Tahun 2011, stasiun TV anak pertama di Indonesia, Spacetoon, sedang dalam masa “hidup segan, mati tak mau”. Tidak ada konten animasi terbaru yang mereka tayangkan saat itu. Kalaupun ada, acara tersebut sebenarnya sudah pernah tayang di stasiun TV yang sama. Setiap peralihan acara kartun dengan kartun lainnya, selalu ada selipan acara home shopping selama setengah jam.
Kondisi tersebut, konon kabarnya, akibat dari penyelewengan dana operasional dari Spacetoon Internasional oleh orang kepercayaan Alm. Sukoyo. Bagi yang belum tahu, Alm. Sukoyo adalah pendiri Spacetoon Indonesia, yang sebelumnya juga mendirikan DVNTV, atau yang kini kita kenal dengan nama Trans7. Kasus itu membuat Spacetoon Internasional seakan “melepas” cabang mereka di Indonesia. Meski lisensi nama Spacetoon masih bisa digunakan, tetapi mereka sudah tidak memberikan dana operasional lagi untuk Spacetoon Indonesia. Alhasil, Spacetoon Indonesia harus berjuang sendiri untuk membiayai operasionalnya.
2 tahun kemudian, Spacetoon Indonesia akhirnya menyerah. Mereka pamit dari bisnis TV tidak berbayar (free to air / FTA). Izin frekuensinya dilepas kepada sosok yang pernah menjadi direktur utama stasiun TV nasional, yaitu Wishnutama, bersama dengan Agus Lasmono dari Indika. Keduanya mengubah Spacetoon Indonesia menjadi stasiun TV yang kita kenal sekarang dengan nama NET. Pada saat itu, kita hanya bisa mengucapkan “Selamat Tinggal Spacetoon Indonesia”. Saya mengulasnya dalam thread Kaskus di bawah ini.
Baca juga: Selamat Tinggal Spacetoon Indonesia (artikel Kaskus)
Thread tersebut adalah artikel yang mengantarkan saya untuk membahas NET selama saya menulis tentang pertelevisian Indonesia. Kaskus menjadikan artikel itu sebagai “hot thread”, karena banyaknya pembaca dan komentar terhadap artikel tersebut. Sampai sekarang, artikel saya itu sudah dibaca oleh 177 ribu orang dan mendapat 1800 komentar.
11 tahun 6 bulan berlalu, saya merasakan hal yang de javu dengan kondisi NET. sekarang. Pendapatan menurun tapi kerugian terus meningkat. Ditambah lagi mereka memiliki utang usaha yang sudah mendekati waktu jatuh tempo. Kondisi mereka bisa dibilang sudah hampir karam akibat “badai” yang menerjangnya pada tahun 2019 lalu. Badai yang membuat mereka harus melakukan efisiensi agar masih bisa bersiaran. Saya tidak pernah terpikir bahwa artikel Kaskus saya yang “hot thread” itu akan memiliki sekuel. Dan kini, Anda sedang membaca sekuel dari artikel tersebut.