Review Rental Sepeda Boseh Bandung – Bike Sharing Kota Bandung 2.0

Pemerintah Kota Bandung meluncurkan layanan Bike Sharing bernama Boseh. Berikut pengalaman saya menjajal layanan peminjaman sepeda berwarna biru ini.

Pada Juli 2017 lalu, Pemerintah Kota Bandung melakukan uji coba pelaksanaan rental sepeda “Boseh” di Kota Bandung. Masyarakat Kota Bandung bisa mencoba layanan transportasi ini secara gratis di beberapa bike station yang telah dibangun di Kota Bandung. Saya pun tertarik untuk mencobanya.

Oh iya, rental sepeda Boseh itu apa sih? Dikutip dari Tribun Jabar, rental sepeda ini adalah fasilitas transportasi jarak dekat yang disediakan oleh Dinas Perhubungan Kota Bandung.

Untuk menggunakan fasilitas ini, masyarakat cukup mendaftarkan diri di booth registrasi yang tersedia di Alun-Alun Bandung, Taman Cibeunying. dan di seberang Museum Geologi.

Apa aja yang harus disiapkan? Kamu cukup siapkan identitas kependudukan, bisa E-KTP atau Surat Keterangan bagi yang E-KTPnya belum ada blangkonya, paspor, kartu pelajar, atau dokumen kependudukan lainnya.

Yang paling penting, bawa kartu uang elektronik dari BRI, BRIZZI. Kartu ini yang akan digunakan saat bertransaksi dengan mesin peminjaman sepeda. Bagi kamu yang belum punya, kamu bisa membelinya di booth pendaftaran dengan harga Rp 30.000,- (mohon koreksi jika saya salah). Kamu juga bisa mengisi ulang kartu BRIZZI kamu di booth tersebut.

Oh iya, kamu harus datang langsung ke booth-nya yah. Karena proses pendaftarannya nggak bisa diwakilkan.

Sekarang, mari kita mulai review saya ini yah.

Antrian pendaftar saat rental sepeda Boseh diujicoba | Dokumentasi Pribadi

Registrasi Member Boseh

Saya mencoba fasilitas ini pada 10 Juli 2017, dimana saat itu saya sudah selesai menjalani sidang kelulusan diploma saya. Saya mendaftar di booth registrasi yang ada di Taman Lansia, tepatnya di seberang Taman Pustaka Bunga. Saat ini, booth tersebut sudah pindah ke Taman Cibeunying yang tak jauh dari sana.

Awalnya saya dimintai E-KTP, tapi karena E-KTP saya belum keluar saat itu, jadinya saya menggunakan fotocopy surat keterangan yang dikeluarkan oleh kecamatan.

Teteh (bahasa Sundanya dari Mbak) penjaga booth-nya lalu mengambil kartu yang disimpan di atas permukaan NFC reader yang terhubung ke laptop. Teteh tersebut memasukkan data yang tertera pada surat keterangan dan meminta nomor handphone saya.

Penjaga booth sedang memasukkan data saya ke kartu BRIZZI | Dokumentasi Pribdi

Kemudian, saya diminta untuk memasukkan PIN kartu dan mengambil foto diri saya. Pengambilan foto dilakukan langsung di booth tersebut menggunakan webcam laptop. Inilah kenapa proses pendaftarannya nggak bisa diwakilkan.

Awalnya, saya ga menduga bahwa bakal ada pengambilan foto, apalagi menggunakan webcam yang kita semua tau resolusinya kurang mantep untuk dijadikan pas foto. Untungnya, cahaya matahari saat itu sedang cerah, sehingga hasil fotonya pun cukup bagus.

Akhirnya, kartu peminjaman sepeda saya telah diaktifkan. Dari brosur yang saya baca di booth registrasi, dijelaskan bahwa kartu ini bakal bisa digunakan sebagai alat pembayaran transportasi MRT dan cable car yang rencananya akan dibangun oleh Pemerintah Kota Bandung.

Hmmm, satu kartu untuk semua moda transportasi umum. Menarik juga. Kartunya seperti yang terlihat pada gambar di bawah.

Kartu “Bandung E-Transport” yang awalnya digadang-gadang bisa multifungsi dengan moda transportasi publik lainnya di Kota Bandung

Oh iya, untuk saat ini kartu tersebut sudah resmi tidak dipakai dan digantikan dengan kartu BRIZZI dari Bank BRI. Bagi yang masih punya kartu lama, mau gak mau harus daftar ulang di booth. Saya sudah melakukannya pada 2018 lalu.

Sampai saat ini, belum ada rencana kerjasama dengan bank selain BRI. Jadi bagi kamu yang punya kartu uang elektronik selain BRIZZI, mau gak mau harus beli.

Kartu BRIZZI yang saya gunakan saat ini untuk mendaftar rental sepeda Boseh | Dokumentasi Pribadi

Peminjaman Sepeda

Saya pun lalu mendatangi bike station yang tak jauh dari booth registrasi. Bike station tersebut terlihat sederhana sekali, karena didirikan tanpa atap dan hanya berupa mesin transaksi dan beberapa unit sepeda yang dipasangkan pada sebuah alat yang terhubung ke semacam pipa. Oh iya, karena semua sistemnya bersifat otomatis, maka tak ada booth khusus untuk penjaga sepeda.

Berbeda dengan bike station yang dulu pernah disediakan oleh Pemerintah Kota Bandung dengan kerjasama ikatan alumni salah satu perguruan tinggi di Bandung, yang memiliki atap dan booth penjaga sepeda. Sepertinya untuk kali ini, Pemerintah mempercayai warga Kota Bandung agar bisa menjaga fasilitas sepedanya dengan baik.

Saat saya mendatangi booth tersebut, ternyata ada penjaga yang memandu saya dalam menggunakan mesin transaksi elektronik di station tersebut. Padahal, di mesinnya sendiri sudah tertempel panduan untuk meminjam dan mengembalikan sepeda. Maklum, saat itu sistemnya masih baru.

Keberadaan akang pemandu tersebut terpakai saat saya mencoba pertama kali transaksi peminjaman sepeda, dimana mesin tersebut mendeteksi bahwa tidak ada sepeda yang bisa dipinjam. Lah, itu ada 2 sepeda nangkring kok di stationnya? Si akang pemandu pun membantu saya agar transaksi bisa kembali dilakukan. Alhamdulillah, pada transaksi kedua, saya berhasil meminjam sepeda dari station ini.

Oh iya, untuk meminjam sepeda, pengguna cukup menempelkan kartu NFC yang telah didapatkan di NFC reader yang ada di sebelah tombol numerik. Saya harus terus menempelkan kartu tersebut agar transaksi bisa dilakukan dengan baik. Saat kartu NFC terdeteksi, mesin akan meminta PIN kartu. Yah, jadi kayak transaksi di ATM.

Ilustrasi kartu saat hendak transaksi dengan mesin. Kartunya udah bukan pake yang di gambar yahh

Lalu, saya disuguhkan pada 2 pilihan utama, pinjam atau ngembaliin sepeda. Setelah saya memilih untuk meminjam sepeda, saya ditanya nomor sepeda yang akan dipinjam. Nomor sepeda ini diambil berdasarkan nomor terminal pengunci sepeda yang ada di station.

Kalo kamu ga tau yang mana, bentuk alatnya kayak kaleng kue versi kecil, alias tabung, berwarna biru dan letaknya terpasang dengan pipa di station tersebut. Di atas tabung tersebut ada nomor terminalnya. Jika sudah, saya dipersilahkan untuk mengambil sepeda di nomor terminal yang sudah dimasukkan.

Untuk melepaskan sepeda dari pengunci, saya cukup menekan tombol di terminal sampai ada suara klik. Menurut panduannya, cek lampu pada terminal. Tapi saya ga liat lampunya dimana. Kalo udah ada suara klik, artinya sepeda sudah bisa dikeluarkan.

Spesifikasi Sepeda

Bisa dilihat dari gambar sepeda di awal post ini, sepeda yang digunakan untuk moda transportasi jarak dekat ini bisa digolongkan sebagai city bike, walaupun ukurannya sedang (CMIIW).

Ada pengatur gigi untuk ban belakang dan bel yang dibunyikannya dengan cara diputar engselnya (sama kayak kalo mau ngatur gigi ban) pada stang sepedanya.

Sepeda ini berwarna identik biru, menyesuaikan dengan warna pada bike stationnya yang juga identik dengan biru, warna yang identik dengan Bandung.

Uji coba sepeda Boseh di sekitaran Taman Cibeunying

Untuk mencoba fasilitas ini, saya mengambil rute Taman Lansia – Taman Cibeunying – Jalan Riau – Taman Pramuka – Jalan Taman Pramuka – Jalan Supratman – Taman Lansia. Alasannya karena di rute ini tidak terdapat kepadatan lalu lintas yang cukup mengganggu.

Meskipun di Jalan Supratman kendaraan bermotor ramai berlalu lalang, tapi tidak sampai mengganggu saya dalam bersepeda. Suasana lalu lintas yang tidak terlalu ramai saat itu mendukung lancarnya uji coba saya terhadap fasilitas ini.

Ketika saya mengganti gigi ban belakang ke gigi rendah dan tinggi, terasa sekali efek perpindahan gigi tersebut. Maklum, karena sepeda baru. Saya agak kaget dengan standar sepeda tersebut yang membuat sepeda ini dapat diparkirkan secara tegak (mungkin efek saya baru tahu hehehe)

Pengembalian Sepeda

Setelah satu jam menggunakan sepeda ini, saya kembali ke bike station di Taman Lansia. Sebenarnya, pengguna fasilitas ini bisa mengembalikan sepeda ini di bike station di mana saja. Jadi, kalo saya meminjam sepeda di Taman Lansia, saya bisa saja mengembalikan sepeda tersebut di Taman Pramuka. Namun, saat itu saya lebih memilih untuk mengembalikan sepeda tersebut di Taman Lansia.

Untuk mengembalikan sepeda ke bike station, saya cukup memasangkan kembali ujung sepeda ini ke terminal pengunci yang ada di station. Jika sudah yakin sepeda telah terkunci, saya kembali melakukan transaksi di mesin transaksi elektronik untuk mengkonfirmasi pengembalian sepeda. Pastinya, saya harus menempelkan kartu NFC saya ke NFC reader selama transaksi.

Setelah mengkonfirmasi pengembalian sepeda, mesin menunjukkan biaya yang harus dikeluarkan. Saat saya menggunakannya di tahap uji coba, saya tidak dipungut biaya dari peminjaman sepeda yang saya lakukan tersebut. Sedangkan untuk saat ini, harga sewanya dipatok sebesar Rp 1.000,- untuk satu jam pertama dan Rp 2.000,- untuk jam berikutnya.

Info Tambahan

Sebenarnya kalo mau dirangkum, pengalaman menggunakan sepeda dari rental sepeda “Boseh” ini sama dengan pengalaman menggunakan sepeda pribadi. Mungkin, akan terasa perbedaannya karena sepeda ini cuma bisa dipinjam dari jam 6.00 – 17.00 WIB.

Ketika saya tanya pemandu di bike station, dia bilang bahwa sepeda ini bisa digunakan di seluruh daerah di Kota Bandung asalkan dikembalikan sebelum waktu tutup.

Dari pamflet yang saya baca di booth, tertulis bahwa pada tahun 2017 lalu, Dishub menyediakan 100-an (CMIIW) unit sepeda di beberapa station terpilih. Saya bisa maklumi hal tersebut, karena fasilitas ini masih bersifat ujicoba.

Bagi kamu yang ingin tahu lokasi bike station lainnya, kamu bisa melihatnya di kiriman Instagram Boseh Bandung di link berikut ini.

Saya baru paham, mungkin alasan pelaksanaan uji coba rental sepeda ini baru dilakukan di area ini karena area di sekitar taman ini ideal untuk ngaboseh (bersepeda) jarak dekat. Kepadatan lalu lintas yang tidak terlalu ramai, ditambah banyaknya taman di sekitar kawasan tersebut, memang membuat suasana bersepeda menjadi nyaman.

Bike station di Taman Pramuka Kota Bandung | Dokumentasi Pribadi

Kurangnya sosialisasi terlihat dari pelaksanaan uji coba saat itu. Saat saya mengambil gambar bike station di Taman Pramuka, ada beberapa orang penyapu jalanan dari PD Kebersihan yang bertanya ke saya mengenai cara mendaftar rental sepeda Boseh. Mereka bertanya demikian karena mereka juga ditanyai oleh beberapa orang yang ingin mencoba fasilitas ini. Saya akui, saat melihat bike station di Taman Pramuka, tidak diumumkan bagaimana cara mendapatkan kartu NFC agar bisa mencoba rental sepeda.

Ada satu pertanyaan penting yang sebenarnya ingin saya cari tau, bagaimana pelaksanaan perawatan terhadap armada sepeda ini?

Melihat dari sederhananya bike station yang dibangun tanpa atap, membuat saya khawatir akan ketahanannya terhadap cuaca. Saya teringat dengan pengalaman dari pembangunan bike station yang dulu dilakukan oleh Pemkot, dimana sepedanya tidak terurus saat kelanjutan program bike sharing tersebut tidak jelas, membuat saya khawatir kejadian yang sama akan terulang jika program ini ternyata kurang berhasil.

Update terbaru, ternyata pengelolaan rental sepeda ini sudah terstruktur. Sepeda akan diantar ke beberapa station pada pagi hari dan diambil kembali pada sore di hari yang sama.

Selain itu, bagaimana jika saat salah seorang pengguna menggunakan sepeda ini, tiba-tiba pengguna mengalami kecelakaan? Apakah ada asuransi yang dapat menutupi biaya pengobatannya?

Saya menanyakan hal tersebut melalui direct message Instagram @boseh.bike. Mereka bilang, biaya sewa sepeda mereka tidak termasuk bea asuransi kecelakaan. Agak disayangkan sih, tapi saya maklum karena layanan ini belum tersebar secara masif di Kota Bandung.

Barangkali jika station peminjaman sepedanya sudah banyak dan masyarakatnya udah berminat menggunakan layanan ini, bea asuransi kecelakaan bisa dimasukkan dalam biaya sewa.

Secara keseluruhan, saya melihat fasilitas rental sepeda “Boseh” ini merupakan pengembangan dari fasilitas bike sharing yang dulu pernah dilakukan oleh Pemerintah Kota Bandung. Boseh ini bisa dibilang versi 2.0-nya.

Fasilitas ini juga bisa menjadi langkah awal Pemerintah Kota Bandung dalam menyukseskan integrasi moda transportasi umum yang akan segera dibangun. Semoga program bike sharing ini terus berjalan dengan baik. Apalagi sekarang ini sedang ramai orang-orang bersepeda.

UPDATE: Tulisan ini pertama terbit pada 10 Juli 2017, dan telah direvisi pada 23 Juni 2020 dengan penambahan informasi terbaru seputar layanan Boseh Bike Share. Untuk info lengkap, kamu bisa kunjungi Instagram mereka di @boseh.bike

Tulisan terkait

Mungkin kamu pengen baca ini juga

3 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *