Menjalani “Cinta Terlarang” dengan Omprengan Cengkareng-Kamal

Omprengan ini masih dibutuhkan oleh warga di ujung barat Jakarta sebagai transportasi komuter, meski fasilitasnya tidak senyaman armada Trans Jakarta dan dianggap ilegal oleh Pemerintah.

Jakarta, TeddyTV.xyz – Minggu pagi, saya sudah bersiap-siap mandi dan ganti baju. Bukan untuk bekerja, melainkan pergi ke Perpustakaan Nasional di Jl. Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat.

Untuk mencapainya, saya menggunakan bus TransJakarta dari Halte Rawa Buaya atau Halte Sumur Bor di Jl. Daan Mogot. Namun, dari kostan saya di kawasan Kamal, Jakarta Barat, tidak ada transportasi umum yang rutenya melewati halte tersebut.

Ada sih transportasi umum yang bisa saya gunakan, yaitu angkot KWK B11 rute Rawa Buaya – Rawa Kompeni PP. Tetapi menurut Trafi, ongkos yang harus saya keluarkan adalah Rp 10.000,-. Dengan catatan, saya naik bus TransJakarta dari Halte Sumur Bor.

Sebenarnya, saya bisa saja menggunakan ojek daring (online). Namun, ongkosnya bisa setara harga 1 Poundstrerling Inggris. Harga tersebut belum termasuk diskon dari kode promo yang ditawarkan oleh aplikasi ojek daring.

Solusi paling murah dan efektif bagi saya adalah menaiki mobil Daihatsu GranMax atau Suzuki Carry yang biasa ngetem di kawasan Tegal Alur, Jakarta Barat. Mobil tersebut biasa dikenal dengan nama “omprengan”.

Jejak Roda Omprengan di Indonesia

Sebelum gelombang berbagi kendaraan modern ala GrabHitch menghampiri sudut-sudut kehidupan saat ini, masyarakat Indonesia sudah lama mengenal konsep tersebut. Kita mengenalnya dengan konsep menebeng atau mengompreng.

Dilihat dari pengertian dan konsepnya, menebeng tidak sama dengan mengompreng, walau sekilas mirip. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, menebeng adalah “menumpang (makan, merokok, membaca surat kabar, dan sebagainya) tanpa membayar”.

Sedangkan konsep mengompreng sendiri berbeda dari segi pelakunya. Bagi sopir omprengan, mengompreng adalah “mencari penghasilan tambahan dengan menambangkan mobil (bus)”. Bagi penumpang, mengompreng adalah “menumpang kendaraan yang diomprengkan”.

Di kota-kota kecil atau di pedesaan, omprengan dikenal sebagai mobil butut yang dipakai untuk antar jemput pedagang ke pasar pada dini hari, di saat angkutan umum di wilayah tersebut belum beroperasi.

Konsep omprengan di kota metropolitan seperti Jakarta, diadopsi sebagai moda transportasi alternatif yang mendukung mobilitas para komuter untuk saling berbagi kendaraan (ride sharing) dalam perjalanan pulang pergi dari tempat kerja karena keterbatasan angkutan umum resmi yang tersedia. Salah satu bentuk pengadopsiannya di ibukota adalah mobil yang saya naiki kali ini, yang melayani rute Cengkareng – Kamal pulang pergi (PP).

Mengenal Omprengan Cengkareng – Kamal

Titik perjalanan mobil omprengan yang melayani rute ini dimulai dari perempatan Jl. Daan Mogot di bawah jembatan layang tol Jakarta Outer Ring Road (JORR). Lalu melewati kawasan Taman Palem, Menceng, hingga berakhir di Bundaran Kamal, Jakarta Utara. Rute sebaliknya merupakan kebalikan dari rute awal, dengan tambahan melewati putaran balik di depan Jl. Kayu Besar Dalam.

Salah satu mobil omprengan Cengkareng – Kamal yang sedang ngetem di Cengkareng, Jakarta Barat | Dok. Pribadi

Berdasarkan penelusuran petunjuk arah menggunakan Google Maps, panjang rute dari tiap perjalanan yaitu 7,6 km dari Cengkareng dan 10,3 km dari Bundaran Kamal. Itu artinya, untuk sekali perjalanan pulang pergi, omprengan tersebut menempuh jarak 17,9 km.

Mobil-mobil yang digunakan oleh armada omprengan tidak menggunakan formasi kursi angkot biasa, yang bisa membuat Anda “beradu” lutut dengan penumpang lainnya.

Yup, formasi kursinya seperti mobil pribadi yang biasa Anda naiki. Namun, jangan berharap fasilitas-fasilitas khas mobil pribadi bisa Anda jumpai di mobil omprengan ini. Paling banter ada fasilitas hiburan berupa musik, yang daftar putarnya tergantung selera supir.

Jika selera musik si sopir bagus, Anda akan disuguhkan lagu-lagu pop yang terkenal di masyarakat. Seperti lagu-lagunya Armada, Siti Badriah, atau mungkin lagu lawasnya Peterpan. Sayang, sepanjang pengalaman saya menggunakan omprengan ini, saya sering disuguhkan lagu-lagu berirama dangdut koplo. Yang liriknya kalau gak soal suami selingkuh, yahh soal selingkuhan si suami hamil duluan.

Untuk menempuh perjalanan dari Tegal Alur ke Cengkareng atau sebaliknya, saya cukup mengeluarkan ongkos Rp 6.000,- saja. Namun, jika saya memulai perjalanan saya dari Bundaran Kamal, saya dikenai ongkos Rp 7.000,-. Lebih murah ketimbang saya naik angkot KWK B11 yang belum tentu tersedia di saat saya butuh.

Awal Mula Kiprah Supir Omprengan

Pada Minggu pagi itu, saya bertemu dengan Pak Jalil, seorang supir omprengan yang baru 4 tahun berkecimpung di dunia moda transportasi yang sering dicap “ilegal” ini. Beliau berusia kurang lebih 45 sampai 55 tahun, terlihat dari uban yang muncul pada rambutnya.

Beliau menjalani pekerjaan tersebut sebagai kegiatan menghabiskan waktu di kala usia sudah tidak produktif. Alasan yang sama juga saya jumpai dari seorang supir omprengan lain yang saya lupa tanyakan namanya, sebut saja Pak Nurhadi. Beliau malah mempunyai pengalaman kerja di pertambangan offsore yang dimiliki oleh perusahaan asing di Indonesia.

Meskipun begitu, pekerjaan ini juga dilakoni oleh anak-anak muda di daerah sekitar operasi omprengan tersebut yang belum mendapatkan pekerjaan formal. Dari pengakuan seorang supir omprengan muda yang tak mau disebut namanya, dia mengambil pekerjaan tersebut karena mengisi waktu luang di akhir pekan sebelum kembali menjadi siswa di sebuah SMA di Jakarta Barat pada hari Senin-Jumat.

Seorang supir omprengan berusia muda yang sedang menunggu penumpang | Dok. Pribadi

Kembali ke Pak Jalil. Awal mula beliau mengambil pekerjaan ini dimulai ketika beliau membantu temannya untuk mengantar orang tua temannya tersebut ke rumah sakit. Temannya tersebut tidak bisa mengantar karena sedang ada urusan penting. Nah, di saat itulah Pak Jalil menawarkan bantuan untuk mengantar. Seiring waktu, Pak Jalil dipercaya oleh temannya tersebut untuk membawa mobil tersebut untuk mengompreng, sampai sekarang.

Kisah awal mula yang berbeda pernah saya temui dari seorang supir omprengan yang hendak mengusahakan anaknya yang masih pengangguran untuk menjadi supir omprengan. Sampai-sampai, saya harus sedikit “terlibat” dalam drama kecil di keluarga tersebut karena si anak terkesan ogah-ogahan saat dijemput di rumahnya.

Kok bisa terlibat? Karena saya duduk di kursi depan. Sehingga otomatis, saya dijadikan “teman curhat” si bapak tersebut. Duh, ada-ada aja hehe

Lebih Niat Walau Ilegal

Meski cerita awal mula tiap supir omprengan masuk ke ranah transportasi ini berbeda-beda, yang pasti saat ini mobil omprengan ini tetap eksis dan dibutuhkan bagi masyarakat Cengkareng, Kamal, dan sekitarnya. Hal tersebut karena waktu operasional dan banyaknya armada mobil ini lebih “niat” ketimbang mobil angkot yang diakui oleh Dinas Perhubungan DKI Jakarta.

Dari penuturan Pak Jalil, operasional omprengan Cengkareng – Kamal bisa sampai 24 jam, dengan konsekuensi waktu ngetemnya bakal lebih lama ketika tengah malam dan dini hari. Walau saya sendiri belum pernah merasakan naik omprengan ini di jam kalong, namun saya sendiri pernah melihat mobil tersebut tetap ngetem menunggu penumpang di dekat JPO ke Halte Rawa Buaya pada jam 12 malam dan 3 pagi.

Banyaknya armada dari mobil omprengan ini pun masih menarik minat masyarakat sekitar untuk menggunakan transportasi ini. Di kala pagi hingga jam 8 malam, mobil omprengan ini selalu hilir mudik melewati jalan-jalan di ujung barat Jakarta. Saking banyaknya, Anda akan melihat beberapa mobil omprengan ini yang ngetem di beberapa tempat strategis, seperti depan pabrik, sekolah, atau malah di tengah persimpangan.

Hal yang berbeda justru saya temui pada angkot KWK B11. Saat waktu masih menunjukkan jam 7 malam pun, angkot ini sudah tidak nampak di kawasan Tegal Alur. Pada jam-jam kerja pun, jarang sekali saya melihat angkot ini melewati Jl. Benda Raya, yang seharusnya dilewati oleh angkot ini ketika beroperasi.

Jarangnya angkot ini pada jam-jam kerja, membuat saya meragukan banyaknya armada yang melayani rute ini. Meski ada kemungkinan, angkot ini berhenti di suatu jalan karena okupansi penumpangnya yang menuju Kamal dan Rawa Kompeni agak jarang.

Meskipun lebih niat beroperasi, mobil omprengan rute Cengkareng – Kamal ini tetap bisa dibilang ilegal. Pasalnya, semua mobil yang melayani rute ini menggunakan plat nomor polisi berwarna hitam, yang seharusnya diperuntukan untuk kendaraan pribadi.

Dikutip dari situs Organda, yang menulis ulang berita dari Infonitas.com pada tahun 2016, Ketua DPD Organda DKI Jakarta, Shafruhan Sinungan, mengatakan, pada rute tersebut sebenarnya sudah ada angkutan resmi yang beroperasi, yaitu KWK B14.

Tetapi, fakta berkata lain. Dari aplikasi Trafi, angkot KWK B14 ternyata melayani rute Grogol (Citraland) – Cengkareng PP.

Rute angkot yang terdaftar kemungkinan besar sudah ditutup atau tidak diperpanjang izin trayeknya oleh Dishub DKI Jakarta. Dari keluhan salah satu pengguna LAPOR!, layanan aspirasi pelayanan publik yang dikelola Kemenpan RB, pada tahun 2013, saya mendapati bahwa awalnya terdapat angkot yang melayani rute pulang pergi dari Citraland sampai ke Kamal, yaitu angkot KWK B07A. Namun di aplikasi Trafi, saya tidak menjumpai rute ini tampil di daftar trayek angkot yang beroperasi di Jakarta.

Bukannya tak ada upaya dari pihak-pihak terkait agar omprengan yang dikendarai oleh Pak Jalil dan sopir lainnya bisa menjadi angkutan umum resmi. Kasudin Perhubungan dan Transportasi (Hubtrans) Jakarta Barat, Tiodor Sianturi, mengungkapkan bahwa tak menutup kemungkinan jika omprengan tersebut dijadikan sebagai angkutan umum resmi.

Tiodor menambahkan, pihaknya bersama kepolisian akan melanjutkan pembahasan legalisasi ini dengan perwakilan omprengan plat hitam rute Cengkareng – Kamal.

Pembahasan legalisasi rute Cengkareng – Kamal sebenarnya sudah pernah dilakukan pada medio 2015. “Sekitar empat bulan silam, digelar pertemuan bersama membahas aspirasi ratusan sopir omprengan plat hitam di kantor Satlantas Polres Jakbar. Para sopir meminta angkutan kota rute Cengkareng -Kalideres diresmikan,” ujar Tiodor Sianturi pada hari Jumat (5/1/2016), dilansir dari Berita Jakarta.

Faktanya hingga tulisan ini ditulis, saya belum melihat tindakan berarti yang dilakukan oleh pihak-pihak terkait perihal legalisasi omprengan rute Cengkareng – Kamal. Meskipun begitu, saat operasi tilang dilakukan di dekat tempat ngetem omprengan ini di Cengkareng, saya tidak melihat pihak Dishub dan Kepolisian menilang supir-supir omprengan tersebut, malah terkesan dibiarkan. Para supir hanya diminta untuk ngetem di lokasi yang agak jauh dari lokasi operasi tilang.

Tetap Dibutuhkan Dikala Bersaing dengan Transportasi Online

Berkembangnya jasa transportasi berbasis online saat ini turut menggerus pendapatan para sopir omprengan Cengkareng – Kamal, termasuk Pak Jalil. Dia membandingkan pendapatan yang diperolehnya sebelum dan sesudah ojek dan taksi online merajalela.

“Dulu, pendapatan saya bisa sampe 200 ribu. Itu tuh udah dipotong sama uang setoran 80 ribu. Sekarang mah, dapet 100 ribu aja udah seneng banget,” tutur beliau.

Selain itu, usaha yang harus dilakukan agar terkejar target setoran jadi semakin lama. Saat ini, beliau mulai mengangkut penumpang dari jam 5.30 hingga jam 8 pagi. Kemudian berlanjut dari siang hingga jam 6 sore. Tak menutup kemungkinan, cerita berbeda dialami oleh sopir omprengan lainnya.

“Kalo kita rajin ngetem di Cengkareng sama Kamal, sekali perjalanan itu bisa dapet 60 ribu. Itu pun kalo semuanya ke Kamal”, tambah beliau.

Meskipun harus bersaing ketat dengan transportasi online, omprengan di rute yang dilayani Pak Jalil dan rekan-rekannya masih dibutuhkan oleh masyarakat yang tinggal di daerah Kamal, Tegal Alur, Menceng, dan Kayu Besar. Masih dari situs Organda, salah seorang warga Tegal Alur mengutarakan opininya perihal kebutuhan akan moda transportasi ini.

“Kalau tidak ada angkutan ini, kita bagaimana bekerja ke sana-kemari? Kalau naik ojek dari perempatan Kapuk-Kamal, mahal. Angkutan resmi tidak ada. Kalau naik ini, paling Rp 8 ribu,” ujar Ridho (27), warga Tegal Alur yang sudah lama menjadi penumpang setia omprengan.

Tak hanya Ridho, berbagai kalangan warga pun juga membutuhkan omprengan ini. Dari pengamatan saya, kebanyakan yang menggunakan omprengan ini adalah warga pendatang dengan penghasilan di bawah sampai menengah ke bawah dengan profesi beragam. Mulai dari anak sekolah, ibu-ibu yang hendak belanja di Pasar Cengkareng, buruh pabrik, hingga orang-orang yang hendak berolahraga di GOR Kamal tiap hari Minggu.

Itulah kenapa, warga-warga tersebut, termasuk saya, sampai saat ini masih menjalani “cinta terlarang” dengan omprengan Cengkareng – Kamal. Ongkosnya yang murah dan bisa diandalkan menjadi pertimbangan paling rasional bagi mereka, meski statusnya saat ini masih ilegal di mata Pemerintah.

Perlu keseriusan dari pihak-pihak terkait agar legalisasi omprengan ini bisa segera terwujud. Bila terwujud, tak menutup kemungkinan rute ini akan diintegrasikan dalam sistem Jak Lingko (dari sebelumnya bernama OK Otrip) yang diperkenalkan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. Semoga dengan hal tersebut, saya dan warga lainnya tak perlu ragu lagi akan resminya hubungan kami dengan “Si Cinta”, omprengan Cengkareng – Kamal.

Tulisan terkait

Mungkin kamu pengen baca ini juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *