Tetap Mengudara, di Tengah Corona

Di tengah wabah corona, industri penyiaran tetap menunaikan tugas mereka kepada publik. Mereka memiliki strategi tersendiri agar tetap bisa mengudara.

Awal tahun 2020, dunia sedang tidak baik-baik saja. Sebuah virus baru, yang kelak dikenal dengan nama SARS-Cov 2, mengancam masyarakat dunia. Jenis virus corona terbaru ini mengawali ancamannya dari Kota Wuhan, Tiongkok. Lalu, virus penyebab Covid-19 itu menyebar seiring mobilitas penduduk di seluruh dunia.

Beberapa negara sudah melaporkan kasus warganya yang terjangkit virus ini, tak terkecuali Indonesia. Saat artikel ini dirilis (10/4/2020), sudah ada 3512 kasus positif Covid-19, dengan total kematian mencapai 306 kasus.

Semakin meningkatnya jumlah kasus positif, membuat pemerintah menghimbau masyarakat untuk sementara melakukan aktifitas hariannya dari rumah, atau istilah lainnya work from home (WFH).

“Saatnya kita kerja dari rumah, belajar dari rumah, ibadah di rumah,” ujar Presiden Jokowi dalam konferensi pers di Istana Bogor, Minggu (15/3/2020).

Hal yang sama juga disampaikan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. Terlebih, daerah yang dipimpin oleh mantan Menteri Pendidikan itu menjadi daerah dengan jumlah kasus positif terbanyak.

Meski begitu, tak semua pekerjaan yang dilakoni masyarakat bisa dikerjakan dari rumah. Kebanyakan pekerja yang tidak bisa melakukan WFH adalah mereka yang pekerjaannya mengharuskan kehadiran di lapangan, menyangkut kepentingan publik, atau pekerjaan informal yang upahnya hanya bisa didapatkan per hari.

Salah satu sektor usaha yang pekerjanya tidak bisa bekerja dari rumah adalah media penyiaran. Mereka tetap menjalankan tugasnya sebagai penyebar informasi di tengah pandemi ini, sembari menyajikan hiburan bagi masyarakat.

Mereka juga berperan untuk mensosialisasikan physical distancing serta ajakan #DiRumahAja kepada masyarakat, baik lewat frekuensi dan juga media sosial.

Ajakan #DiRumahAja dari karyawan iNews | Sumber: medsos iNews

Untuk itu, beberapa perusahaan di industri penyiaran menjalankan beberapa strategi agar tugas utamanya masih bisa dijalankan sekaligus mencegah wabah Covid-19 menjangkiti pekerjanya. Saya telah merangkum beberapa strategi yang telah dilakukan oleh pelaku penyiaran sampai saat ini.

Mencari Tahu dari Pekerjanya

Pertama, saya mencari tahu dari pekerjanya itu sendiri. Saya mewawancarai Lorenzo Mukuan, salah satu penyiar di TVRI Nasional, untuk mewakili pekerja TV. Sementara untuk pekerja radio, saya menghubungi Dave Nirvana, penyiar di Pop Radio Jakarta.

“Di TVRI ada perubahan waktu kerja, pengurangan kerabat kerja, terus mengurangi acara yang melibatkan orang banyak di studio. Liputan lapangan juga diminimalisir,” kata Lorenzo melalui percakapan WhatsApp, Minggu (5/4/2020).

“Sederhananya pengurangan jam kerja (di kantor). Kalau di tempatku biasanya setiap penyiar ada jobdesk lain yang juga harus di-handle. Nah, kerjaan yang bisa dikerjakan di luar kantor, boleh dibawa ke rumah. Jadi sekarang (ke kantor) cuma untuk siaran aja,” tutur Dave lewat percakapan Line, Senin (6/4/2020)

Sebagai sesama pekerja media yang harus bekerja di tengah pandemi Corona saat ini, Lorenzo dan Dave paham betul akan resiko pekerjaan yang harus dilalui oleh mereka dan pekerja media lainnya. Mereka berbagi langkah adaptasi yang dilakukan sepanjang menjalani tugas di tengah wabah Corona saat ini.

“Sebisa mungkin lebih jaga kesehatan dan kebersihan aja,” kata Dave.

“Penularan corona tuh gak ketahuan dan gak kerasa. Budayakan hidup sehat dan kurangi beli makanan instan dan masak sendiri aja,” kata Lorenzo yang akhir-akhir ini juga sering membagikan kegiatan masak sendirinya di akun Instagram pribadi.

Mengubah Waktu Siaran

Apa yang Lorenzo katakan soal perubahan waktu kerja ternyata berdampak pada waktu siaran dari beberapa media elektronik. Ada 2 media elektronik yang terpantau mengubah waktu siarannya sepanjang pandemi Covid-19 ini, yaitu PRFM (radio berita di Kota Bandung milik harian Pikiran Rakyat), dan NET.

Melalui akun Twitter, PRFM mengumumkan adanya perubahan waktu operasional PRFM, baik jam siarannya di gelombang FM, operasional situs beritanya, serta kegiatan media sosial resminya.

Sementara itu, NET, melalui akun Instagramnya mengumumkan soal waktu siarannya yang diperpanjang menjadi 24 jam. Hal ini menarik, mengingat sebelumnya NET mengudara dari jam 3.30 sampai 2.00 WIB.

Meski begitu, beberapa stasiun TV dan radio yang saya amati tidak mengalami perubahan jam siaran. Tentu saja, mereka harus menyesuaikan jadwal acara mereka agar seluruh jam siaran tetap terisi.

Menjalankan TV Pool

Dalam liputan lapangan, pasti bakal banyak wartawan yang meliput. Apalagi jika ada konferensi pers, dimana semua wartawan berkumpul dalam satu ruangan. Hal tersebut jelas memperbesar resiko penularan penyakit, termasuk Covid-19.

Oleh karena itu, wartawan dari semua stasiun televisi di Indonesia menggelar kerja sama untuk pelaksanaan peliputan dalam bentuk TV Pool.

“Kami melakukan kerja sama proses gathering dengan semua stasiun televisi dan berjalan dengan baik,” kata Yadi Hendriana, ketua Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) kepada Tirto.

Bentuk kerjasama yang dilakukan adalah sebagai berikut:

  • Peliputan di tempat yang menjadi sumber informasi utama (Istana Negara, markas BNPB, dan lainnya) dilakukan oleh satu atau dua stasiun TV. Kita sebut saja stasiun TV yang “menguasai” tempat tersebut sebagai pelaksana TV Pool.
  • Masing-masing pelaksana tugas mengirimkan materi konferensi pers ke seluruh media menggunakan perangkat Satelite News Gathering (SNG).
  • Materi yang dikirimkan berupa visual gathering, atau audio visual selama proses konferensi pers.

Mengenai pembagian tugas, Yadi mencontohkan beberapa tempat sumber informasi penting: Istana Negara dipegang MNC Group; markas BNPB dikelola TVRI dan CNN Indonesia; Wisma Atlet Kemayoran untuk Kompas TV dan Emtek Group; dan Balaikota Jakarta oleh TV One.

Bagaimana dengan radio?

“Kalo berkaitan dengan konferensi pers yang tiap sore di BNPB, keliatannya RRI ikut ambil bagian menjadi pool untuk radio,” jawab Dave saat ditanya soal kerjasama stasiun radio dalam penyebaran informasi Covid-19.

Syuting Live Tanpa Penonton

Beberapa acara TV unggulan di negara kita disiarkan secara langsung, dimana apa yang disiarkan oleh stasiun TV pada waktu tertentu, disaksikan oleh pemirsa pada waktu yang sama. Kebanyakan acara tersebut menghadirkan penonton ke studio sebagai penambah kemeriahan.

Pemerintah sempat mengimbau stasiun televisi untuk mengurangi kegiatan produksi yang mengundang keramaian pada pertengahan Maret lalu. Imbauan ini dipatuhi oleh sejumlah stasiun televisi, meski sejumlah rumah produksi masih melakukan syuting untuk acara sinetron.

Lantas, Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemdikbud mengeluarkan surat edaran kepada sejumlah stasiun televisi pada hari Selasa (24/3/2020). Surat edaran tersebut menekankan kembali tentang penghentian syuting dengan keramaian sebagai langkah mencegah penyebaran Covid-19.

Akibatnya, acara TV yang produksinya melibatkan penonton atau banyak kru harus dihentikan, dimodifikasi, atau dilakukan tanpa penonton.

Mata Najwa, acara yang dipandu oleh Najwa Shihab, tetap disiarkan langsung meski tanpa penonton. Narasumber di acara tersebut dihadirkan melalui video conference. Sementara Najwa tetap memandu acara dari studio Trans7.

Wawancara Najwa Shihab dengan narasumber via video conference | Sumber: tangkapan layar Youtube Najwa Shihab

Brownis, acara yang disiarkan oleh TransTV, 11:12 dengan Mata Najwa. Bedanya, presenter acara tersebut memandu acara lewat video conference. Saat saya memantau acara ini, para pemandu acara itu (Ivan Gunawan, Ruben Onsu, Wendy Cagur, dan Ayu Ting Ting) saling berbincang di acara tersebut dari kediaman masing-masing.

Sementara itu, acara unggulan NET, Ini Talkshow dan Tonight Show, tetap disiarkan meski tanpa penonton. Khusus Ini Talkshow, NET menayangkan beberapa episode yang masih melibatkan penonton. Episode tersebut direkam sebelum pelaksanaan physical distancing.

Meski syuting dengan penonton dihentikan sementara, tim kreatif acara Ini Baru Empat Mata tidak mau menyerah. Acara Trans7 yang dipandu oleh Tukul Arwana itu masih mendatangkan “penonton”. Gak tanggung-tanggung, mereka mengundang penonton sekelas Presiden Jokowi, aktor Hollywood Leonardo DiCaprio, musisi legendaris John Lennon, bahkan tokoh superhero seperti Power Rangers.

Kok bisa?

Bisa aja, karena mereka “hadir” dalam rupa karton yang dipasang di kursi penonton.

“Penuh”-nya kursi penonton Ini Baru Empat Mata | Sumber: TVOD Trans7

Dampak Larangan Syuting: Ngakalin Cerita Sinetron sampai Re-Run Acara Lama

Penghentian sementara syuting yang mengundang keramaian sangat berdampak pada syuting sinetron. Jelas saja, karena proses produksi jenis acara ini membutuhkan banyak kru yang terlibat. Apalagi, sinetron di TV negara kita mayoritas menerapkan sistem kejar tayang, dimana jeda antara waktu syuting dan waktu tayang di TV hanya sebentar.

Penghentian tersebut membuat rumah produksi menunda kegiatan syuting. Akibatnya, stasiun TV tidak bisa meng-update sinetron unggulannya. Akhirnya, orang-orang di divisi program stasiun TV harus putar otak.

Ada 3 cara yang dilakukan untuk mengatasi masalah ini: mengakali cerita sinetron, obrak-abrik jadwal, sampai rerun acara lama.

Pertama, mengakali cerita sinetron. Cara ini dilakukan oleh SCTV melalui Sinemart. Maklum, sinetron-sinetron mereka saat ini menduduki peringkat teratas dalam rating TV. Sejumlah judul seperti Samudra Cinta, Anak Langit dan Istri Kedua masih mengudara dengan sejumlah penyesuaian.

Namun untuk mengakali stok episode yang terbatas, Sinemart mengemas sinetron-sinetron mereka dengan format cerita flashback (kilas balik) dari episode sebelumnya. Gambaran kasarnya, seperti kamu yang sedang flashback kenangan sama mantan pacar. Kurang lebih kayak gitu.

Lihat postingan ini di Instagram

Sebuah kiriman dibagikan oleh Official Dunia TV (@dunia_tv) pada

Kedua, obrak-abrik jadwal. Hal ini dilakukan oleh hampir semua stasiun TV. Namun, ada yang menarik dari obrak-abrik jadwal yang dilakukan oleh Trans TV. Stasiun TV kepunyaan Chairul Tanjung itu tiba-tiba saja menambah slot acara berita dari CNN Indonesia. Padahal, stasiun TV tersebut saat ini lebih condong menayangkan acara hiburan. Bahkan, mereka sampai menghentikan buletin berita regulernya, Reportase, pada tahun 2016 lalu.

Sementara itu, TVRI menerapkan jadwal khusus selama pandemi Covid-19 ini. Sebagai mitra penyiaran bagi Gugus Tugas Percepatan Wabah Covid-19, TVRI menyelipkan slot khusus informasi seputar wabah ini dalam acara Info Covid-19 Terkini. Selain itu, saya memantau adanya modifikasi jadwal pada hari Sabtu dan Minggu sebagai imbas ditundanya Liga Inggris.

Lihat postingan ini di Instagram

Sebuah kiriman dibagikan oleh Apni Jaya Putra – Indonesia (@apnijayaputra) pada

Ketiga, menayangkan kembali acara lama alias rerun. Cara ini sebenarnya biasa diterapkan oleh stasiun TV jika ada jam siaran yang belum diisi oleh acara baru. Namun mengingat banyaknya jam siaran yang kosong akibat terhentinya syuting, mau tak mau stasiun TV harus lebih banyak menayangkan acara lama.

RCTI adalah salah satunya. Mulai Senin lalu (30/3/2020), sejumlah acara lama kembali ditayangkan. Mulai dari sitkom Preman Pensiun, drama korea The Heirs, hingga sinetron Tukang Bubur Naik Haji.

Iya, kamu tidak salah baca. Sinetron dengan jumlah episode sebanyak 2185 itu kembali tayang sodara-sodara!

Meski begitu, nampaknya RCTI masih plin-plan dalam memilih acara apa yang akan di-rerun. Saat saya mengakses website RCTI pada Selasa (7/4/2020), jadwal yang tertulis pada jam tayang sinetron “tukang bubur” malah tertulis judul sinetron lain: “Catatan Hati Seorang Istri”. Sementara itu, Preman Pensiun dan The Heirs hanya tayang 2 hari saja karena performa ratingnya yang jelek.

Tak hanya itu, RCTI tetap menayangkan sinetron Dunia Terbalik meski jalur ceritanya “di-reset” dari episode awal. Strategi tersebut membuahkan performa rating yang cukup memuaskan. Sinetron yang dibintangi oleh Agus Kuncoro dan Indra Birowo itu menempati peringkat 11 dengan capaian TVR 2,4 dan share 13,1%.

Menunda Pembayaran Gaji Karyawan

Poin ini cukup miris, apalagi pekerja di industri penyiaran masih harus bekerja di saat wabah Covid-19 belum kunjung usai. Meski begitu, mereka tetap harus menjunjung asas profesional dalam menjalankan tugasnya.

Hal tersebut dialami oleh pekerja di VIVA Networks. Sebagai informasi, VIVA Networks adalah salah satu media di bawah naungan grup media VIVA, yang juga menaungi TV One dan ANTV.

Dilansir dari Tempo.co, Ketua Solidaritas Pekerja VIVA (SPV), Setyo A. Saputro, mengungkapkan kekecewaannya terhadap manajemen VIVA Networks (PT. VIVA Media Baru) yang tak memberikan kejelasan terkait pembayaran gaji karyawan yang tertunda sejak akhir Maret 2020.

Lihat postingan ini di Instagram

Sebuah kiriman dibagikan oleh SPV (@pekerja_viva) pada

Melalui siaran pers, Setyo menjelaskan pengumuman pertama dari pihak manajemen disampaikan pada 26 Maret 2020. Pengumuman tersebut memberitahu soal pembayaran gaji untuk bulan Maret bakal dibayarkan antara 31 Maret atau 1 April. Alasannya terkait dengan pandemi Covid-19, dimana pemasukan dari pihak ketiga terlambat cair.

Namun, perusahaan kembali memberi surat pemberitahuan pada 31 Maret, yang mengabarkan bahwa perusahaan belum mampu membayar gaji karyawan dan baru bisa terbayarkan pada 7 April 2020.

“Namun hingga 4 April 2020, karyawan VIVA Networks belum juga menerima tanda-tanda bahwa gaji akan dibayarkan. Padahal kondisi pandemi makin meluas, seruan work from home makin ketat, dan pergerakan makin terbatas,” kata Setyo.

Akhirnya, menurut dia, banyak karyawan VIVA Networks yang terpaksa berhutang untuk memenuhi kebutuhan pokok serta menyambung hidup sampai gaji mereka dibayarkan.

Tambah Setyo, keterlambatan pembayaran gaji ini sebenarnya sudah sering terjadi sejak setahun lalu.

Saat Ada Pekerja Penyiaran yang Positif Covid-19

Meski segala upaya telah dilakukan agar pekerja di industri penyiaran tidak tertular virus corona, apa mau dikata jika suatu saat bakal ada juga yang terkena. Hal tersebut dialami oleh 2 media penyiaran, Metro TV dan CNN Indonesia.

Dilansir dari Kumparan, Metro TV mengonfirmasi salah satu karyawannya positif mengidap Covid-19. Karyawan tersebut sekarang dirawat di RS Darurat Wisma Atlet Kemayoran dan dalam kondisi stabil.

Hal itu dikonfirmasi Direktur Utama Metro TV, Don Bosco Selamun. Mantan pemimpin redaksi di Berita Satu itu juga membenarkan adanya surat kepada karyawan mengenai penutupan sementara kantor dan studio mereka di Kedoya, Jakarta Barat, selama 14 hari. Meski ditutup, mereka melakukan penyemprotan disinfektan di kantor tersebut.

Untuk kegiatan operasional, Metro TV sementara menggunakan beberapa tempat, salah satunya adalah Akademi Bela Negara Partai NasDem di Pancoran, Jakarta Selatan.

“Sebagian produksi dan penayangan program-program Metro TV dilakukan dari beberapa titik di luar kantor Kedoya, termasuk dilaksanakan dari biro Semarang, Surabaya, dan lain-lain,” tulis Don Bosco dalam surat yang diterima Kumparan.

Perpindahan tempat operasional tersebut sangat terasa dalam tayangan Metro TV akhir-akhir ini. Perpindahan antar video jadi tidak selancar biasanya, suara dan gambar kadang tidak sinkron, para news anchor terkesan tidak sigap, dan kualitas visual yang dipancarkan tidak sejernih biasanya.

Selain itu, teman saya di Medan mengonfirmasi penggunaan studio di biro Metro TV Sumatera Utara untuk mem-backup produksi acara “Headline News” di jam 11.00 dan 13.00 WIB pada Jumat (3/4/2020).

Pekerja penyiaran yang positif Covid-19 juga terdapat di CNN Indonesia. Hal tersebut dikonfirmasi oleh Sekretaris Direksi CNN Indonesia, Herlin Chatrin Maya Pulisir.

“Salah satu rekan kita dari divisi News Gathering hari ini mendapat hasil positif pasca pemeriksaan Covid-19 dengan metode tes cepat. Segera setelah menerima kabar tersebut, ruang dan peralatan yang selama ini dipakai rekan tersebut untuk bertugas telah disterilkan dengan semprotan disinfektan” tulis Herlin kepada Indonesiainside.id yang dikutip oleh Harian Haluan.

Pihak CNN Indonesia mengaku terkejut dengan masalah tersebut dan sudah dibahas serius oleh manajemen dan pimpinan di stasiun TV berita itu.

“Kita sepakat bahwa aspek terpenting di tengah pandemi ini adalah kesehatan dan keselamatan teman-teman. Oleh karena itu, respon kita adalah ambil tindakan cepat untuk pencegahan,” tuturnya.

Dari Pekerja Media untuk Pekerja Media

Sebagai penutup tulisan ini, saya kembali bertanya pada Dave dan Lorenzo soal apa yang terasa bagi mereka saat pandemi ini.

“Dibilang situasinya menyenangkan udah pasti nggak, karena ada rasa-rasa (semangat) pengen kendor aja biar bisa lebih tenang di rumah atau kayak temen-temen yang bisa WFH atau lebih dekat dengan keluarga dengan mudik. Walau yang terakhir ga direkomendasikan,” kata Dave saat menceritakan apa yang dirasakannya di tengah pandemi Corona ini.

Meski begitu, Dave berpesan untuk semua pekerja media. “Kalau bukan kita yang menyampaikan informasi dan memberi hiburan, siapa lagi? Selama kita belum jadi bahan laporan, kita harus jadi yang terdepan untuk melaporkan. Intinya, semangat untuk rekan-rekan pekerja media!”

Sementara itu, Lorenzo memberikan pesan yang cukup singkat, namun bermakna jelas.

“Jangan sampai memberitakan (soal virus Corona), tapi ikut menyebarkannya juga.”

Tulisan terkait

Mungkin kamu pengen baca ini juga

Mengupas Perubahan NET di Awal 2019

Dibalik berubah totalnya jadwal acara, berhentinya acara unggulan, kembalinya slot kartun, serta perubahan konsep dari beberapa acara yang bertahan, terdapat strategi yang dipengaruhi oleh kehadiran sosok baru di internal NET dan harapan konten yang sesuai dengan target pemirsa.

1 Comment

  1. Ada yg perlu direvisi postingan ini mas. Ini berdasarkan pengamatan saya selama ini:

    1. Acara NET yaitu Ini Talkshow, Tonight Show, & Malam2 , posisi jarak pengisi acara melanggar peraturan pemerintah social distancing (duduk, berdiri, dll). Padahal merekalah yg mengajak pemirsa utk menaati social distancing di program tersebut

    2. Hari pertama PSBB di Jabodebek disiarkan di Breaking News Metro TV pukul 06:00 WIB. Mestinya bisa live pukul 00:00 WIB klo yg ini, sebab pelaksanaannya mulai pukul 00:00 WIB (prediksiku klo daerah lain PSBB juga, kemungkinan hal ini terjadi di Metro TV)

    3. Sinetron ANTV yg dibuat sendiri & (kelihatannya utk) Garis Tangan diliburkan penayangannya selama corona di Indonesia. Jam sinetron tersebut diganti sinetron jadulnya Indosiar & Bollywood. Malah Bollywood tayang setiap hari beberapa kali dgn durasi yg lama

    4. Breaking News di CNN Indonesia bersifat spam (bahkan ada siaran ulangnya sblm subuh. Saya lht dari Indihome)

    5. Kabar Khusus tayang di tvOne pukul 14:00-16:30 WIB setiap hari (klo gk salah)

    6. TVRI menayangkan program khusus dari Kemendikbud, Belajar dari Rumah, setiap hari per 13 April – 3 bulan kemudian. Acara yg ditayangkan berupa pelajaran, parenting, film Indonesia (yg ditetapkan Kemendikbud kyknya), & kebudayaan

    7. Iklan tentang virus corona ditayangkan di semua stasiun TV

    8. Seharusnya, Trans TV & Trans 7 ikut menyiarkan live update korban corona yg disampaikan oleh Ahmad Yurianto, jubir penanganan corona seperti yg dilakukan TVRI & TV berita. Sebab, dia menyampaikan hal itu di momen yg pas buat Transmedia (biasa dilakukan pukul 15:30 WIB). Di Trans TV klo Senin – Jumat, ada Insert Today. Sedangkan Trans 7 ada Redaksi Sore setiap hari. Keduanya tayang live selama 1 jam.

    9. Program yg melibatkan penonton msh ditayangkan di TV (meskipun rerun/tapping). Kebanyakan pada acara religi & tdk ada keterangan waktu syuting aslinya kpn.

    10. Enak2 di NET berubah dari kuliner di tempat menjadi ala2 On The Spot Trans 7 (cuma ada narator)

    11. Kompas TV & Indosiar menampilkan update corona versi nasional & provinsi selama program berita. Hal serupa juga dilakukan di TVRI. Namun TVRI hanya menampilkan data nasional (tanpa provinsi) & dunia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *