#fotosepur: Pelipur Lara dan Motivasi Penggemar Kereta Saat Pandemi

Kapan terakhir kali kamu naik kereta ke luar kota?

#fotosepur

Jika saya ditanyai pertanyaan di bawah judul tulisan ini, jawabannya “Februari 2020”. Lebih tepatnya ketika “liburan” sebelum saya mulai bekerja di sebuah pabrik di Cikarang. Kala itu, saya pergi ke Surabaya menggunakan rangkaian Mutiara Selatan. Selain untuk berwisata, saya juga hendak mengunjungi teman yang sedang menimba ilmu di ITS. Dialah yang menjadi tour guide saya selama di sana.

Sepanjang perjalanan, saya menikmati betul pemandangan di pinggir rel. Apalagi sesudah melewati Stasiun Solo Balapan. Perjalanan saya saat itu ditemani hijaunya sawah di pagi hari. Sebuah gunung yang saya gak tahu namanya, menjadi latar belakang dari pemandangan pagi itu.

Sebelum pulang dari Kota Pahlawan, saya sempat diantar ke rumah makan yang menjual tahu telor. Sebenarnya, saya pernah melihat makanan tersebut di TV. Sewaktu Chef Arnold menjadikan kuliner tersebut sebagai tantangan peserta Masterchef, saya penasaran dengan rasanya. Akhirnya, penasaran saya bisa terobati saat saya liburan ke sana.

Tak disangka, kota tempat saya membeli tahu telor itu kini menjadi zona merah penyebaran Covid-19 di Jawa Timur. Akibat pandemi juga, kemungkinan besar saya ga bakal liburan ke luar kota naik kereta selama beberapa bulan ke depan.

Liburan ke luar kota di tengah situasi sekarang ini memang penuh resiko. Sadar akan hal itu, PT KAI menghentikan operasional kereta jarak jauh pada bulan April lalu. Keputusan tersebut juga membuat kegiatan mudik, yang selalu menjadi rutinitas masyarakat kita tiap Lebaran tiba, mau gak mau harus ditunda dulu (walau ada yang nekat juga sih).

3,5 bulan gak naik kereta, terlebih saat mudik kemarin, membuat rasa kangen terhadap “ular besi” ini mulai muncul. Suara panjang klakson kereta saat membunyikan semboyan 35, pemandangan dari jendela kereta, hingga hal remeh seperti kuliner khas stasiun, menjadi hal-hal yang dirindukan oleh para penglaju kereta ini.

Rasa yang sama juga dialami oleh para railfans, sebutan untuk orang-orang yang menggemari kereta api. Selama pandemi Covid-19, mereka mau tak mau menunda hobi mereka yang berhubungan dengan “ular besi”. Mulai dari hunting foto, menjadi relawan stasiun, menaiki kereta tertentu, dan lainnya.

Untuk mengobati rasa kangennya, beberapa orang railfans berinisiatif untuk meng-upload koleksi foto kereta terbaiknya di media sosial, khususnya di Twitter. Semua kiriman foto tersebut ditambah dengan hashtag #fotosepur. Berbagai foto kereta, baik kereta jarak jauh, komuter, hingga kereta barang sekalipun, mulai bermunculan semenjak hashtag tersebut ramai di media sosial.

Mengambil foto dengan obyek kereta api sebenarnya sudah lama dilakukan oleh para railfans. Saya sendiri pernah beberapa kali melakukannya bersama mereka saat duduk di bangku SMP. Seiring waktu, PT KAI selaku penyedia jasa kereta api mulai mengembangkan layanan mereka. Hal tersebut membuat foto-foto kereta dari para railfans pun jadi semakin sering muncul di dunia maya. Hashtag #fotosepur menjadi pertanda masifnya foto-foto itu sekarang ini.

Berdasarkan data dari Hashtagify.me, situs penyedia analisis topik di Twitter, hashtag #fotosepur mulai diramaikan oleh para railfans sekitar satu bulan setelah twit pertama dengan hashtag tersebut muncul. Adapun 78% twit dengan hashtag itu menggunakan Bahasa Indonesia dan seluruh pengirimnya berlokasi di Indonesia.

Oleh karena itu, saya membicarakan behind the scene munculnya #fotosepur dengan Andreva Rahmawan, salah satu inisator hashtag tersebut, melalui percakapan Line pada 28 Juni 2020 lalu. Percakapan yang tertulis di bawah ini sudah saya susun agar kamu mudah membacanya.

Gimana sih awal mulanya ide hashtag ini bisa muncul?

Jadi awalnya tuh aku gerah karena timeline di Twitter isinya banyak debat politik, perbucinan, dan banyak drama. Terus aku ngeluh soal itu lewat twit. Ternyata temen-temen aku juga merasakan hal yang sama. Akhirnya kita bikin ide buat nutupin semua timeline itu pake foto kereta. Awalnya gak bakal pake hashtag. Tapi supaya terkoordinir, akhirnya kita bikin hashtag sendiri dan jadilah hashtag #fotosepur

Berapa orang sih yg mulai ngetwit pake #fotosepur selain kamu?

Ada 6 orang dan semuanya yang koordinir

Gimana respon PT KAI sendiri soal hashtag tersebut?

Alhamdulillah bagus. Malah dirutnya ikut meramaikan juga wkwkwk. Terus fotoku sempet dikomen PT KAI juga. Mereka berterimakasih karena kami udah memulai bikin hashtag #fotosepur.

Bentar, dirutnya itu Edi Sukmoro kan?

Udah bukan.

(Catatan redaksi: Menteri BUMN, Erick Thohir, mencopot Edi Sukmoro dari jabatan Direktur Utama PT KAI pada Juni 2020)

Kalo dikasih rating 1 sampe 10, seberapa kangennya sih kalian untuk bisa naik dan foto kereta lagi?

Sudah jelas 10 dong. Tapi kayanya udah mulai pada hunting sih. Cuma aku sendiri belom berani

Hmm kok belum berani?

Aku masih Co-ass (ko-asistensi, program praktek ilmu kedokteran bagi calon dokter) dan berhenti sampe 20 Juli nanti.

Apa beban kerjaan sekarang ini juga bikin rencana hunting foto kereta jadi ketunda?

Sebenernya pengen hunting sih, tapi takut hehehe. Selain itu kan aku nakes (tenaga kesehatan), jadi ngerasa nggak etis aja kalo keluyuran cuma buat hunting foto. Takutnya dianggap aku nggak ngasih contoh yang baik.

Oh iya, bakal sampe kapan nih kalian mau ngetwit foto kereta dengan hashtag #fotosepur?

Kalo bisa mah seterusnya. Sekarang juga sebenernya masih aktif kok. Soalnya hashtag itu udah jadi hashtag permanen buat nampung foto-foto kereta di Twitter. Semoga aja foto kereta bisa hits lagi

Oke, sekarang saya mau tanya dikit soal hobi foto kereta. Apa sih yang bisa kamu jelasin ke orang awam soal menariknya fotoin kereta api?

Aku sendiri juga nggak bisa jelasin wkwkwk

Hmm emang bagi kamu sendiri, apa sih yang dicari dari mengambil gambar kereta api?

Lebih buat kepuasan diri sendiri sih. Aku nggak nyari apa apa. Mungkin lebih condong buat belajar fotografi juga secara nggak langsung.

Dari wawancara dengan Andreva, saya jadi teringat dengan hierarki kebutuhan Maslow, teori yang dituliskan oleh Abraham Maslow dalam makalahnya tahun 1943 “A Theory of Human Motivation” serta bukunya yang berjudul Motivation and Personality. Hierarki ini menunjukkan motivasi orang untuk lebih dahulu memenuhi kebutuhan dasar sebelum beralih ke kebutuhan lainya.

Foto-foto kereta yang di-upload dengan hashtag #fotosepur menjadi ajang motivasi diri bagi para railfans untuk menunjukkan foto-foto kereta terbaiknya ke orang banyak, sekaligus mengobati rasa kangen publik terhadap kereta. Dalam hierarki Maslow, hal tersebut bisa dikatakan sebagai pemenuhan manusia terhadap “penghargaan”, baik itu dari diri sendiri dan orang lain. Meski penghargaan yang dimaksud bukanlah dalam bentuk fisik ataupun hadiah.

Pada akhirnya, hobi mereka di ranah perkeretaapian itu membuat mereka masuk ke tahap aktualisasi diri, dimana mereka secara tak langsung menguasai teknik fotografi dan berusaha sebaik mungkin dalam meramaikan jagat maya dengan foto-foto kereta terbaik.

Bisa kita simpulkan, bahwa motivasi para railfans untuk melakukan hobi sebaik mungkin, ditambah rasa rindu masyarakat yang sudah lama tak naik kereta api, membuat hashtag #fotosepur mencapai “momentum”-nya sebagai galeri foto-foto kereta api di tengah pandemi sekarang ini.

Tulisan terkait

Mungkin kamu pengen baca ini juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *