Saat TV Indonesia Iringi Kepergian Tien Soeharto

Meski peralatan siaran kala itu belum secanggih sekarang, sejarah baru pertelevisian Indonesia telah terjadi saat istri dari penguasa Indonesia 32 tahun itu meninggal dunia.

Ani Yudhoyono, istri dari Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono, mengembuskan napas terakhir di National University Hospital (NUH), Singapura, Sabtu 1 Juni 2019 pukul 11.50 waktu setempat. Beliau meninggal dalam usia 66 tahun karena penyakit kanker darah yang dideritanya sejak Februari lalu.

Jenazah dari ibu negara bernama lengkap Kristiani Herrawati Yudhoyono tersebut dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan, pada Minggu sore (2/6/2019). Sejumlah tokoh nasional mendatangi pemakaman beliau. Mulai dari Presiden Joko Widodo, Megawati Sukarnoputri, BJ Habibie, Budi Waseso, dan lainnya.

Tak hanya tokoh-tokoh nasional, jutaan mata masyarakat Indonesia juga menyaksikan momen-momen terakhir beliau masuk ke liang lahat melalui layar televisi. Beberapa stasiun televisi di Indonesia terpantau menayangkan secara langsung prosesi pemakaman mantan ibu negara dari presiden RI keenam tersebut.

Program reguler yang biasa ditayangkan oleh stasiun TV pada hari itu tidak ditayangkan untuk menyiarkan momen-momen yang bisa dibilang sebagai duka bagi bangsa Indonesia tersebut. Bahkan, ada beberapa stasiun TV yang secara non stop menyiarkan momen-momen menjelang pemakaman Bu Ani, sapaan khas beliau, dimulai saat jenazahnya tiba di Bandara Halim Perdanakusumah, Jakarta.

Kondisi stasiun TV di Indonesia tersebut bisa jadi mengingatkan publik saat ibu negara lainnya, Siti Hartinah, istri dari Presiden RI ke-2, Soeharto, meninggal dunia pada 28 April 1996. Semua stasiun TV (yang hanya berjumlah 6 saat itu) serempak menghentikan program regulernya dan menayangkan secara langsung proses kedatangan jenazah Bu Tien, panggilan beliau, dari rumah sakit hingga dikebumikan di Astana Giri Bangun, Jawa Tengah, pada keesokan harinya.

Tayangan non stop selama 25 jam tersebut dilaporkan secara khusus oleh majalah televisi kala itu, Vista TV. Tak tanggung-tanggung, majalah tersebut mendedikasikan 5 artikel dalam 10 halaman yang terbit di edisi ke-17 tahun ketiga, tanggal 12 Mei – 25 Mei 1996. Artikel saya kali ini akan merangkum beberapa hal menarik dari kumpulan artikel tersebut seputar momen bersejarah bagi pertelevisian Indonesia saat itu.

Inisiatif Pertama Bukan Dari TVRI

Pada masa Orde Baru, TVRI dijadikan sebagai penyelenggara siaran bagi semua acara kenegaraan. Semua stasiun TV swasta kala itu dikenakan aturan “wajib relay” atau menyiarkan bersama tayangan tersebut, seperti yang diatur dalam SK Menteri Penerangan No.111 Tahun 1990 Bab V tentang Kerjasama Penyiaran.

Sebenarnya, TVRI bisa saja menjadi koordinator siaran langsung saat almarhumah Bu Tien dikabarkan meninggal dunia di rumah sakit. Stasiun TV yang kini menjadi TV Publik itu sudah mendapat kabar duka tersebut sejak pukul 6.30 WIB dari kantor Menteri Sekretariat Negara RI lewat telepon. Namun, mereka tidak langsung bergerak pada saat itu juga.

“Kami ‘kan harus check and recheck dulu”, kata Drs. Yon Anwar, yang saat itu menjabat sebagai Kepala Seksi Reportase Penerangan di Bagian Pemberitaan TVRI, ketika dimintai alasannya oleh reporter Vista TV.

Mereka baru bisa keakuratan kabar tersebut saat Menteri Agama RI kala itu, Dr. Tarmizi Taher, mengumumkannya di Masjid Istiqlal. Meski pengumuman telah disampaikan secara resmi, mereka masih bersikap hati-hati dalam menyebarluaskan berita yang sifatnya sensitif tersebut.

Saat mereka hendak melaporkan berita duka tersebut, mereka mengalami hambatan. Sebagian besar peralatan siaran mereka, khususnya OB Van (kendaraan yang memuat peralatan kendali siaran luar ruangan), sedang berada di Yogyakarta untuk persiapan acara peringatan Hari Pendidikan Nasional. Sedangkan satu OB Van lainnya sedang digunakan untuk siaran langsung Sholat Idul Adha di Masjid Istiqlal, yang acaranya disiarkan oleh semua stasiun TV.

Hambatan itulah yang membuat TVRI kalah cepat oleh RCTI. Peter F. Gontha, salah seorang pendiri RCTI, berinisiatif untuk meliput secara langsung proses pemakaman agung tersebut. Setelah menerima kabar duka dari almarhumah, Peter langsung menelpon produser PT Sindo Citra Media (rumah produksi internal khusus program berita RCTI, selanjutnya disebut PT Sindo), yang kala itu dijabat oleh Edi Putra Dewa, untuk menanyakan kemungkinan kerja besar mendadak itu dilakukan.

Chrys Kelana, Direktur Utama PT Sindo saat itu, awalnya tidak terpikir untuk melakukan siaran langsung lantaran persoalan izin yang rumit. Karena mempertimbangkan kepentingan nasional, Peter mencari jalan keluar untuk bisa melakukan ide tersebut. Hingga akhirnya, beliau menemukannya dan ide beliau itu langsung dieksekusi.

Semua Berkat TV Pool

Bambang Wahyudi, yang kala itu menjabat sebagai Koordinator Transmisi RCTI, baru saja menunaikan sholat Ied bersama keluarganya saat menerima kabar duka tersebut. Dia langsung bergegas ke kantornya di Kebon Jeruk, Jakarta. Stafnya lalu ditugaskan menuju rumah keluarga besar Soeharto di Cendana, sembari membawa perangkat pengirim dan penerima gelombang mikro (portable microwave), semacam stasiun transmisi mini.

Staf tersebut berangkat bersama beberapa kameramen dan reporter dari PT Sindo yang berencana meliput dari sana. 15 menit kemudian, mereka menyatakan siap mengirim audio-video hasil liputan ke kantor RCTI.

Namun, kendala menghadang mereka. Kiriman audio-video dari mereka terhalang bangunan pencakar langit Jakarta yang berjejer di sepanjang “jalur” Cendana-Kebon Jeruk. Hal tersebut terjadi karena gelombang mikro memiliki sifat difraksi, yaitu perubahan arah gelombang ketika melewati sebuah celah atau sebuah penghalang.

Untuk mengakalinya, Bambang menugaskan staf lainnya untuk menyiapkan portable microwave kedua di puncak gedung Bank Bumi Daya di Jl. Imam Bonjol. “Dari pengalaman kami, lokasi gedung itu berada pada line off side, daerah bebas halangan untuk pancaran gelombang mikro,” ujar Bambang.

Kendala serupa juga dihadapi tim RCTI saat meliput peristiwa itu dari Bandara Halim Perdanakusumah. Karena itu, Portable microwave kedua dipasang di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, yang juga berada di area line off side.

Kiriman gambar tersebut lantas diterima oleh Transmisi RCTI dan diteruskan oleh ruang kontrol ke studio 5 RCTI, yang dikelola oleh PT Sindo. Dari studio inilah, semua proses produksi acara televisi dilakukan. Mulai dari pemilihan gambar dari kamera mana yang akan ditampilkan, pengisian teks dan running text, sinkroniasi gambar dengan pantauan reporter, hingga menyisipkan data-data tambahan seputar kiprah Bu Tien selama menjadi Ibu Negara.

Hasil olahan dari studio lalu dikembalikan ke transmisi RCTI untuk disiarkan ke rumah-rumah pemirsa. Untuk pemirsa di Jabodetabek, tayangan dipancarkan lewat frekuensi UHF. Sedangkan untuk pemirsa di luar Jakarta, tayangan dikirim dulu ke satelit Palapa C1 untuk selanjutnya dipancarkan ulang oleh stasiun transmisi RCTI di seluruh Indonesia.

Bagi stasiun TV selain RCTI yang hendak melakukan relay tayangan tersebut, mereka harus menyesuaikan posisi parabola penerima siaran di stasiun transmisi milik mereka dengan posisi transponder RCTI di satelit Palapa C1, yang saat itu berada di posisi 3 Horizontal dan kanal 5. Hingga akhirnya, seluruh stasiun TV bisa kompak menyiarkan acara yang diinisiasi oleh RCTI itu kepada pemirsanya masing-masing. Seluruh alur tersebut kemudian disebut sebagai TV Pool.

Dalam sebuah artikel di Kompasiana, akun bernama “Om Brill” memberi definisi TV Pool sebagai sebuah peliputan atau siaran bersama dengan satu stasiun televisi yang in charge (baca: bertugas) memproduksi peliputan tersebut. Bisa dikatakan, TV Pool adalah nama lain dari jaringan siaran suatu acara dalam penyiaran televisi.

Pelaksanaan TV Pool dalam dunia penyiaran adalah hal lumrah. Berbagai event-event yang berskala regional, nasional, dan internasional, bisa ditayangkan di layar kaca Anda berkat TV Pool. Mulai dari event olahraga seperti Olimpiade, Piala Dunia, dan Asian Games, yang baru saja negara kita helat tahun lalu; hingga Sholat Idul Fitri dan Idul Adha dari Masjid Istiqlal yang menjadi tradisi rutin stasiun TV negara kita.

Saat Sinergi Mulai Terbentuk

Lantas, bagaimana awal mula kekompakan 6 stasiun TV nasional kala itu dalam mengiringi kepergian Bu Tien Soeharto?

Saat Peter Gontha ikut membantu pemasangan portable microwave di gedung Bank Bumi Daya, beliau bertemu dengan Direktur Utama Indosiar saat itu, Angky Handoko. Mereka berbincang singkat dan hasilnya Indosiar akan bergabung menyiarkan langsung pemakaman Bu Tien dari RCTI.

Di saat TVRI dan RCTI sudah mendapat kabar duka dari negara, SCTV pun sudah menerimanya dan berniat untuk meliput peristiwa tersebut. Namun, niat itu urung saat mendengar rencana RCTI.

“Kami minta bergabung saja,” kata Edi Elisson, yang saat itu sebagai Redaktur Eksekutif Liputan 6 SCTV.

Akhirnya, pimpinan dari 3 stasiun TV (RCTI, SCTV, dan Indosiar) berunding. Hasil perundingan tersebut menyepakati dimulainya siaran liputan langsung pada pukul 11.00 WIB dan masing-masing stasiun TV akan menayangkan acara itu serentak dengan menetapkan RCTI sebagai pelaksana utama. Segala logo dari masing-masing stasiun TV dihilangkan dari layar dan mereka akan mengirim krunya ke studio 5 RCTI dan di lapangan.

Sekitar pukul 13.30 WIB, datang permintaan untuk bergabung dari TPI (kini MNC TV). Kemudian ANTeve menyusul. TVRI menjadi stasiun TV terakhir yang bergabung karena terhalang birokrasi dalam memutuskan ikut dalam kerjasama tersebut.

Bergabungnya 5 stasiun TV swasta dan 1 stasiun TV pemerintah dalam satu siaran, membuat sebuah sinergi terbentuk secara otomatis. Walaupun, peran dominan RCTI terlihat jelas dalam siaran tersebut.

Awalnya, RCTI mengirim 3 set portable microwave dan 3 teknisi dari Solo untuk meliput peristiwa dari rumah duka di Kalitan dan Karang Anyar. Karena keterbatasan teknis, RCTI dibantu oleh Indosiar dan PT Telkom. Indosiar mengirim dua OB Van. Satu OB Van, yang kebetulan sedang berada di Semarang untuk produksi acara “Pesta”, untuk meliput suasana duka dari Karang Anyar. Satu OB Van lainnya yang sedang membuat rekaman pegelaran Wayang di Solo, ditugaskan ke kediaman Soeharto di kota tersebut yang berada di Jl. Kalitan.

Siaran dari kedua daerah tersebut dipancarkan ke Jakarta dengan fasilitas terestrial milik Telkom. Namun, fasilitas tersebut hanya sampai ke kantor pusat Telkom di Jl. Gatot Subroto. Oleh karena itu, siaran dikirimkan telebih dulu ke pemancar TVRI di Senayan agar bisa diterima oleh RCTI.

Sayangnya, kualitas gambar yang diterima ternyata tidak sesuai harapan dan tidak diketahui penyebabnya. Kemudian, RCTI menghubungi Indosat agar transmisi mereka bisa menggunakan fasilitas microwave atau fiber optik milik Indosat. Indosat pun setuju dan RCTI bisa menggunakan fasilitas dari Indosat tersebut.

Keesokan harinya, saat pemakaman Bu Tien di Astana Giri Bangun, giliran TVRI menjadi komandan lapangan. Dengan bantuan fasilitas portable up-link milik Telkom, siaran bisa langsung dikirim ke satelit Palapa B2R. Sehingga, markas pusat TV Pool di RCTI tinggal menerimanya untuk diolah oleh studio.

Para presenter dari semua stasiun TV berfoto bersama di Studio 5 RCTI, Jakarta | VistaTV
Sementara itu di Studio 5 Kebon Jeruk

Selain dari sisi teknis, sinergi pun terjalin di studio 5 RCTI. Sesuai kesepakatan awal antara RCTI, SCTV, dan Indosiar, masing-masing stasiun TV mengirimkan krunya dalam siaran langsung tersebut. Vista TV merinci jumlah kru masing-masing stasiun TV yang terlibat, diantaranya:

  • RCTI = sekitar 100 kru yang terdiri dari tim teknis, reporter, cameramen, termasuk Chyrs Kelana (Dirut PT Sindo)
  • TVRI = 12 orang kru dan 4 reporter di Jakarta; serta beberapa kru TVRI Yogyakarta
  • SCTV = 5 reporter, 2 cameramen, dan 7 kru di Jakarta; serta 2 kru di Solo
  • TPI = 3 presenter di Studio 5 RCTI
  • ANTeve = 3 presenter di Jakarta dan 2 presenter di Solo
  • Indosiar = 47 kru dan 11 cameramen (kebetulan sedang melakukan produksi acara di Semarang)

Bantuan kru tersebut sangat membantu RCTI, selaku pelaksana siaran, dalam melakukan siaran langsung tersebut. Apalagi, saat itu bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha dan hari Minggu, dimana sebagian besar karyawan dan wartawan sedang menunaikan sholat ied di masjid bagi yang beragama Islam dan beribadah di gereja bagi pemeluk Kristen.

“Ini pengalaman tersulit yang saya hadapi selama menjadi reporter. Kalau hari biasa, reporter yang hadir bisa 40 sampai 60 orang,” imbuh Dian, salah seorang reporter PT Sindo yang saat itu sedang piket bersama 9 reporter lainnya.

Yang dikemukakan Dian benar adanya. Kebanyakan reporter yang bertugas kala itu harus melaporkan berita eksklusif tanpa bekal pengetahuan yang banyak. Terlebih, peristiwa yang diliput adalah berita berskala internasional. Informasi yang akurat, juga tak melulu berupa laporan pandangan mata di lapangan, jelas sangat diperlukan saat itu.

Untuk memperdalam materi siaran langsung, sebagian reporter ditugaskan untuk mencari literatur terkait hal-hal manusiawi yang berhubungan dengan Sang Ibu Negara. Mulai dari kliping, buku, surat kabar, dan majalah. Peter F. Gotntha bahkan sampai harus menghubungi beberapa toko buku untuk mencari buku tentang Ibu Tien Soeharto yang ditulis oleh Abdul Gafur, mantan Menteri Pemuda dan Olahraga pada Kabinet Pembangunan III dan IV. Pada akhirnya, semua materi tersebut dipilah dan bisa tersampaikan dengan baik ke seluruh pemirsa di Tanah Air.

Kekompakan Yang Tak Menghitung Materi

Lagu Gugur Bunga mengiringi momen di saat almarhumah Bu Tien Soeharto dimasukkan ke dalam pusara. “Adegan” tersebut sekaligus menjadi akhir dari siaran langsung semua stasiun TV Indonesia dalam mengiringi kepergian Bu Tien Soeharto. Berbagai pujian disuarakan oleh berbagai pihak, termasuk Menteri Penerangan kala itu, Harmoko.

Semua persiapan teknis sudah dikerahkan, walau teknologi penyiaran yang digunakan saat itu tidak bisa dikatakan efisien. Andai teknologi penyiaran negara kita dulu sudah secanggih sekarang, mungkin RCTI cs tak perlu menggandeng 2 perusahaan telekomunikasi plat merah untuk membantu transmisi gambar dan suara dari lapangan ke Jakarta.

Imbasnya, ada dana yang harus dikeluarkan. Mulai dari sewa transponder satelit, jasa up-link Video TV, sewa peralatan, dan biaya-biaya lainnya. Jika ditotal, pengeluaran untuk siaran peristiwa nasional tersebut mencapai 7 miliar Rupiah. Nilai tersebut didapatkan dengan asumsi pada tahun 1996, tingkat inflasi berada pada nilai 6,47% dan kurs Rupiah terhadap Dolar AS pada tahun 1996 sebesar Rp 2.383,-.

Pengeluaran tersebut belum termasuk dengan pengeluaran dari masing-masing stasiun TV per jam siarannya, serta kehilangan pemasukan kurang lebih 2 miliar Rupiah akibat tidak menayangkan iklan selama 25 jam. Menurut sumber yang diperoleh Vista TV, rincian potensi pendapatan stasiun TV yang hilang adalah sebagai berikut:

  • RCTI = Rp 1,2 miliar
  • SCTV = Rp 1 miliar
  • Indosiar = Rp 700 juta
  • ANTeve = Rp 600 juta
  • TPI = Rp 650 juta
  • TVRI = tidak ada, karena tidak diperbolehkan menayangkan iklan.

Meski biaya yang harus ditanggung tidak kecil, namun bagi Produser Pelaksana PT Sindo kala itu, Adolf Pasumah, persoalan itu “kurang eris untuk diungkap karena kepentingan nasional”. Hal senada juga dikemukakan oleh Kasubdit Pemberitaan TVRI saat itu, Drs. Baruna Sudirman. “Saat kami bergabung, tak terpikir berapa biaya yang harus ditanggung,” ujar Baruna.

Pihak pemasang iklan pun tak keberatan atas vakumnya iklan TV selama siaran itu berlangsung. “Klien kami tak protes akan penghentian itu. Semua sudah tahu dua hari itu adalah hari berkabung nasional,” kata Setiawan, yang saat itu bekerja sebagai Media Planner di sebuah biro iklan di Jakarta.

Pernyataan Iwan dipertegas oleh Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (PPPI), yang diwakili oleh anggotanya yang saat itu sekaligus pemilik Polyama Ad, Fahri Muhamad.

“Kami tak merasa dirugikan, karena itu acara mendadak. Apalagi menyangkut kepentingan nasional,” ujar Fahri.

Selain menjadi poin sejarah bagi bangsa Indonesia, peristiwa meninggalnya Bu Tien Soeharto menjadi babak baru dalam sejarah pertelevisian Indonesia, dimana siaran bersama yang bersifat kenegaraan tak melulu dikoordinir oleh TVRI selaku TV Pemerintah saat itu.

Meskipun teknologi penyiaran televisi di Indonesia kala itu belum secanggih sekarang, hal tersebut tidak menjadi halangan bagi semua stasiun TV untuk menanggalkan sementara bendera persaingan dan menunjukkan rasa nasionalisme mereka untuk terlibat dalam peristiwa penting kenegaraan. Kita tentu berharap rasa tersebut terus terpatri dalam diri karyawan serta pemilik stasiun TV jaman kiwari. Semoga saja.

Tulisan terkait

Mungkin kamu pengen baca ini juga

MyTV Resmi Hadir Sebagai Televisi Perempuan Pertama di Indonesia

Jakarta, TeddyTV.xyz – MyTV, stasiun televisi khusus perempuan pertama di Indonesia, resmi mengudara kemarin (2/2/2019) mulai pukul 15.55 WIB. Stasiun televisi yang dikembangkan oleh Dato Sri Tahir, pemilik Mayapada Group, tersebut, merupakan rebranding dari INTV, yang sahamnya telah diakuisisi pada tahun 2018 lalu. Dilansir dari CNBC Indonesia, akuisisi saham tersebut telah dibicarakan Tahir dengan pemilik […]

4 Comments

      1. sama2 bosku, buat di IG coba bosku account teddytv nya, tapi nanti arahin ke website, biar gampang gitu cari judulnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *