Siaran Liga Inggris, Dulu dan Sekarang

Bicara Liga Inggris, pasti bakal ngomongin juga harga hak siarnya. Kira-kira, gimana upaya TV negara kita untuk dapetinnya, dari dulu sampai sekarang?

Bicara Liga Inggris, pasti bakal ngomongin harga hak siarnya. Kira-kira, gimana upaya TV negara kita untuk dapetinnya, dari dulu sampai sekarang?

Siapa sih yang gak tau Liga Inggris?

Kompetisi sepakbola asal negeri Ratu Elizabeth itu sudah dikenal sebagai liga sepakbola berkualitas di dunia. Kelompok pendukung tim-tim yang berlaga di liga tersebut bahkan sudah bermunculan di Indonesia. Populernya Liga Inggris di negara kita sangat berkaitan erat dengan peran beberapa stasiun TV yang pernah menyiarkannya di awal 90-an sampai sekarang.

Awal tahun 2020, tayangan Liga Inggris di negara kita agak sedikit berbeda. Bukan karena pertandingannya, melainkan soal hak siarnya di televisi. Dewan Pengawas LPP TVRI menjadikan hal tersebut sebagai salah satu alasan pemecatan Helmy Yahya sebagai Direktur Utama TVRI, pada Kamis (16/01/2020) lalu.

Kabar itu sampai juga ke wakil rakyat. Komisi I DPR memanggil pihak-pihak yang berkonflik dalam bentuk Rapat Dengar Pendapat (RDP) pada waktu yang berbeda-beda sejak 21 Januari lalu.

Pada RDP terakhir di tanggal 28 Januari, giliran Helmy Yahya yang dipanggil. Dalam RDP tersebut, beliau mengklarifikasi dasar-dasar pemecatan dirinya dianggap tidak benar, termasuk soal Liga Inggris. Raja Kuis Indonesia itu menyampaikan alasan TVRI lebih memilih Liga Inggris ketimbang liga dalam negeri.

“Ada yang tanya kenapa (TVRI) tidak beli Liga Indonesia? Liga Indonesia harganya empat kali lipat, lima kali lipat dari Liga Inggris,” kata Helmy di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.

Sebentar, semahal itukah hak siar Liga Indonesia?

“Gimana gak mahal, dengan harga segitu, kita bisa menyaksikan sepakbola, pencak silat, gulat dan tinju, dalam satu pertandingan,” komentar beberapa netizen yang juga menyindir pertandingan sepakbola Indonesia yang kadang jadi ajang “baku hantam”.

Kembali ke Liga Inggris. Pernyataan HY tersebut dikomentari oleh Reva Deddy Utama, Direktur Sports & Programming tvOne. Sebagai informasi, tvOne memegang hak siar Liga 2, kompetisi sepakbola Indonesia di bawah Liga 1.

Dikutip dari Kumparan, Reva mengatakan, jika harga lisensi kedua liga tersebut dibandingkan secara head to head, pernyataan HY itu salah.

Menurut Reva, harga hak siar Liga Inggris di Indonesia bisa sekitar 40 juta Dolar AS untuk 380 pertandingan. Sedangkan, harga Liga 1 (kompetisi level teratas Liga Indonesia) berkisar di angka 13 juta Dolar AS untuk 306 pertandingan.

Balik lagi ke DPR. Helmy menjelaskan, TVRI bisa mendapatkan hak siar Liga Inggris dengan harga yang sangat murah.

“Saya katakan ‘rezeki anak saleh’, mendapatkan kesempatan untuk menayangkan Liga Inggris dengan harga yang sangat murah. Harganya cuma 3 juta dollar AS, 1 juta dollar AS itu komitmen diambil iklannya. Kami cuma bayar 2 juta dollar AS,” papar pencetus kuis Siapa Berani itu.

Reva memprediksi, TVRI bisa mendapatkan diskon dari Mola TV, selaku pemegang hak siar Liga Inggris saat ini, karena beberapa hal.

“Dalam kasus TVRI, bisa jadi Liga Inggris lebih murah karena TVRI membeli hanya satu pertandingan dalam satu pekan, lalu hanya free to air (FTA). Itu pun bukan pertandingan super big match dan mungkin jenis penayangannya sekali tayang, alias tidak boleh rerun,” kata Reva.

Pernyataan Reva di atas sebenarnya perlu dikoreksi. Setiap minggu, TVRI menayangkan bukan satu pertandingan saja, melainkan 2 pertandingan di hari Sabtu dan Minggu. Selain itu, beberapa big match pernah ditayangkan, termasuk saat Boxing Day.

Oh iya, TVRI menyiarkan Liga Inggris di FTA analog dan digital, agar sekalian menggenjot konten TVRI Sport HD, saluran olahraga milik stasiun TV tersebut di platform FTA digital.

Harga Hak Siar Olahraga Tahun 90-an

Di tengah dua pendapat berbeda soal harga hak siar Liga Inggris, warga dunia maya membicarakan sebuah foto yang diambil dari sebuah majalah. Foto itu menampilkan harga hak siar acara olahraga, beserta pembeli dan pemegang resminya (broker), pada tahun 1994.

Foto tersebut diunggah oleh Kaliandra, seorang pengamat televisi, ke dalam fanpage Facebook, Dikala Anda Menonton Televisi. Dia mengambil foto tersebut dari majalah Vista TV, majalah yang pernah saya gunakan sebagai referensi saat mengulas siaran TV Pool meninggalnya Tien Soeharto.

Baca juga: Saat TV Indonesia Iringi Kepergian Tien Soeharto

Majalah yang diambil tabelnya itu adalah edisi 1 – 15 November 1995, yang menjadikan siaran langsung acara olahraga sebagai ulasan utama.

Dari foto tersebut, terlihat bahwa harga hak siar Liga Inggris, yang ketika itu didapatkan SCTV, adalah 360 juta Rupiah per tahun, atau setara dengan 160,4 ribu Dolar AS (asumsi kurs bulan September 1995 = Rp 2.244,-).

Sementara Liga Indonesia, yang kala itu bernama Liga Dunhill, dibeli Anteve (kini ANTV) dengan harga 2 miliyar Rupiah per tahun, atau setara 891 ribu Dolar AS.

Foto tersebut sekilas membenarkan pernyataan Helmy Yahya, bahwa harga hak siar liga sepakbola di negeri sendiri memang lebih mahal ketimbang liga sepakbola negeri Ratu Elizabeth.

Namun, apakah harga tersebut sepadan dengan siaran Liga Inggris di Indonesia yang didapat masyarakat saat itu?

Siaran Liga Inggris di Pertengahan 90-an

Untuk menjawab pertanyaan di atas, kita harus tahu dulu kondisi pertelevisian negara kita saat itu.

Pada pertengahan 90-an, stasiun TV nasional negara kita masih seumur jagung. Saat itu, mereka menggencarkan investasi besar-besaran pada konten yang menarik perhatian pemirsa. Jangan lupa, mereka melakukan itu sembari menambah jangkauan siaran mereka di berbagai daerah.

Nah, media cetak kala itu menjadi salah satu sumber informasi yang bisa diandalkan. Oleh karena itu, saya kembali menghubungi teman saya, yang juga kolektor media cetak 90-an, untuk meminjam (lagi) koleksi majalah Vista TV.

Awalnya, saya ingin meminjam edisi tahun 1993 sampai 1996. Namun, koleksi teman saya ternyata belum lengkap dan jadwal acaranya di beberapa edisi tidak ada. Ditambah, majalah tersebut pertama terbit pada 15 September 1993. Alhasil, saya hanya meminjam 10 edisi saja, dengan mayoritas edisi tahun 1994.

Untuk keperluan riset, saya hanya memanfaatkan bonus jadwal acara TV-nya. Saya menemukan fakta menarik dari jadwal acara TV saat itu. Ada 3 poin utama yang bisa saya ambil.

Pertama, soal pembeli hak siar. Dalam tabel harga hak siar pada foto tersebut, tertulis hanya SCTV yang membeli hak siar Liga Inggris dari broker pemegang hak siara saat itu, CSI. Namun dari jadwal acara TV di majalah tersebut, ternyata ANTV juga menyiarkan Liga Inggris mulai 27 Februari 1994 sampai musim 1996/97.

Kemungkinan, harga yang tertulis dalam tabel tersebut adalah harga yang dikeluarkan oleh SCTV saja. Sementara, harga yang dibayar ANTV kepada stasiun TV mantan saudara RCTI itu tidak termasuk dalam harga tersebut.

Kedua, soal porsi tayangannya. Pada musim 1993/94, SCTV menyiarkan langsung pertandingan Liga Inggris hanya setiap Sabtu malam. Sementara ANTV pada Minggu malam. Tanpa adanya acara pelengkap, seperti Highlights, Preview, dan tayangan ulang (rerun) dari pertandingan yang tayang sebelumnya atau yang tidak disiarkan langsung.

Saya baru menemukan konten Highlights dari jadwal acara SCTV pada edisi 1 – 15 Desember 1994, dimana saat itu kompetisi sudah masuk musim 1994/95. Acara tersebut tayang pada Sabtu malam, tepatnya setengah jam sebelum mulainya siaran langsung pertandingan.

Patut menjadi catatan, bahwa jadwal yang tercantum dalam majalah tersebut belum tentu sesuai dengan realita kala itu dan tergantung dari kebijakan stasiun TV yang bersangkutan. Walau demikian, jadwal tersebut bisa menjadi panduan dasar mengenai porsi tayangan Liga Inggris saat itu.

Ketiga, kita bicara soal platform yang digunakan. Pada pertengahan 90-an, negara kita baru bisa mengakses siaran televisi lewat free to air (FTA) analog — alias via antena biasa — dan FTA satelit. TV berlangganan (pay TV) pun baru hadir saat Indovision diluncurkan tahun 1994 dan saluran yang tersedia di sana saat itu tidak menayangkan Liga Inggris.

Jika sudah bahas siaran TV di FTA satelit, maka kita harus bicara soal pengacakan. Sayangnya, saya belum mendapat literatur perihal pengacakan siaran Liga Inggris yang dilakukan oleh SCTV dan ANTV saat itu. Jadi, bisa ditontonnya liga tersebut via FTA satelit belum terkonfirmasi.

Saya hanya bisa mendapat informasi bahwa kualitas siaran ANTV di FTA satelit waktu itu cenderung belum bisa diandalkan. Sehingga, masyarakat yang memakai parabola kebanyakan mencari siaran RCTI, SCTV, TPI, dan Indosiar.

Terlebih, praktek pengacakan siaran TV di FTA satelit saat itu hanya dilakukan pada acara film. Walau sebenarnya, menurut Direktur Program dan Berita TVRI, Apni Jaya Putra, dalam podcast-nya, pemegang hak siar sebuah event olahraga bisa saja membatasi jangkauan siaran di sebuah wilayah saat event tersebut disiarkan, seperti yang terjadi akhir-akhir ini.

Jadi, apakah harga tersebut sepadan?

Bisa jadi, karena adanya pengaruh kurs Dolar AS tiap tahun, penambahan konten liga yang disiarkan oleh stasiun TV, serta kenaikan harga hak siar penuh dari FA (induk sepakbola Britania Raya).

Namun melihat porsi tayangan dan batasannya, bisa jadi harga yang dibayarkan oleh SCTV saat itu bukan harga asli dari hak siar Liga Inggris itu sendiri. Patut diingat, total pertandingan Liga Inggris adalah 380 dan kala itu tidak semuanya disiarkan ke luar Inggris.

Dua paragraf di atas bukanlah kesimpulan akhir, karena saya belum menemukan referensi soal pengacakan siaran olahraga di FTA satelit saat itu. Jika Anda menemukannya, boleh dibagikan melalui kolom komentar.

Penjelasan lebih detail soal sejarah penayangan Liga Inggris di TV Indonesia, saya bawakan dalam bentuk podcast yang bisa kamu dengar di bawah ini.

Liga Inggris di TV Indonesia 5 Tahun Terakhir

Baiklah, sekarang kita bandingkan data di atas dengan kondisi TV negara kita 5 tahun terakhir, dimana harga hak siar acara olahraga sudah tidak bisa dijangkau oleh stasiun TV.

Pada tahun 2015, hak siar Liga Inggris untuk wilayah Indonesia dipegang oleh MP & Silva, sebuah perusahaan media pemegang hak siar internasional yang berkantor pusat di London dan Singapura.

Dari mereka, hak siar tersebut dibeli oleh Orange TV, perusahaan TV berbayar. Agar tidak berkesan monopoli, mereka membagi hak siar tersebut kepada Emtek. Sehingga, Liga Inggris bisa disaksikan melalui siaran FTA analog milik SCTV dan Indosiar, serta TV berbayar Nexmedia. Skema hak siar tersebut sudah dilakukan sejak tahun 2013.

Mulai tahun 2016, hak siar Liga Inggris dipegang oleh beIN Sports. Mereka menggandeng Media Nusantara Citra (MNC) untuk ikut menayangkan Liga Inggris selama tiga musim sampai 2019.

Selama tiga musim tersebut, Liga Inggris bisa ditonton di beberapa TV berbayar dan layanan streaming berbasis over the top (OTT). Hal tersebut bisa terjadi karena beIN Sports adalah saluran TV berlangganan yang tidak menjual perangkat. Sehingga, mereka tidak terikat dengan TV berbayar manapun.

Tidak seperti yang dilakukan oleh Astro Nusantara pada tahun 2006 dan Mola TV pada saat ini, dimana keduanya bisa memanfaatkan hak siar tersebut untuk mendongkrak penjualan perangkat mereka. Dan harus diakui, strategi tersebut berhasil.

Sebentar, saya belum bicara harga hak siar, kan?

Sayang sekali, seluruh informasi yang saya dapatkan untuk artikel ini tidak menyebutkan harga hak siar Liga Inggris di Indonesia sepanjang tahun 2015 – 2018. Semua pihak yang mendapat hak siar liga sepakbola unggulan dunia itu lebih memilih untuk merahasiakan nominal uang yang harus dikeluarkan.

Adapun untuk harga hak siar liga tersebut di musim 2019/20, hanya keluar dari pernyataan Helmy Yahya di DPR beberapa waktu lalu. Namun, mengutip pernyataan Reva di awal tulisan ini, harga tersebut kemungkinan besar bukan harga asli dari hak siar Liga Inggris secara keseluruhan.

Sebagai gambaran, mengutip Detik, lelang penjualan hak siar Liga Inggris yang diumumkan pada 12 Februari 2015 lalu, mencatatkan rekor harga tertinggi. Sky dan BT Sport, perusahaan media dari negeri asalnya, mengajukan harga 5,136 miliar Poundsterling (setara hampir 100 triliun Rupiah) untuk musim 2016/17 sampai 2018/19.

Itu baru untuk Inggris Raya (United Kingdom) saja. Bagaimana dengan harga hak siar internasional?

Dilansir Detik dari Associated Press, kompetisi penyiaran internasional diprediksi bakal menaikkan nilai jual Liga Inggris. Analis media, Claire Enders, memperkirakan kenaikannya bisa mencapai 30 persen.

Pada periode 2013 – 2015, hak siar internasional Liga Inggris bisa menghasilkan 2,5 miliar Poundsterling dari total 5,5 miliar Poundsterling. Jika kenaikannya 30%, maka harga hak siar internasional bisa menyentuh nilai 3,25 miliar Poundsterling.

Kesimpulan

Perbandingan upaya insan penyiaran negara kita dalam membeli hak siar acara olahraga — khususnya Liga Inggris — di pertengahan 90-an, tidak sama dengan yang dilakukan saat ini. Kondisi kurs valuta asing, konten yang didapatkan, serta faktor-faktor lainnya mempengarui harga hak siar acara olahraga. Bahkan harganya saat ini sudah berbeda jauh ketimbang dulu.

Kita ambil contoh event olahraga terdekat, yaitu Piala Dunia 2022. Beberapa pihak dari stasiun TV Indonesia belum yakin untuk membeli hak siarnya, yang harganya untuk siaran 65 pertandingan, ditambah paket Piala Konfederasi, Piala Dunia U-17, dan U-20, bisa mencapai 80 juta Dolar AS (sekitar Rp 1 triliun).

“Harganya sudah gila. Tidak tahu, deh, apakah TV sanggup beli. Namun, jangan khawatir, pasti ada yang beli. Setidaknya beli dengan sistem ketengan,” ujar Reva dikutip dari Kumparan.

Jadi, jika bicara hak siar Liga Inggris ataupun acara olahraga lainnya sekarang ini, kita hanya bisa berharap pada kemampuan stasiun TV untuk membelinya.

Setidaknya, stasiun TV negara kita masih mau berinvestasi pada siaran liga sepakbola dalam negeri. Walaupun, kita semua mungkin tahu gimana kualitas pertandingannya akhir-akhir ini…….

Jika dirasa kurang memuaskan, kita, sebagai konsumen, mau nggak mau harus merogoh kocek lebih dalam untuk bisa menikmati acara TV yang kita inginkan.

Kita akhiri tulisan ini dengan satu pertanyaan yang masih mengganjal: kenapa harga hak siar Liga Inggris bisa mahal? Barangkali, tulisan Pandit Football dan Football Tribe ini bisa menjawab pertanyaan tersebut.

Tulisan terkait

Mungkin kamu pengen baca ini juga

GlobalTV “Mengemis” Iklan, Mengapa?

Ketika saya sedang menonton program berita GlobalTV, saya belum mendapat inspirasi untuk membuat postingan di blog. Padahal, blog TeddyTV sudah hampir 10 bulan tidak update lagi. Namun, inspirasi untuk membuat posting muncul saat program berita tersebut berakhir. Ada pemandangan menarik setelah credit title. Bukan, ini bukan gambar pemandangan indah,dimana ada 2 gunung yang mataharinya terbit […]

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *