Menengok Kinerja NET Sepanjang 2019

Setelah melakukan berbagai upaya agar tetap mengudara, bagaimana performa NET sepanjang tahun 2019 ini?

Setelah melakukan berbagai upaya agar tetap mengudara, bagaimana performa NET sepanjang tahun 2019 ini?

Bisa dibilang, tahun 2019 adalah tahun tersuram bagi NET. Stasiun TV yang didirikan oleh Wishnutama dan Agus Lasmono itu sedang dihantam “badai” hingga akhir tahun ini.

Upaya mereka dalam menyajikan acara TV yang diklaim “anti mainstream” dengan stasiun TV lain, harus diganjar dengan pengeluaran yang lumayan besar. Sayangnya selama 6 tahun mengudara, perolehan rating dan share mereka tidak menunjukkan perbaikan dan berdampak pada pendapatan yang diperoleh.

Berbagai upaya pun dilakukan agar stasiun TV ber-tagline “Televisi Masa Kini” itu masih bisa mengudara. Mulai dari PHK massal karyawan (terutama di biro daerah), pengurangan acara berita, penghentian banyak acara, menayangkan FTV lama, hingga memutar kembali acara kartun yang lama ditinggalkan setelah mereka mengakuisisi Spacetoon Indonesia.

Baca juga: Isu PHK NET: Dari Penurunan Kinerja, Sampai Kurangnya Verifikasi

Perlahan tapi pasti, NET mulai menanggalkan idealismenya. Di dunia maya, publik mulai riuh merasa kehilangan. Tak hanya itu, bobrok NET selama ini perlahan dibuka oleh berbagai pihak.

Stasiun TV yang bermarkas di Kuningan itu juga kehilangan ikon besarnya, yaitu Wishnutama. Mantan direktur utama Trans TV itu ditunjuk sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dalam Kabinet Indonesia Maju bentukan Presiden RI terpilih, Joko Widodo. Otomatis, pendiri NET yang ada di sana tinggal Agus Lasmono, yang merangkap direksi Indika Group, induk usaha NET.

Artikel ini sebenarnya menyambung seri artikel di blog ini pada awal 2019 lalu. Saat itu, saya menuliskan soal strategi NET selama 5 tahun mengudara yang kurang berhasil menambah pundi-pundi uang padahal usaha “bakar uang” udah jor-joran.

Pada seri artikel tersebut, saya juga menunjukkan gimana kinerja NET jika dibandingkan dengan “teman” mereka sesama anggota Asosiasi TV Nasional Indonesia (ATVNI).

Baca juga: Dikala Idealisme NET Mulai Terbentur Realita

Nah, gimana kinerja mereka sepanjang tahun ini? Apa rating mereka benar-benar jeblok sampe para pengiklan ogah melirik NET?

Melihat data rating yang bocor sepanjang tahun 2019 ini, posisi NET dalam “tangga klasemen” rating TV Indonesia memang tak pernah menduduki 7 besar. Paling banter ada di posisi 9 dari 14 stasiun TV. NET harus bersaing ketat dengan stasiun TV sesama anggota ATVNI, RTV.

Sebagai permulaan, di bawah ini adalah data yang berhasil saya kumpulkan soal perolehan share stasiun TV anggota ATVNI sepanjang tahun 2019. Dengan catatan, data di bawah tidak mempresentasikan perolehan ketiga stasiun TV tersebut di Indonesia karena keterbatasan pengambilan responden dari AC Nielsen yang hanya berasal dari 11 kota besar. (Kamu bisa liat grafiknya lebih jelas dengan mengunjungi tautan ini)

 

Grafik mereka tahun ini cukup menarik yah?

Seperti grafik yang saya tunjukkan pada artikel sebelumnya, perolehan share RTV sepanjang tahun ini menunjukkan kenaikan. Bahkan sepanjang tahun 2019, RTV konsisten di 10 besar ranking TV Indonesia versi AC Nielsen.

Sementara pada grafik Kompas TV, mereka berhasil mendapat “momen” saat Pemilu Serentak 2019, sidang MK gugatan hasil Pilpres, dan saat demo mahasiswa menolak revisi RKUHP di DPR-RI.

Baca juga: Saat Mahasiswa Berbaju Bengkel dan Bersepatu Safety Turun ke Jalan

Mari kita fokus pada grafik NET. Sejak Januari sampai April, perolehan share NET menunjukan penurunan. Hal ini terjadi saat mereka melakukan “pembungkusan” acara tahap pertama, memutar kembali acara kartun, hingga konten-konten beritanya yang berbeda 180 derajat.

Di saat Kompas TV sedang mendapat “momen” saat Pemilu Serentak lalu, grafik NET justru menunjukkan anomali. Pada tanggal 28 Mei 2019, perolehan share NET bisa mencapai 3,7. Saya belum menemukan ada momen apa yang membuat perolehan share NET bisa sebesar itu. Masalah lainnya, saya tidak berhasil menemukan data rating ketiga stasiun TV ATVNI dari tanggal 18 April hingga 27 Mei 2019.

Setelah bulan-bulan Pilpres lewat, perolehan share NET cenderung stagnan sampai akhir Juli 2019. Seakan, tren stagnan tersebut jeda sesaat selama proses Pilpres 2019 lalu. Perlu kamu tahu, pada bulan Juli lalu, NET mulai “membungkus” beberapa buletin berita mereka.

Saat isu PHK massal di NET terdengar publik – atau sepanjang bulan Agustus lalu -, perolehan share NET beranjak sampai 2,9. Sepertinya, sentimen publik yang ingin “menyelamatkan” NET di media sosial berhasil mendongkrak perolehan share mereka.

Namun pada 23 Agustus, tiba-tiba tren tersebut merosot jadi 2,2. Pada momen inilah, NET akhirnya mulai melepas idealisme mereka. Acara ikonik mereka dari awal mengudara, The Comment, resmi pamit.

Baca juga: #TheCommentBeneranPamit, Selamat Datang Era Baru NET

Lalu, semenjak NET “mencari jati diri baru” dari awal September hingga awal November, perolehan share mereka mulai stabil di antara 2,6 sampai 2,9. Hal ini saya duga disebabkan karena beberapa hal.

Pertama, karena performa acara primetime mereka, Ini Talkshow dan Tonight Show, cukup memperbaiki performa stasiun TV penyelenggara Indonesia Choice Award itu di tengah ombang-ambing yang mereka alami.

Kedua, karena acara baru mereka, Malam-Malam, berhasil menunjukkan performa yang lumayan. Berdasarkan data yang diperoleh dari AC Nielsen pada 19 November 2019, acara yang menggantikan slot The Comment itu mendapat share sebesar 5,7.

Ketiga, NET masih berkutat untuk “menarik perhatian” pemirsa RTV di kalangan anak-anak dengan menghadirkan acara kartun pada pagi dan sore hari. Ini merupakan salah satu strategi mereka yang masih bertahan sejak akhir tahun 2018 lalu. Bahkan, kini mereka menambah acara kartun yang bukan dari Cartoon Network, yaitu Captain Tsubasa.

Baca juga: Mengupas Perubahan NET di Awal 2019

2 bulan terakhir ini, efek dari strategi mereka mulai menunjukkan hasil positif. Sejak Oktober lalu, perolehan share NET akhirnya bisa kembali menyentuh angka 3. Peringkatnya dalam “tangga klasemen” pun kini paling tinggi berada di posisi 9, mengikuti RTV yang paling tinggi berada di posisi 8.

Meski perolehan share NET saat ini sudah lumayan, tetapi ternyata mereka saat ini lebih memilih untuk cari aman dan tidak terpaku pada share. Loh, kok begitu?

Menurut informan saya di internal NET, mereka saat ini lebih mengutamakan slot iklan di acara-acara mereka bisa terisi oleh iklan komersial. Yahh, bisa dibilang ini saatnya bagi kita untuk melihat iklan produk yang cukup banyak selama jeda acara NET. Hal yang dulu rasanya jarang banget dilakukan oleh mereka.

Baiklah, saya hanya bisa berharap semoga NET bisa memperbaiki kinerjanya di tahun 2020 mendatang. Meski begitu, saya agak pesimis karena bisnis televisi free to air (FTA) di Indonesia akan semakin terlihat trennya karena masih berhadapan dengan bisnis konten digital berbasis internet alias over the top (OTT).

Kalo gak begitu, mana mungkin MNC dan Emtek, yang dikenal bersaing lewat RCTI dan SCTV, bisa-bisanya ngumumin bakal collab dan tukeran saham.

Jangan lupa, follow Instagram @teddytv.xyz dan Twitter @TeddyTVxyz untuk update informasi dan literasi seputar penyiaran, transportasi, humaniora, dan gaya hidup.

Tulisan terkait

Mungkin kamu pengen baca ini juga

Persaingan MNC dan Trans Corp. Semakin Sengit

Jika anda melihat TV akhir-akhir ini,anda akan mengira bahwa kini sedang ada persaingan antar grup media.Jika anda berpikir demikian,maka pemikiran anda sama dengan pemikiran saya.Ya, dua grup media Indonesia,Trans Corp. dan MNC (Media Nusantara Citra) terlihat sedang bersaing untuk mengejar rating dan menghibur penonton dengan acara-acara unggulan mereka,tapi ternyata bukan hanya itu saja.Dua grup media […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *