar-besarkan.

Media kita, terutama media daring, begitu intrusif jika berhubungan dengan pribadi seseorang. Saking intrusifnya, saya jadi teringat akan novel 1984-nya George Orwell dan sosok mahatahu di dalamnya, “Big Brother”.

“Big Brother” dan Media Daring

Persona “Big Brother” dalam novel 1984 adalah sosok diktator negara Oceania yang memantau warganya – baik secara fisik serta mental – melalui teknologi masa depan. Mulai dari televisi dua arah, CCTV, serta pemindai kebohongan. Warga di sana tidak mengetahui siapa sosok Big Brother sebenarnya. Apakah dia seorang manusia betulan, entitas politik, atau sekedar sosok buatan yang diciptakan partai penguasa?

Hingga titik terakhir novel 1984, Big Brother tak pernah terlihat nyata di hadapan orang-orang yang dikuasainya. Meski begitu, Big Brother dikultuskan oleh warganya. Sebagaimana yang terjadi dengan pemimpin-pemimpin di rezim otoriter seperti Hitler, Stalin, Mao Zedong, dan Kim Jong-Un.

Big Brother menggunakan informasi pribadi seseorang yang didapatnya melalui teknologi masa depan untuk menjaga legitimasi kepemimpinannya. Teknologi pemantauan dalam novel 1984 bahkan dapat mengidentifikasi orang-orang dengan pemikiran yang menentang rezim Big Brother. Tak ada yang luput dari mata Big Brother, sehingga muncul slogan “Big Brother is watching you” (Big Brother memperhatikan anda).

Ilustrasi Big Brother dalam novel 1984 | https://www.newstatesman.com/

Sebagaimana Big Brother, media modern dapat memantau setiap aksi manusia, baik figur publik maupun masyarakat umum. Mata media melihat segalanya, mulai dari ketua WHO yang menangani pandemi global sampai ibu-ibu penganut paham anti vaksin di pinggiran Jakarta.

Pergerakan masyarakat sekecil apapun dapat dilaporkan. Kecepatan dan kemudahan penyebaran informasi melalu jalur daring memperkuat peran media daring sebagai sebuah entitas yang maha melihat.

Media daring bukan cuma tahu apa yang sedang dilakukan, namun juga apa yang dipikirkan. Gak percaya? Coba Anda perhatikan judul berita dari 2 media online berikut ini:

Jahat! Oknum Guru di Blora Hamili Siswinya yang Difabel

dimuat di laman detik.com pada tanggal 9 Juli 2020

dan yang ini

Pep Guardiola Bingung Man City Sudah Kalah 9 Kali Musim Ini

muncul pada situs kompas.com.

Kedua judul tersebut, bersama dengan berbagai judul berita daring lainnya, mengesankan wartawan dan media sebagai sosok “maha tahu” yang bisa melihat isi hati dan kepala seseorang. Judul-judul tersebut digunakan sebagai pemicu emosional agar orang-orang yang melihatnya tertarik untuk mengklik dan membaca lebih jauh.

Padahal, seorang jurnalis seharusnya tidak asal melempar kata-kata yang mewakili sebuah tindakan, karena hal tersebut akan dianggap sebagai fakta oleh pembacanya. Serupa dengan “thought police” atau “polisi pikiran” dalam 1984, jurnalis daring pun menjadi polisi pikiran yang menguntit isi kepala setiap objek pemberitaan.

Intip Data Pribadi Demi Cuan

Belum cukup melihat isi kepala, data pribadi pun terancam jadi konsumsi. Biasanya, media daring yang “gratisan” akan memasang banner iklan di setiap laman beritanya. Iklan yang biasa disebut personalized ads ini sering muncul melalui Facebook, Youtube, ataupun berbagai media online.

Ketika Anda mengklik laman dengan personalized ads, laman tersebut dapat mengambil data-data pribadi seperti nama, alamat IP, preferensi browsing, serta informasi lainnya yang dapat mempengaruhi ketepatan personalized ads dalam mengincar konsumen.

Keakuratan personalized ads terhadap target mereka sudah mencapai taraf yang, menurut saya pribadi, cukup mengerikan.

Jika pada awal tahun 90-an ramalan masa depan manusia berkutat pada teknologi positif seperti mobil terbang dan energi bersih, sekarang ini kamera webcam dan mikrofon HP yang ada di dekat kita berpotensi digunakan penyusup untuk memantau pergerakan kita.

Masalah Media adalah Masalah Semua Orang

Sebagaimana jumlah populasi katak di sebuah kolam yang mempengaruhi populasi ular di kolam yang sama, seluruh pelaku media bertanggung jawab atas runyamnya masalah media daring saat ini.

Pihak media sebagai pemasok konten tentu menjadi pelaku utama dalam kejadian ini. Sebagai entitas bisnis, perusahaan media daring bersaing dengan perusahaan sejenisnya dalam memberikan informasi yang aktual.

Alhasil, media mengorbankan kualitas dan kepadatan berita demi kuantitas. Berita, meski tetap diusahakan agar aktual, terkesan dibuat secara tergesa-gesa dan menuruti tren di masyarakat saja.

Yang sering terjadi, berita paling laris dan paling sering dibuat adalah berita tentang kehidupan pribadi selebriti atau figur publik, dan media online terus menggoreng isu-isu tersebut sampai minyaknya jadi jelantah yang pekat sekali. Kualitas judul beritaanjlok, bahkan seringkali mengarah pada clickbaiting demi alasan finansial.

Wartawan, mau tak mau, harus mengikuti arahan redaksi dan mengesampingkan ide-ide luhur jurnalistik. Berbagai media daring tentu punya standar masing-masing. Namun, pada umumnya jurnalisme daring mengorbankan idealisme dan kode etik agar tetap bertahan dalam bisnis media.

Objek pemberitaan itu sendiri, utamanya pejabat dan selebriti, tak luput dari kesalahan. Seorang figur publik seharusnya mematangkan pikirannya sebelum berkata-kata. Kesalahan artis atau pejabat sudah seperti bau amis darah bagi hiu-hiu lautan maya. Mengetahui lanskap media daring, seorang yang berbicara di depan media layaknya memperhatikan penuh apa yang hendak diucapkannya.

Kita sebagai konsumen media juga punya andil yang signifikan terhadap perkembangan media modern, karena sebuah media tentu tak akan bertahan tanpa pembaca. Masyarakat kita sering kali memilih judul yang sensasional dan mengekspos urusan pribadi seseorang, alih-alih berita yang bergizi tinggi.

Ditamba lagi, kebiasaan kita yang ingin serba instan menjadi legitimasi media online dalam melakukan praktik jurnalisme yang abal-abal. Umpamanya, mereka menawarkan sebungkus keripik kentang yang isinya cuma angin, dan kita selalu membeli keripik itu sementara otak kita terus membusuk.

Menyembuhkan Penyakit Media

Pemilik atau pekerja media sama-sama terjun ke dalam ekosistem media. Media, bagaimanapun idealisme yang dijunjungnya, adalah sebuah bisnis informasi. Bisnis yang menguntungkan adalah harapan setiap pelakunya. Yang menjadi masalah utama adalah bagaimana bisnis ini menjadi bisnis yang sehat, bukan bisnis yang meracuni ekosistemnya sendiri.

Beberapa media mengatasi masalah ini dengan melakukan crowdfunding atau donasi, seperti yang dilakukan Remotivi. Selain lewat donasi, sebagian media daring bertahan hidup dengan bergantung pada subscription model atau model berlangganan yang diterapkan Jakarta Post dan The Guardian.

Periklanan media yang sehat dengan mengedepankan prinsip pagar api (membedakan antara ruang redaksi media dan ruang pemasaran iklan) juga dapat digunakan untuk menyokong bisnis media yang sehat. Kombinasi ketiga model di atas bisa menjadi solusi yang memperbaiki ekosistem media dari sisi pemilik dan pekerja media.

Sebagai konsumen, kita pun harus cerdas dalam memilih produk media. Biasakan diri kita untuk tidak asal mengklik berita, apalagi yang judulnya terkesan menggiurkan. Sebagai manusia, urusan pribadi orang lain tentunya menarik bagi kita, karena dari sana kita dapat merasa lebih tahu akan kehidupan orang tersebut.

Meski begitu, jangan sampai kita menjadikan orang lain sebagai sarana hiburan yang banal semata. Berita yang sarat makna dan pesan tetap dapat kita nikmati.

Yang perlu Anda ketahui juga, media online “gratisan” sebetulnya tak benar-benar gratis. Kita membayar dengan kesediaan kita untuk mengekspos diri kita terhadap iklan yang bermunculan di laman berita. Data pembaca media tersebut dapat diambil oleh pengiklan dan digunakan untuk kepentingan pengiklanan berikutnya.

Preferensi pribadi kita akan semakin lebur dengan umum, dan persona kita akan digunakan untuk kepentingan media. Singkatnya, kita butuh ekosistem media yang sehat, bukan pemantauan gila-gilaan ala Big Brother.

Penulis: Muhammad Rangga Padika
Editor: Teddy S. Apriana

Tulisan terkait

Mungkin kamu pengen baca ini juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *