Saat Mahasiswa Berbaju Bengkel & Bersepatu Safety Turun ke Jalan

Dikenal apatis, tak disangka mahasiswa kampus Kanayakan ikut turun ke jalan untuk menggugat kinerja DPR yang “deadliner”. Pasti seru nih cerita awalnya.

24 September 2019, sebuah kabar mengejutkan datang dari almamater saya, Polman Bandung. Mahasiswa kampus Kanayakan itu kembali ikut demonstrasi bersama mahasiswa se-Bandung Raya. Demo tersebut bertujuan untuk menentang beberapa RUU yang akan disahkan oleh DPR. Info tersebut saya dapatkan dari Official Account (OA) Line-nya BEM.

OA Line BEM pun membagikan foto-foto persiapan rombongan mahasiswa yang akan berangkat. Ada beberapa orang yang saya kenal dari rombongan tersebut. Salah satunya adalah Ilham Ali, mahasiswa kelas 4 ME, yang juga anggota UKM Pers Jurasic Man dan FKMPI Jabar. Ilham terlihat memegang TOA (itulohh, yg biasa dipake kalo demo).

Dari laporan langsung yang diunggah oleh akun Instagram resmi BEM, rombongan berjalan kaki dari kampus Kanayakan, lalu melewati Monumen Perjuangan, hingga akhirnya mereka tiba di depan Gedung Sate dan bergabung dengan rombongan mahasiswa lainnya dari kampus lain.

Dari info yang saya dapat dari rekan-rekan UKM Pers yang meliput aksi kemarin, terdapat 324 orang yang ikut dalam rombongan. Angka tersebut hampir setara dengan jumlah mahasiswa dalam satu angkatan. Hingga pukul 17.09 WIB, 85 orang masih bertahan di lokasi aksi hingga malam hari.

Selain di Bandung, 3 orang mahasiswa kampus Kanayakan bersama rombongan mahasiswa se-Jawa Barat berangkat ke Jakarta untuk mengikuti aksi mahasiswa di depan gedung DPR RI. Mengutip OA Line BEM, mereka tidak bisa masuk ke kompleks DPR RI karena aparat sudah lebih dulu memukul mundur mahasiswa.

Rencananya pada hari ini (25/09/2019), BEM akan mengadakan konsolidasi atas aksi yang mereka lakukan kemarin. Konsolidasi tersebut mengusung tema “Sudah Tepatkah Aksi Polman?”. Pemantik diskusi pada konsilidasi nanti sore adalah Ilham Ali, dengan moderator dari anggota BEM, Hijrah dan Lulu (salah satu anggota UKM Pers juga).

Bisa dibilang, konsolidasi tersebut adalah bentuk evaluasi atas kegiatan mereka kemarin sekaligus brainstorming kepada mahasiswa lainnya yang belum tergerak. Walau sebenernya agak terlambat, namun mengingat kondisi negara sedang genting karena DPR lagi “nge-deadline” pengesahan RUU tanpa kajian mendalam, keterlambatan tersebut masih dimaklumi.

Malam Sebelum Aksi

Yang saya nggak sangka, ternyata aksi kemarin itu mendapat restu dari institusi.

IYA, ANDA TIDAK SALAH BACA.

Polman Bandung mengizinkan mahasiswanya untuk ikut aksi demonstrasi kemarin. Dengan catatan yang tertulis dalam rilis OA Line BEM, rombongan yang ikut tidak anarkis dan menjaga keselamatan diri dan orang lain.

Saya mencoba nyari informasinya dari salah seorang anggota BEM yang ikut aksi, yang namanya tidak mau disebutkan dalam tulisan ini.

Kata dia, malam tanggal 23, BEM Polman sempet bimbang. Ajakan aksi dari BEM kampus lain sudah banyak, tapi waktunya bentrok dengan jadwal kuliah. Tau sendiri, kampus Kanayakan mah kampus tapi rasa pabrik sekolahan (Masuk jam 7 pagi, pulang jam 3 sore). Akhirnya Presiden KM berinisiatif untuk meminta izin kepada institusi.

“Eh di-acc sama Pak Iman dong. Terus aku tanya juga ke Pak Rum (Wadir Kemahasiswaan), di-acc juga,” kata narasumber saya dalam percakapan DM Instagram.

Yang mengejutkannya lagi, saat narasumber saya tersebut mengeluarkan rilis terkait aksi atas nama BEM, banyak mahasiswa yang ingin ikut. Padahal, rencana awalnya hanya mengajak anggota BEM dan tim eksternal Polman (tim di bawah naungan Kemenlu BEM).

Cerita ini jadi menarik. Setelah sekian lama, mahasiswa berbaju bengkel dan bersepatu safety, yang dulu dikenal apatis sama isu-isu sosial budaya dan humaniora, tiba-tiba tergerak untuk bergabung dalam aksi besar-besaran mahasiswa untuk menentang sikap negara yang tidak mewakili kepentingan rakyat.

Bagaimana bisa?

Menurut saya, mulai hilangnya rasa apatis mereka disebabkan oleh beberapa hal. Mulai dari terbangunnya iklim demokrasi di kampus Kanayakan, hingga mulai terbukanya pemikiran mahasiswa saat ini. Saya akan sedikit bercerita soal saat-saat dimana iklim demokrasi di kampus Kanayakan mulai terbangun.

Jika ada sumber lain yang ingin menambahkan cerita ini, dipersilahkan. Jika ada opini saya yang dirasa kurang, mari kita diskusi melalui kolom komentar.

Timbulnya Sifat Kritis Terhadap Kampus

Sebenarnya, sifat kritis mahasiswa kampus Kanayakan sudah ada dari dulu. Hanya saja, mereka belum berani untuk bersuara lantang di depan direksi kampus. Paling mentok, lewat audiensi BEM dan DPM. Sayang, BEM dan DPM saat saya kuliah dulu kurang sigap dalam menampung aspirasi mereka. Saya aja yang dulu jadi Menteri Kominfo pun cuma bisa mendesak kesigapan BEM dalam menampung aspirasi dari dalam struktur inti kabinet.

Pihak kampus pun terkesan tidak bisa diberikan masukan. Ancaman dapat surat peringatan (SP) serta adanya dosen yang memberikan SP secara “cuma-cuma” menjadi beberapa penyebabnya. Walau begitu, pihak kampus sebenernya udah menyediakan kotak saran di depan BAA, tapi kotak tersebut masih belum ada penghuninya.

Upaya audiensi pun bukannya tak dilakukan. Namun, respon mahasiswa masih ada yang meremehkan bahasan dalam audiensi tersebut. Dikala audiensi mahasiswa PPI dalam dengan BEM, ada sentilan merendahkan dari angkatan senior.

“Halah, paling juga minta PPI dalam digaji kayak PPI luar,” begitu selorohan salah satu mahasiswa saat itu.

Hingga akhirnya, semua keluhan mahasiswa pun hanya berujung menjadi obrolan warung 3M. “Yah kumaha deui, da ieu mah pabrik sanes kampus,” menjadi kalimat mujarab untuk mengakhiri sambatan mahasiswa kampus Kanayakan.

Namun, memasuki semester akhir saya berkuliah di Kanayakan, beberapa upaya untuk mewujudkan iklim demokrasi mulai terbangun. Bisa dibilang, upaya pertama dimulai kala saya bersama UKM Pers membuat survei dan editorial terkait fasilitas kampus. Sampe-sampe, ada seorang mahasiswa yang terinspirasi dari tulisan tersebut dan nekat mengisi kotak saran depan BAA dengan berbagai “surat cinta” (baca: keluhan) mengenai masalah yang sama.

Then, menjelang wisuda, angkatan saya serempak menolak wacana pelaksanaan wisuda di luar kampus. Barangkali, momen tersebut langka, dimana satu angkatan kampus Kanayakan bisa bersuara lantang menolak kebijakan kampus. Meski akhirnya wacana tersebut berhasil digagalkan, namun mulai tahun setelahnya, wisuda fix diadakan di luar kampus karena masalah koordinasi lingkungan dengan tetangga kampus.

Baca juga: Terkait Pelaksanaan Wisuda, Calon Wisudawan Audiensi dengan Direksi

Setelah angkatan saya diwisuda pun, BEM dan DPM mulai aktif kembali menampung aspirasi mahasiswa. Saya sempet ngeliat ada kotak aspirasi untuk menggantikan fungsi kotak saran depan BAA yang mulai kosong kembali. Entahlah apakah program tersebut masih jalan atau nggak.

Selain itu, untuk pertama kalinya pihak institusi terbuka dengan masukan dari masyarkaat. Mereka memanfaatkan aplikasi LAPOR (Layanan Aspirasi dan Pengaduan Online Rakyat) rilisan Kemenpan-RB dan Ombudsman RI. Info tersebut terpampang di halaman utama website mereka.

Bagi saya, hasil yang saya tuliskan pada 2 paragraf di atas sudah menjadi indikasi terbangunnya iklim demokrasi di dalam kampus Kanayakan. Walau mungkin saat ini pun rasanya masih sama aja, namun pihak institusi sudah mulai terbuka dengan masukan dari berbagai pihak, terutama dari mahasiswanya sendiri. Ini menjadi penting karena perguruan tinggi adalah tempat yang tepat untuk mengembangkan diskusi dan bersikap demokratis.

Kembali Aktif Beraliansi

Sebenarnya, BEM Polman sudah beraliansi dengan beberapa politeknik dalam FKMPI (Forum Komunikasi Mahasiswa Politeknik se-Indonesia). Selama saya berkuliah di sana, sudah 2 orang anggota BEM yang jadi Koordinator Daerah. Untuk aliansi se-Indonesia, terdapat peran Wakil Direktur Kemahasiswaan yang menjadi pembina FKMPI kala itu.

Selepas saya melepas jabatan menteri, BEM periode selanjutnya mulai menjalin lagi aliansi dengan BEM SI, setelah vakum sekian lama. Inilah yang menjadi langkah awal mahasiswa Polman untuk bergabung dengan aksi-aksi di bawah koordinasi BEM SI.

Meski begitu, partisipasi Polman di FKMPI pun semakin aktif hingga ke level nasional. Faizal Fauzan, Menteri Luar Negeri BEM periode selanjutnya, menjadi salah satu punggawa penting di FKMPI nasional.

Bicara BEM SI, ada satu momen menarik saat BEM SI mengadakan demo di depan Gedung Sate. Saya lupa waktu itu demonya tentang apa, yang jelas saat itu saya sedang teori paket. Wadir Kemahasiswaan kala itu sempat bertanya kepada rekan saya, Ilham Raihan, Menteri PSDM saat itu.

“Kalian (BEM) ga ikut demo di Gedung Sate?”

Mungkin ini menjadi tanda bahwa mahasiswa Polman diberikan lampu hijau untuk ikut demonstrasi bersama mahasiswa dari kampus lain. Dan menyimak cerita dari narasumber saya, tanda tersebut sudah terbukti.

Tak hanya di BEM, UKM Pers Polman pun mulai bernaung dalam aliansi pers mahasiswa se-Bandung, FKPMB. Menyadari bahwa kami perlu beraliansi agar kasus editorial yang menyeret saya tidak terulang, kami mulai menghubungi Kang Hasbi, sekjen FKPMB waktu itu. Setelah ikut beberapa kegiatan FKPMB, akhirnya kami secara resmi bergabung menyusul PING Polban, komunitas majalah kampus Ciwaruga.

Baca juga: Dikala Membangun Jurasic Man dari Awal Kembali (3)

Kabar terbaru, UKM Pers kini sudah beraliansi dengan pers mahasiswa dari politeknik se-Indonesia dalam APMPI. Kebetulan, sekjennya saat ini dari Bandung juga, yaitu dari Politeknik Piksi Ganesha.

Menurut saya, kembali aktifnya mahasiswa Polman dalam beraliansi dengan kampus lain, membuat pemikiran mereka menjadi lebih terbuka ketimbang sebelumnya. Walau mungkin, sebenarnya pemikiran mereka sudah mulai terbuka sejak lama, tapi belum nemu momen yang tepat aja.

Terbukanya Pemikiran Mahasiswa secara Umum

Seiring perkembangan media sosial, generasi muda saat ini udah mulai terbuka atas pendapat-pendapat yang bersifat pembaruan. Termasuk soal sosial budaya. Saya melihat, hal yang sama juga terjadi di kalangan mahasiswa kampus Kanayakan secara keseluruhan.

Beberapa mahasiswa Polman angkatan di bawah saya banyak mengeluarkan opini terkait permasalahan sosial budaya di masyarakat. Bahkan, ada yang pernah mengajak saya dalam sebuah forum diskusi yang diinisiasi oleh adik kelas.

Sejujurnya, untuk bagian terakhir ini, saya sudah kurang update lagi soal mahasiswa Polman selama setahun terakhir. Namun, setelah melihat info soal aksi yang diinisiasi oleh adik kelas, saya yakin mahasiswa Polman sekarang ini sudah berbeda dengan yang dulu.

Suasana saat aksi demo di depan Gedung Sate, Bandung | Harry R / JURASIC MAN
Risalah

Saat ini, mahasiswa kampus Kanayakan sudah lebih terbuka dengan pemikiran baru, serta mulai bergerak aktif dengan kampus lain. Semua itu didukung oleh lingkungan kampus yang mulai terbuka dengan masukan dari berbagai pihak dan memberi lampu hijau agar mahasiswa bisa ikut aksi turun ke jalan.

Semoga iklim demokrasi yang sudah terbangun di kampus Kanayakan sekarang ini bisa terjaga dengan baik dan dirawat oleh seluruh civitas akademika di sana. Saya, yang saat ini berstatus alumni, hanya bisa memberi masukan saja.

Oh iya, untuk menjawab tema konsolidasi BEM hari ini, “Sudah Tepatkah Aksi Polman?”, saya jawab: “Iya. Aksi kalian sudah tepat dan lanjutkan!” Pesan saya bagi mahasiswa kampus Kanayakan, jangan cuma sekedar ikut-ikutan sebuah aksi tanpa tau apa yang diperjuangkan. Mahasiswa adalah kaum intelektual. Maka sudah sewajarnya bagi mahasiswa untuk mengkaji sebuah isu penting dengan hati nurani dan ilmu yang dimiliki.

Panjang umur perjuangan!

Hidup Mahasiswa!

Hidup Pers Mahasiswa!

Tulisan terkait

Mungkin kamu pengen baca ini juga

Aice, Kenangan Masa Kecil, dan Pasar Es Krim Indonesia

Bisa dibilang, ini adalah pertama kalinya saya membuat artikel yang berhubungan dengan kuliner. Inspirasi artikel ini berawal dari teman kampus saya yang lagi “ngidam” Aice, sebuah merek es krim yang lagi ramai dibicarakan di media sosial. Sampai, dia bela-belain untuk mencari warung atau toko yang menjual es krim ini di sekitar kampus. Walaupun hasilnya nihil. […]

EKSKLUSIF!!!!:Gayus Kabur Lagi?

Reporter Teddy TV mendapat gambar eksklusif dari pertandingan Indonesia vs Filipina.Seseorang yg diduga Gayus Tambunan tertangkap kamera reporter kami saat meliput pertandingan.Dia duduk di belakang Presiden Susilo Bambang Yudhoyono,tepatnya di kelas VVIP.Mengapa Presiden kita tidak menyadarinya?Mungkinkah Presiden mengundang dia?Kita pun tak tahu.Di bawah ini adalah gambar hasil jepretan reporter kami. Postingan ini hanya sebagai pengingat […]

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *