Mengupas Perubahan NET di Awal 2019

Dibalik berubah totalnya jadwal acara, berhentinya acara unggulan, kembalinya slot kartun, serta perubahan konsep dari beberapa acara yang bertahan, terdapat strategi yang dipengaruhi oleh kehadiran sosok baru di internal NET dan harapan konten yang sesuai dengan target pemirsa.

TeddyTV.xyz Bagian Programming NET sedang melakukan evaluasi besar-besaran di awal tahun 2019 ini. Beberapa acara unggulannya seperti Sarah Sechan, NET Soccer, Waktu Indonesia Timur, dan acara lainnya dihentikan massal sejak 21 Januari. Slot NET Toon yang awalnya untuk mengisi kekosongan jadwal kala libur Natal dan Tahun Baru kini menjadi pengisi tetap slot pagi dan siang.

Terbaru, Breakout, acara musik harian NET yang sudah tayang sejak siaran percobaan pada 2013 lalu, mengubah konsep acaranya dengan memasukkan unsur informasi umum dan ditayangkan secara langsung (live). Perubahan konsep tersebut diterapkan sejak 7 Februari 2019.

Dibalik segala perubahan pada jadwal dan acara NET tersebut, ternyata ada strategi yang dilandasi oleh masalah rating dan evaluasi menyeluruh pada bagian programming. Akibat dari strategi tersebut mulai terlihat pada akhir tahun 2018 lalu.

Siklus Jeda Tayang yang Tak Biasa

Ada sebuah siklus tahunan yang selalu diterapkan oleh stasiun televisi yang didirikan oleh Wishnutama (mantan Direktur Utama Trans TV) bersama Agus Lasmono (Presiden Direktur Indika) ini. Setiap libur panjang, baik saat Lebaran serta saat libur Natal dan Tahun Baru, NET. selalu menjeda penayangan beberapa programnya.

Salah satu contohnya adalah program Breakout. Program musik pertama NET ini mengumumkan melalui Instagram bahwa mereka akan jeda tayang mulai 17 Desember 2018. Namun, hal tersebut tidak berlaku untuk tayangan ulangnya yang tayang di tiap awal dan akhir siaran NET. (4.00 & 1.00 WIB).


Untuk mengisi slot yang kosong akibat jeda tersebut, NET. menayangkan ulang beberapa program unggulannya, seperti The East, Ini Talkshow, Tonight Show, 86, dan lainnya.

Namun, hal yang tak biasa terjadi di saat libur Natal 2018 lalu. Sebagai pengisi slot yang kosong akibat jedanya beberapa program, NET menghadirkan kembali NET Toon dengan formasi baru, dimana kartun-kartun produksi Cartoon Network (CN) menjadi pengisi kekosongan jadwal acara NET di slot pagi dan siang kala itu. Awalnya, saya mengira hal tersebut merupakan inovasi terbaru dari NET agar tidak melulu mengulang programnya tiap libur panjang.

Ternyata, program-program yang jeda di kala libur Natal dan Tahun Baru kemarin ada yang jeda untuk selamanya, alias stop tayang. Malahan, kartun-kartun dalam NET Toon jadi “penghuni tetap” dari program-program yang berhenti tersebut. Sampai-sampai, waktu tayang OK Food harus digeser ke slot pagi, Breakout kembali tayang di slot sore, dan NET 24 berdurasi 1 jam seperti di saat awal mengudara.

Baca juga: Mengapa Banyak Acara Unggulan NET Berhenti Tayang?

Alasan NET Toon Menayangkan Animasi Cartoon Network

NET Toon sebenarnya sudah ada sejak awal mengudara pada 2013. Saat itu, kartun-kartun yang masuk NET Toon adalah kartun-kartun lama Spacetoon, yang frekuensinya digunakan oleh NET sekarang. Daigunder, Code Lyoko, Kobochan, dan Turtle Island, adalah “angkatan” pertama NET Toon. Sempat ada variasi kartun terbaru seperti Roary The Racing Car dan Shelldon. Namun setelah 6 bulan tayang, kartun-kartun tersebut perlahan digantikan oleh program in-house NET.

Pada awal Desember 2018 lalu, NET melalui Twitternya men-twit pertanyaan yang cukup menarik.

Respon yang muncul dari twit tersebut bernada positif. Indikasi NET menayangkan kartun kembali semakin kuat, saat NET memberikan like pada balasan twit follower-nya yang ingin kartun-kartun yang tayang di NET berasal dari Cartoon Network (CN), saluran animasi khusus anak di TV berbayar.

Benar saja, NET kemudian merilis promo NET Toon format baru dengan kartun-kartun CN sebagai jualannya. We Bare Bears, Adventure Time, The Amazing Time of Gumball, dan Ben 10, kini resmi menjadi “angkatan” kedua NET Toon.

Pilihan NET untuk menayangkan kartun-kartun dari CN ini bisa dibilang sangat tepat, Ada 2 faktor yang menjadi alasan, yaitu:

Pertama, segmentasi program NET dari pertama mengudara lebih condong ke masyarakat dengan kemampuan ekonomi atas hingga menengah. Dalam klasifikasi masyarakat berdasarkan kemampuan ekonomi atau status sosial -dikenal dengan nama Social Economy Scale (SES) – segmentasi yang disasar NET adalah kelas A dan B. Walau begitu, NET juga mulai menyasar kelas C melalui acara Ini Talkshow.

Kedua, perkembangan pengguna TV berbayar di Indonesia tertinggi di Asia Pasifik. Dari survei yang dilakukan Media Partners Asia, rata-rata pertumbuhannya sepanjang 2011-2016 mencapai 26,7% per tahun. Dengan pertumbuhan tersebut, jumlah pelanggan TV berbayar saat ini mencapai sekitar 3 juta dari total 40 juta rumah tangga yang mempunyai televisi di Indonesia.

Faktor tersebut dipicu oleh pendapatan masyarakat yang meningkat – ditandai dengan bertumbuhnya pendapatan per kapita penduduk (GDP) Indonesia – yang memicu perubahan customer behavior. Kurangnya kualitas konten TV teresterial membuat banyak keluarga di Indonesia mulai beralih ke TV berbayar, khususnya keluarga kelas menengah.

Kedua faktor di atas membuat program yang hanya bisa disaksikan di TV berbayar, seperti kartun-kartun CN, semakin digandrungi masyarakat Indonesia. Dari perhitungan yang dilakukan oleh Social Blade, akun Youtube Cartoon Network Indonesia – yang menampilkan cuplikan animasi CN yang pengisi suara berbahasa Indonesia – mengalami peningkatan subscriber dan banyak video yang ditonton.

Pada 20 Mei 2018, jumlah subscriber akun Youtube tersebut sebesar 15.890 dan videonya sudah ditonton sebanyak 784.430 kali. Sampai 2 Februari 2019, angka tersebut melesat menjadi 84.780 subscriber dan 5.000.000 kali videonya ditonton.

Sehingga, pemilihan kartun-kartun CN oleh NET sesuai dengan segmentasi penonton yang disasar, yang menginginkan kualitas program TV terestrial bisa sebanding dengan TV berbayar.

Ada Orang Baru di Programming NET

Dalam artikel sebelumnya, saya telah meyinggung soal sedikitnya acara-acara NET yang “menjual”. Dimana hanya ada dua acara, yaitu Ini Talkshow dan 86. Masing-masing acara tersebut memperoleh rating sekitar 1% dan 1,1%. Saya juga telah menyinggung perolehan channel share yang lebih rendah ketimbang kawannya, RTV, yang baru mengudara setahun setelah NET hadir di layar kaca.

Baca juga: Dikala Idealisme NET Mulai Terbentur Realita

Untuk mengatasi masalah rating dan channel share yang stagnan tersebut, NET mulai melakukan evaluasi total terhadap bagian programming-nya. Hal tersebut bisa dilihat dari kembali hadirnya NET Toon dengan formasi baru, dan tentu saja, berhentinya beberapa program khas NET. Disinyalir, kehadiran 2 “orang baru” di internal programming NET mempengaruhi munculnya kebijakan tersebut. Meski begitu, posisi Roan Y. Ampira, selaku Direktur Programming NET saat ini, tidak terganggu dengan kehadiran orang baru tersebut.

Berdasarkan info dari informan saya di internal NET, berinisial AG, keterlibatan mereka di dalam struktur programming NET berawal dari kerjasama Wishnutama – CEO NET – dengan mereka dalam sebuah acara yang diproduksi pada tahun 2018 lalu.

Karena informasi tersebut bersifat rahasia, AG meminta saya untuk merahasiakan nama mereka. Namun, saya masih diperbolehkan untuk menjelaskan sedikit mengenai latar belakang mereka bisa bergabung di NET.

Latar belakang mereka di bidang pertelevisian Indonesia menarik untuk disimak. Salah satunya, berinisial Y, pernah menjabat sebagai direktur produksi di salah satu stasiun TV nasional. Sedangkan satu lagi, berinisial A, merupakan mantan Production Assistant (PA) di stasiun TV nasional yang berbeda dengan orang pertama.

Sebenarnya, Wishnutama sendiri sudah mengenal mereka sejak lama. Bahkan saat sebelum mantan Direktur Utama Trans TV tersebut mendirikan NET bersama pengusaha Agus Lasmono.

Dugaan kuat pengaruh mereka terlihat dari strategi yang diambil oleh NET saat ini, yang mirip dengan strategi yang mereka pernah dilakukan ketika masih bekerja di tempat kerja lama. “Kentara banget Mbak Y itu. Ingetnya (dari) strategi yang sama di tempat lama beliau. Langsung jadi ramah anak (saat beliau menjabat) hehe,” kata AG pada Selasa (5/2/2019), melalui percakapan LINE.

Bicara soal strategi, teman saya sesama pengamat televisi sempat bertanya kepada AG soal strategi programming yang dipakai NET selama ini pada akhir 2018 lalu, ketika beberapa acara NET sedang jeda tayang. AG mengatakan, sekarang ini NET jarang melihat performa dari segi rating ataupun share. “Yang fanbase-nya kuat, akan bertahan”, ujarnya.

Namun, setelah melihat kondisi NET sekarang, pernyataan itu sepertinya harus diralat. “Dari tanya-tanya ke bagian programming, intinya di tahun 2019 ini mau diubah gitu,” komentar AG.

Sepertinya, masih ada strategi lain yang akan dilakukan oleh bagian Progamming NET, yang mendapatkan “tentara baru” yang berpengalaman. Kita sebagai pemirsa hanya tinggal menunggu waktu saja.

Apakah strategi yang diterapkan oleh NET sekarang ini bisa memperbaiki performa rating dan share mereka? Atau kamu ada pendapat sendiri seputar strategi NET sekarang ini? Coba utarakan pendapatmu di kolom komentar (;

Tulisan terkait

Mungkin kamu pengen baca ini juga

4 Comments

  1. Jangan-jangan salah satu pasukan baru NET jebolan GTV? Dari judul-judul acara kartunnya.
    Mirip banget sama judul-judul Spongebob.
    Dulunya kan cuma Spongebob Squarepants, eh berubah jadi Spongebob Squarepants “the Movie” bla bla bla.
    Hadeh -_-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *