Kaleidoskop Pertelevisian Indonesia 2019 versi TeddyTV.xyz

Sepanjang tahun 2019, berbagai momen terjadi di dunia pertelevisian Indonesia. Saya merangkumnya dalam artikel ini.

Sepanjang tahun 2019, berbagai momen terjadi di dunia pertelevisian Indonesia. Saya merangkumnya dalam artikel ini.

Waw, gak kerasa tahun 2019 udah mau berakhir. Kayaknya baru beberapa bulan yang lalu deh saya memindahkan blog ini dari hosting Blogspot yang gratisan ke hosting berbayar.

Ngomong-ngomong soal 2019, ternyata di tahun ini ada beberapa peristiwa penting yang terjadi dalam dunia pertelevisian di negara kita. Dari peristiwa yang bikin kamu bertanya “kok jadi begini sih sekarang?”, sampe yang bikin kamu terkaget-kaget “widihhh gokil nehhh”.

Meski beberapa peristiwa tersebut gak saya ulas di blog ini, tapi setidaknya saya sudah mencatatnya untuk ditulis dalam artikel ini. Oke, ini dia rangkuman peristiwa menarik di pertelevisian kita selama tahun 2019 ini.

 

1. NET mulai meninggalkan “idealisme”-nya

Saat awal mengudara pada tahun 2013 lalu, NET berkomitmen untuk menyajikan tayangan televisi yang berkualitas. Meskipun awal kemunculannya cukup kontroversial karena “mengambil” frekuensi stasiun TV anak, toh pada akhirnya NET bisa menunjukkan komitmen tersebut selama hampir 6 tahun.

Namun, semua berubah ketika negara api menyerang  performa rating yang diperoleh tidak berbanding lurus dengan pengeluaran yang “dibakar” selama mengudara. Bahkan, NET dikalahkan oleh saudaranya sesama anggota ATVNI yang ratingnya terdongkrak karena program anak. Itulohhh, yang nayangin kartun “bis kecil ramah”.

Baca juga: Dikala Idealisme NET Mulai Terbentur Realita

Alhasil pada awal tahun 2019 lalu, NET mulai mengikuti jejak saudaranya tersebut dengan menggandeng Cartoon Network. Akibatnya, beberapa acara mereka harus dikorbankan. Sarah Sechan, NET Soccer, dan acara-acara lainnya jadi “tumbal” angkatan pertama.

Pertengahan tahun, giliran acara buletin berita yang “masuk” gelombang kedua. Dimulai dari NET 10, Good Afternoon, Entertainment News, Indonesia Morning Show, NET 12, dan terakhir NET 24. Saking sedikitnya acara berita di NET saat ini, kabarnya ruang redaksi NET sedang dirombak (itulohh, yang biasa kamu liat di belakang news acnhor pas acara berita NET). Mungkin itu kenapa, akhir-akhir ini kita tidak melihat studio NET yang ikonik itu dipake.

“Dibungkusnya” acara-acara berita tersebut diikuti oleh penutupan kantor biro NET di daerah luar Jakarta. Salah satunya biro NET Jawa Barat yang ada di Bandung.

Perlahan tapi pasti, NET mulai meninggalkan idealisme-nya. Acara-acara baru yang menyasar masyarakat menengah ke bawah mulai bermunculan, seperti Sayang, Mak NET, dan Jalan Kesembuhan.

Beberapa acaranya pun mulai diisi dengan konten yang mengarah ke seks, seperti Rahasia Perempuan, Malam-Malam, Tonight Show, The Comment (episode-episode sebelum pamit), dan NET 24 (sebelum dibungkus).

Pengorbanan mereka pun cukup membuahkan hasil. Peringkat share NET dari data yang diperoleh AC Nielsen menunjukkan adanya kenaikan. Kamu bisa baca ulasannya dalam artikel saya di tautan ini.

Di kala NET sedang pontang-panting mengejar untung, salah satu pendirinya, Wishnutama, ditunjuk Presiden Jokowi sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dalam kabinet barunya. Peran Wishnutama di NET sebenarnya sudah tidak terlalu kentara sejak dia meninggalkan kursi CEO yang didudukinya selama hampir 6 tahun dan resmi menjabat komisaris utama.

Yahh bisa dibilang, tahun 2019 ini adalah tahun terberat bagi NET. Diet anggaran besar-besaran, ditinggal pendirinya jadi menteri, dan harus mengesampingkan idealismenya selama ini. Beruntung, pengorbanan mereka di tahun ini bisa mendongkrak performa mereka dan bisa kembali dipercaya oleh para pemasang iklan.

 

2. TVRI yang Mendadak Jadi Keren

Apa yang ada di benak kamu saat mendengar kata “TVRI”?

Dulu, mungkin kamu bakal bilang “kuno, acaranya gak seru, gambarnya burem kayak TV jadul”. Namun, bisa jadi kamu sekarang berdecak kagum sembari berkata….

Semenjak dinahkodai oleh Helmy Yahya, TVRI seketika mulai mengejar ketertinggalannya dari TV swasta. Presenternya kini muda-muda dan rupawan, kualitas gambarnya dibuat lebih jernih (bahkan bisa berkualitas HD kalo kamu nontonnya pake TV digital), serta mulai menayangkan kembali acara sepakbola.

Masih kurang greget?

Pada 29 Maret lalu, pria yang dikenal sebagai “Raja Kuis Indonesia” itu menggebrak publik dengan melakukan make overrebranding” terhadap stasiun TV pertama di Indonesia itu. Efek rebranding tersebut cukup buanyakk. Pecinta bulutangkis dan sepakbola semakin dimanjakan, acara-acaranya mulai diolah kayak profesional, hingga bergerak cepat untuk migrasi ke TV digital.

Liga Inggris, program olahraga termahal nomor 3 setelah Olimpiade dan Piala Dunia, tiba-tiba bisa didapatkan TVRI berkat hasil lobbying dengan Djarum, yang secara gak langsung memiliki Mola TV, pemegang lisensi penyiaran Liga Inggris sampai tahun 2021.

Namun belum setahun rebranding dilakukan, ehh Pak Dirut malah mau “didepak” sama Dewan Pengawas (walau cuma sementara sih). Pangkal masalahnya, bisa jadi ada hubungannya saat TVRI mengikuti Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan DPR-RI. Seperti yang tergambar dalam meme berikut…

Kisruh tersebut sontak membuat masyarakat jadi gak abis pikir sama Dewan Pengawas TVRI sekarang ini. Bahkan, ada warganet yang mencurigai hubungan Ketua Dewan Pengawas dengan salah satu stasiun TV. Well, kita tunggu aja kelanjutan dari penyelesaian kisruh ini.

 

3. Panasonic Award Pindah ke Indosiar

Setelah 20 tahun selalu disiarkan oleh RCTI dan stasiun TV di bawah naungan MNC Group, akhirnya ajang apresiasi dalam penyiaran Indonesia itu mulai disiarkan di stasiun TV lain. Untuk tahun 2019, Indosiar dipercaya (kembali) menayangkan Panasonic Award.

Perlu kamu tahu, bahwa Indosiar adalah stasiun TV yang menayangkan Panasonic Award untuk pertama kalinya. Ajang tersebut digelar saat stasiun TV dengan maskot “ikan” itu masih berada di naungan Grup Salim. Jadi, momen ini juga sekaligus momen kembalinya penayangan Panasonic Awards di Indosiar.

Kontroversi yang selalu hadir tiap ajang ini digelar di stasiun TV milik MNC, setidaknya tidak terlihat saat ajang ini tayang di Indosiar. Walau sebenernya masih ada peluang muncul kontroversi, karena Indosiar kini dimiliki oleh Emtek, yang menguasai saham SCTV.

Bisa saja, momen tersebut menjadi ajang “balas dendam” SCTV terhadap RCTI yang selama menayangkan awarding tersebut selalu terlihat unggul.

Namun melihat daftar pemenangnya pada tahun ini, saya bisa agak percaya dengan kualitas penjurian di Panasonic Award tahun ini. Hal tersebut karena tidak ada acara yang cuma tayang sebentar tetapi bisa menang nominasi, serta tidak ada dominasi berlebihan dari stasiun TV tertentu.

Meski lucunya, acara anugrah pertelevisian “tandingan” dari MNC, Indonesian Television Awards, malah menang di Panasonic Award dalam nominasi acara khusus terfavorit. Lah, kumaha caritana? (Sunda: gimana ceritanya?)

 

Lihat postingan ini di Instagram

 

Sebuah kiriman dibagikan oleh PGA Awards (@pgaawards) pada

4. INTV Ganti Haluan jadi “TV Perempuan”

Berawal dari stasiun TV lokal di Banten, lalu memperluas jangkauannya ke beberapa daerah, INTV kemudian dipinang oleh Dato Sri Tahir, pemilik Mayapada Group, dan berganti nama jadi MyTV.

Pergantian nama tersebut sekaligus mengubah konsep acara yang mulanya untuk keluarga menjadi berorientasi perempuan. Bahkan, MyTV mengklaim sebagai stasiun TV perempuan pertama di Indonesia.

MyTV, stasiun TV perempuan pertama di Indonesia | Tangkapan layar dari Useetv.com

Dilansir dari CNBC Indonesia, pergantian nama tersebut seiring terjadinya akuisisi saham INTV oleh Mayapada Group. Hal tersebut dibicarakan Tahir dengan pemilik INTV, Wawan Setiawan.

“Kita bicara, lalu beliau menawarkan saya pegang 90%. Pak Wawan dari sisi stakeholder 10% karena lebih mengerti (televisi) daripada saya,” ujar Tahir di Mayapada Tower, Senin (15/10/2018).

Sebelum mengakuisisi saham INTV, Tahir melalui Mayapada Group juga memiliki beberapa perusahaan media, mulai dari Forbes Indonesia, ELLE, dan Topas TV. Selain itu, Mayapada Group juga membeli 20 persen saham Rajawali TV (RTV), stasiun TV nasional yang dikelola oleh Rajawali Corporation, milik konglomerat Peter Sondakh.

10 bulan setelah MyTV mengudara, sepertinya MyTV mulai menyadari orientasi kontennya untuk perempuan sedikit “ora mashook” bagi masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, acara-acara kartun yang ditayangkan saat masih bernama INTV ditayangkan kembali sejak awal Desember lalu.

5. TV Digital Di-launching (Ulang)

Setelah ratusan purnama menanti yang tak pasti, akhirnya Indonesia mulai menabuh gong persiapan migrasi TV analog ke TV digital.

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) secara resmi meluncurkan siaran perdana TV digital di wilayah perbatasan, tepatnya di Nunukan, Kalimantan Utara; juga di Batam dan Jayapura, pada 31 Agustus 2019 lalu.

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Rudiantara, mengatakan, inisiasi perpindahan ke TV digital sebenarnya sudah dilakukan sebelum 2010. Namun, implementasinya memang “dilakukan secara bertahap“.

Dikutip dari Antara, Kementerian Kominfo telah memiliki strategi migrasi penyiaran digital dan penyiapan payung hukum dalam menghadapi Analog Switch-Off (ASO). Isu tersebut sudah masuk ke dalam fokus program kerja mereka pada tahun 2020.

Peluncuran TV digital di Nunukan, Kalimantan Utara | Foto: Liputan6.com

Pada Januari 2020, 12 provinsi ditargetkan sudah menggelar penyiaran simulcast, atau siaran digital dan analog secara bersamaan. Selanjutnya, pada Maret 2020, pemerintah akan melakukan persiapan  simulcast di 22 provinsi.

Terkait ganjalan utama migrasi TV digital, yaitu UU Penyiaran, revisinya ditargetkan rampung pada Desember 2020.

Kemudian pada April 2021, siaran simulcast ditargetkan sudah digelar di seluruh Indonesia. Hingga puncaknya pada April 2022, siaran TV analog dapat beralih seluruhnya ke digital. Lebih tepatnya pada Hari Penyiaran Nasional 2022.

Terkait simulcast, beberapa stasiun TV menyatakan kesiapannya. TVRI, Metro TV, dan Trans Media, menjadi yang pertama menyatakan kesiapannya. Kabar terbaru, Kompas TV dan Jawapos TV menyusul untuk ikut simulcast.

Yahhh semoga aja strategi migrasi TV digital kali ini benar-benar bisa dilaksanakan dengan baik yah. Kita tunggu aja realisasinya 2020 mendatang.

 

6. MNC dan Emtek Bosen Saingan
CEO PT Surya Citra Media Sutanto Hartono dan Direktur Utama MNC David Fernando Audy | Foto: Liputan6.com

Persaingan televisi terestrial dengan platform OTT sepertinya semakin ketat. Sampe-sampe, dua grup media terkemuka, MNC dan Emtek, tiba-tiba mau kolaborasi untuk ngembangin usaha mereka di luar bisnis televisi gratis (FTA).

Rencana kolaborasi dua perusahaan media televisi FTA tersebut pertama kali diungkapkan oleh analis pasar modal dari Mirae Asset Sekuritas, Christine Natasya. Christine adalah salah satu orang yang bertemu dengan perwakilan dari kedua perusahaan terkait potensi kerja sama.

“Dua kelompok media terbesar itu akan kolaborasi pada beberapa proyek dan perjanjian mengenai tarif, yang dalam pandangan kami akan berdampak positif pada profitabilitas dan margin kedua perusahaan,” kata Christine.

Sekilas, kerjasama antar perusahaan ini menjadi hal lumrah dalam bisnis. Namun, mengingat persaingan antara dua grup media ini, yang diwakili oleh stasiun TV RCTI dan SCTV, membuat saya sendiri bertanya-tanya:

“Kok ini tumben RCTI sama SCTV akur? Lagi bosen saingan napa?”

Adapun kerjasama yang akan dilakukan oleh kedua grup media tersebut diantaranya:

  • menyepakati harga dan diskon maksimal yang akan diberikan kepada pengiklan
  • keduanya akan menetapkan hari pengumpulan pendapatan menjadi tiap tiga bulan, dari yang sebelumnya tiap empat bulan.
  • kerjasama cross-selling inventaris yang tidak terjual selama waktu non-primetime dengan membagikan komisi sebagai imbalan.
  • keduanya akan memproduksi konten bersama yang dapat ditonton di platform OTT masing-masing (RCTI+ dan Vidio.com)
  • bakal pengaturan pertukaran saham antara perusahaan berkode emiten MNCN dan SCMA ini.

Hmm poin terakhir ini menarik, karena ada acara pertukaran saham segala. Ini bikin saya membayangkan suatu saat RCTI dan SCTV kembali bersatu di bawah naungan Bimantara Citra ((=

Sebuah khayalan tingkat tinggi setinggi-tingginya wkwkwk

Kalo kamu penasaran, berikut ini adalah rekaman acara penandatangan MoU antara kedua belah pihak.

 

7. KPI Mau Perluas Jangkauan ke Platform Digital
Ketua KPI 2019-2022, Agung Suprio | Fot: CNBC Indonesia

Nah, kalo sebelumnya saya bahas soal kerjasama dua grup media yang sama-sama harus berperang dengan konten digital, kita beralih ke momen lainnya yang berhubungan dengan konten digital.

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) baru aja dipimpin oleh jajaran pengurus baru. Gak baru-baru amat sih, toh cuma beda jabatan tapi wajah tetap sama. Kali ini, Agung Suprio yang didaulat untuk memimpin lembaga independen amanat UU Penyiaran ini.

Baru aja menjabat, ketua baru udah tuai “keributan”. Dia ingin lembaganya itu mengawasi platform digital, seperti Netflix dan Youtube.

Agung mengakui berdasarkan UU nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran, KPI memang diberi tugas untuk mengawasi media TV dan radio. Namun dia berkilah kalau regulasi itu dibuat saat belum ada media baru.

“Kalau generasi digital, digital native yang lahir di era baru ini mereka sudah lebih banyak mengonsumsi media baru daripada media konvensional. Ini yang perlu diawasi agar sesuai dengan filosofi atau kepribadian bangsa,” begitu kata Agung saat dihubungi CNN Indonesia, Kamis (8/8/2019).

Sementara itu, Kementerian Kominfo dukung-dukung aja sih rencana KPI tersebut. Namun, hal itu belum tentu menjadi kewenangan KPI karena regulasinya belum ada.

“Pengawasan konten di layanan streaming harus memiliki aturan main yang berbeda,” kata Direktur Penyiaran Kementerian Kominfo, Geryantika Kurnia, mengutip Kompas.com.

Sekilas, kabar ini bikin content creator di Youtube dan penikmat film-film Netflix khawatir. Namun, Agung memastikan “tak akan memberikan sanksi langsung kepada kreator konten yang telah membuat konten melanggar.”.

Menurut dia, hal tersebut dilakukan agar industri kreatif di Indonesia terjaga dengan baik. Oleh karena itu, para content creator akan diposisikan sebagai subjek, bukan objek pengawasan.

Yahh, meskipun rencana tersebut akhirnya melempem, tetapi saya rasa pengawasan kualitas konten di Youtube oleh pemerintah harus segera ditegakkan sih. Terlebih, sepanjang tahun ini mulai bermunculan video-video prank gak jelas yang memakan korban. Mulai driver ojek online, hingga pengendara sepeda motor. Oh iya, tak lupa video artis cum Youtuber yang “turun kasta” jadi gelandangan.

 

Well, mungkin itu dia momen-momen penting yang terjadi dalam pertelevisian Indonesia sepanjang tahun 2019. Kita lihat aja momen apalagi yang akan terjadi di tahun 2020 mendatang. Tentu saja, isu TV digital masih menarik untuk dipantau tahun depan.

Apakah ada momen pertelevisian lainnya yang belum saya bahas dalam tulisan ini? Kamu bisa menuliskannya di kolom komentar (;

Jangan lupa, follow Instagram @teddytv.xyz dan Twitter @TeddyTVxyz untuk update informasi dan literasi seputar penyiaran, transportasi, humaniora, dan gaya hidup.

Tulisan terkait

Mungkin kamu pengen baca ini juga

Ada apa dengan B Channel?

Kabar kejutan lainnya datang dari B Channel. Stasiun TV yang “malu” mengaku bersiaran nasional ini dikabarkan akan berganti nama dan logo di bulan Mei 2014.

Selamat atas Perubahan Namanya, Rajawali Televisi

Sabtu, 3 Mei 2014, menjadi hari yang bersejarah bagi B Channel. Pada tanggal itu, B Channel mengudara untuk terakhir kalinya. Karena mulai Sabtu malamnya, B Channel secara resmi berganti nama menjadi Rajawali Televisi atau RTV. Sebenarnya pihak B Channel sendiri sudah menggembar-gemborkan nama baru ini di fanpage dan twitter B Channel serta melalui konfrensi pers […]

3 Comments

  1. Yang menarik mengenai PGA 2019 adalah ketika hak siar sudah berpindah tangan ke Indosiar, rupanya MNC Group khususnya melalui RCTI tetap mendominasi perolehan gelar jika dihitung-hitung. Seolah-olah RCTI / MNC Group ingin membuktikan bahwa isu kecurangan yang dialamatkan pada mereka pada saat memegang hak siar PGA sama sekali tidak bisa dipertanggungjawabkan.

  2. Akuisisi K-Vision oleh MNC setelah “ditinggal” lama sama Kompas Gramedia = Juli 2019

    Akuisisi LinkNET + First Media oleh MNC dari Lippo = Desember 2019

    Rebranding logo Elshinta TV di hari jadinya yang ke-5 tahun = September 2019

    Nexmedia resmi berganti nama menjadi Nex Parabola = September 2019

    The First Comedy Network (satu induk dengan NET.) resmi ditutup = September 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *