Menengok Pola Acara KompasTV Setelah 1 Dekade

Perbedaan pola acara KompasTV di tahun 2011 dan 2021 cukup menarik. Apa yang bisa kita lihat dari perbedaan ini untuk Kompas TV ke depannya?

19 September 2021, 21:59 WIB.

Selesai saya menyelesaikan “tugas negara mingguan” (baca: nyetrika baju), saya menyalakan TV saya yang terhubung ke set top box (STB).

Saya menjatuhkan pilihan ke KompasTV untuk menemani malam saya sebelum tidur. Saat channel berita tersebut mulai muncul di TV, presenter Nitia Anisa sedang menutup acara Kompas Malam. “Oh, acara selanjutnya paling cuma siaran ulang acara berita, kayak stasiun TV berita sebelah,” pikir saya saat itu.

Nyatanya saya salah. Setelah Kompas Malam, acara selanjutnya adalah sebuah dokumenter tentang keragaman laut Indonesia. Teknik pengambilan gambarnya sangat bagus kayak saluran TV luar negeri. Tapi, kok rasanya saya familiar dengan acaranya?

Ternyata acara dokumenter itu adalah Teroka, acara lama KompasTV saat pertama mengudara 10 tahun silam. Acara tersebut pernah tayang di jam prime time (jam-jam stasiun TV banyak ditonton orang). Kalo nggak salah, di hari Senin jam 8 malam WIB.

10 tahun lalu, KompasTV menawarkan suguhan acara menarik saat itu. Mereka harus berhadapan dengan stasiun TV eksisting yang pada jam segitu sedang menyiarkan sinetron.

Bicara soal KompasTV, stasiun TV ini baru saja merayakan ulang tahunnya pada tanggal 9 September lalu. Gak kerasa, stasiun TV yang dulu punya logo “K”-ikonik ini udah memasuki 1 dekade.

Bahkan, mereka menyambut momen hari jadinya kali ini dengan tema “1 Dekade Menjadi Teman Terpercaya”. Tema yang sangat relate dengan jargon mereka semenjak jadi TV berita: Aktual, Tajam Independen, Terpercaya.

Walau tagline-nya sangat mencirikan stasiun TV berita, nyatanya mereka memulai siarannya dengan suguhan program general entertainment seperti stasiun TV lainnya.

Emang Gimana Acara KompasTV 10 Tahun Lalu?

Mari kita lihat jadwal acara KompasTV pada tahun 2011 lalu. Untuk memudahkan kalian, saya suguhkan dalam bentuk PDF di bawah ini. Saya menyuplik jadwal ini dari arsip web KompasTV yang direkam pada 4 Oktober 2011 melalui tautan ini.

Kalo kalian perhatiin, dulu Kompas TV cuma punya 7 acara berita (yang saya tandai dengan warna biru muda), yaitu Kompas Pagi, Kompas Siang, Kompas Petang, Kompas Malam, berita lokal, Sporty, dan Kompas Update (gak saya tampilin karena durasinya bentar dan muncul setiap 1 jam).

Oh iya, awalnya Kompas TV mengudara selama 20 jam setiap hari. Artinya, mereka punya total durasi siaran selama 140 jam dalam satu minggu.

Dari jadwal di atas, kita bisa melihat apa aja “isi” siaran mereka sebanyak 140 jam itu. Ini dia rinciannya:

  • Acara berita (warna biru muda): 35,5 jam atau 25,4%
  • Talkshow (warna biru tua): 10 jam atau 7,1%
  • Current Affairs (warna oren): 2 jam atau 1,4%
  • Magazine (warna oren kemerahan): 5,5 jam atau 3,9%
  • Dokumenter (warna hijau muda): 31 jam atau 22,1%
  • Edutainment (warna hijau toska): 21,5 jam atau 15,4%
  • Infotainment (warna biru telor asin): 4 jam atau 2,9%
  • Entertainment / hiburan (warna ungu): 28 jam atau 20%
  • Acara lokal (warna putih): 2,5 jam atau 1,8%
Hmm kalian bingung apa itu current affairs, magazine, dan lainnya? Saya menggunakan definisi beberapa jenis program tersebut dari tautan berikut. Semoga bisa membantu.

Kesembilan jenis acara tersebut saya runcingkan jadi 2 jenis, yaitu acara informasi dan hiburan. Sehingga, didapatkan acara KompasTV memiliki komposisi acara yang terdiri dari 60% informasi dan 40% hiburan.

Khusus untuk 2,5 jam acara lokal, saya asumsikan acara tersebut merupakan acara hiburan. Mengapa? Karena saya merujuk pada apa yang ditayangkan oleh STV Bandung ketika pertama bergabung dengan Kompas TV. Saat itu, mereka menayangkan acara musik Sunda di jam 5:30 WIB pada hari Senin sampai Jumat.

Ternyata, penghitungan saya di atas sama persis dengan profil Kompas TV yang tayang pada Kompas Pagi edisi 9 September 2021. Saya berhasil screen capture video tersebut dan ini dia hasilnya:

acara kompas tv
Profil Kompas TV untuk memperingati ulang tahunnya yang ke-10 | INSTAGRAM @valentinastrs

Oh iya, mari kita bicara soal siaran lokal. Sewaktu awal mengudara, siaran KompasTV diteruskan oleh stasiun TV lokal di 9 kota besar. Dalam penyiaran, sebuatannya “di-relay“. Itu artinya, KompasTV “memakai” jam siaran-nya TV lokal yang diajak kerjasama dengan mereka.

Meski begitu, TV lokal juga punya siarannya sendiri. Tapi porsinya lebih sedikit ketimbang siaran dari KompasTV. Pada awal siaran, siaran lokal KompasTV ditayangkan pada jam 5:00 – 6:00 WIB; 10:00 – 12:00 WIB; 15:00 – 16:30 WIB; dan 0:00 – 1:00 WIB. Serta di jam 5:00 – 6:00 WIB; 15:00 – 16:30 WIB; dan 0:00 – 1:00 WIB tiap Sabtu dan Minggu.

Jika dihitung, TV lokal anggota jaringan KompasTV punya “jatah” 25% dari total 140 jam siaran. Saya kurang tau gimana hitungan KompasTV sampe bisa bilang “siaran lokal mereka sebanyak 30%” (:

Hal tersebut sebenarnya masih sesuai dengan peraturan penyiaran. Perlu kamu tau, bahwa KompasTV memakai sistem siaran berjaringan yang diamanatkan dalam UU Penyiaran. Dimana, sistem siaran berjaringan harus memiliki siaran lokal minimal 10% dari total jam siaran.

Eitss tapi bentar dulu….

Di awal kehadirannya, KompasTV ceunah diluncurkan sebagai “content provider” doang, alias cuma nyuplai acara buat TV lokal. Begitu sih kalo kata Pimred KompasTV, Taufik Mihardja.[1]

Jadi, siaran TV lokal yang diajak kerja sama itu tetep nama TV lokalnya aja, bukan nama KompasTV-nya. Itu kenapa pas awal-awal siaran, KompasTV ngumpetin kata TV-nya biar gak ribut sama KPI hehehe.

Walau sekarang, kita tau sendiri kalo KompasTV udah fix jadi stasiun TV nasional. Semua TV lokal yang diajak kerjasama pun akhirnya pake nama KompasTV juga (:

Kapan-kapan kita bahas deh soal fenomena TV lokal yang jadi cabang TV nasional ini. Antara di blog atau Instagram Suar Pemancar. Klik tombol di bawah biar tau kapan rilisnya ;) 

Terus Gimana Setelah 1 Dekade?

Bisa dibilang, 5 tahun pertama-nya KompasTV tuh adalah reinkarnasi dari TV7, stasiun TV yang pernah “berteduh di payung” Kompas Gramedia dan mayoritas sahamnya udah dibeli sama Trans Corp.[2]

Gimana nggak, KompasTV ketika itu masih mengandalkan acara hiburan dalam 40% siarannya. Namun dari semua acara hiburan yang pernah tayang, hanya Stand Up Comedy Indonesia saja yang masih bertahan hingga sekarang.

Pada tahun 2016, KompasTV resmi berubah haluan sebagai stasiun TV berita. Saingannya pun jadi lebih sedikit: MetroTV, tvOne, iNews, CNN Indonesia, dan BeritaSatu. Sebenarnya hal ini nggak mengagetkan, mengingat namanya yang udah terlekat nama besar koran “Kompas”.

Mari kita melihat komposisi acaranya sekarang ini dalam jadwal yang saya ambil dari vidio.com. Jadwal ini juga saya olah dalam bentuk PDF.

Tentu saja, saya memberi banyak warna biru muda pada kolom acara yang memang acara berita. Namanya juga TV berita hehehe. Tapi seberapa banyak sih komposisi acara berita dalam siaran KompasTV sekarang ini?

Jawabannya 58,6%, alias 98,5 jam dari total 168 jam siaran (24 jam x 7 hari).

Walau polanya tidak sevariatif pada tahun 2011, kita bisa melihat kecenderungan acara non-berita yang tayang pada hari Sabtu dan Minggu. Komposisi acara non-berita KompasTV dalam siarannya adalah sebagai berikut:

  • Talkshow (warna biru tua): 35 jam atau 20,8%
  • Current Affairs (warna oren): 7 jam atau 4,2%
  • Magazine (warna oren kemerahan): 5 jam atau 3%
  • Dokumenter (warna hijau muda): 13 jam atau 7,7%
  • Blocking Time (warna kuning): 9,5 jam atau 5,7%

Bagi yang belum tau, blocking time adalah waktu siaran yang disediakan oleh stasiun TV kepada pihak yang ingin mempromosikan produk / jasa atau menyiarkan acaranya di televisi. Acara-acara semacam WIB Tokopedia, Munas Partai Perindo, dan Konser Ruang Guru di beberapa stasiun TV adalah contoh acara blocking time yang kita kenal sekarang ini.

Sebenernya sih, KompasTV sudah menyediakan blocking time dari dulu. Tapi emang agak jarang. Kebetulan pada riset tulisan ini, jadwal KompasTV di hari Jumat-nya sedang ada blocking time yang diisi oleh acara “Special Program“.

Lalu gimana dengan siaran lokalnya? KompasTV mengurangi porsi siaran lokalnya di daerah selain Jakarta. Sekarang, siaran lokalnya cuma 10,42% dari total 168 jam siaran. Yahh, angka ini masih masuk angka “minimal” sihh.

Waktu siarannya pun hanya dari jam 4:30 sampai 7:00 WIB tiap hari. Itulah kenapa kalian gak bisa nonton Kompas Pagi di jaringan KompasTV luar Jakarta.

Strategi ini mungkin dipilih karena di jam-jam segitu siaran lokalnya gak rawan “diganggu” sama Breaking News. Secara kan mereka udah jadi TV berita, yang pastinya harus up-to-date sama peristiwa terkini. Ini bukan kata saya, tapi kata temen saya sesama pengamat TV. Yahh ada benernya juga sih….

Baca juga: Mengapa TV Digital Bisa Membuat Pengalaman Nonton TV Jadi Berbeda?

Pada saat tulisan ini dibuat, kebetulan KompasTV sedang nggak ada acara hiburan sama sekali. Meski begitu, mereka sempat punya acara hiburan yang tayang beberapa waktu lalu. Diantaranya adalah Comedy Lab dan Stand Up Comedy Indonesia Season IX.

Walau sudah berganti konsep jadi TV berita, KompasTV masih menyajikan “feel” saat masih ber-slogan “Inspirasi Indonesia”, alias saat awal-awalnya mereka bersiaran.

Beberapa program dokumenter yang pernah tayang, kini disiarkan kembali di jam-jam tertentu (yang saya tandai dengan warna hijau pada jadwal di atas). Salah satunya adalah acara yang saya sebutkan pada awal tulisan ini.

Kalo kalian perhatikan lagi jadwal di atas, 8% dari total jam siaran KompasTV diisi oleh acara-acara lama mereka. Bahkan jika kita memasukkan acara KompasTV lama yang masih diproduksi sampai sekarang (termasuk acara berita), angka tersebut bisa menjadi 31,5%.

KompasTV Sekarang yang Sangat Terasa “Kompas”-nya

Saya udah lama banget mengamati KompasTV dari awal siaran sampe sekarang. Mulai dari kontrovesinya di awal siaran sampe acara-acaranya. Bahkan, saya menjadikan acara dokumenter yang pernah tayang di KompasTV sebagai “standar” acara dokumenter lokal yang bagus (thanks to Pak Apni Jaya Putra and team).

Acara hiburan mereka sebenarnya bisa dipertimbangkan kualitasnya. Sayang, mereka harus bersaing di tengah masyarakat kita yang masih demen acara TV berjenis drama (sinetron, FTV, dll).

Gak ada yang salah sih sebenernya. Hanya saja. KompasTV waktu itu belum punya “big power” yang bisa menggiring banyak penonton . Wong saingannya kelas berat semua: RCTI, SCTV, dan TransTV.

Meski acara hiburannya seret, saya malah menyukai pola acara KompasTV yang sekarang: penuhin weekdays sama acara berita, weekend-nya sedikit releks dengan dokumenter.

Menurut saya, pola acara ini semakin mempertegas posisi KompasTV sebagai stasiun TV yang membahas Indonesia dari 2 sisi: sisi “hard” melalui berita, dan sisi “soft” melalui dokumenter.

Harus diakui, KompasTV sekarang ini sangat terasa sekali dengan pemberitaan khas koran Kompas. Itu artinya, Kompas Gramedia, berhasil menelurkan produk jurnalistiknya dalam siaran televisi. Sebuah pencapaian yang sebenarnya sudah diharapkan sejak mereka bekerjasama dengan Indosiar dalam produksi buletin berita “Fokus” pada tahun 1996 lalu.[3]

Sehingga, sekarang kita bisa melihat variasi acara berita yang diproduksi oleh KompasTV. Baik yang dibuat di Jakarta dan uga yang di daerah. Namun, bukan berarti KompasTV hanya cukup memproduksi acara berita saja.

Jika pandemi Covid-19 telah usai, saya harap KompasTV kembali membuat dokumenter baru agar pola acaranya gak melulu rerun acara-acara lama. Apakah keinginan saya tersebut bisa terwujud?

Kita liat aja gimana pola acara KompasTV 10 tahun mendatang.

Referensi

[1] detikNews. 2011. “KompasTV: Kami Content Provider, Tidak Perlu Izin Siaran”. Detikcom, diakses 18 November 2021.

[2] detikFinance. 2006. “Gramedia Lepas TV7 ke Trans TV”. Detikcom, diakses 18 November 2021.

[3] SK, Ishadi. 2014. Media dan Kekuasaan: Televisi di Hari-Hari Terakhir Presiden Soeharto. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.


Catatan: Terima kasih telah membaca tulisan terbaru Suar Pemancar. Mulai dari tulisan ini, saya mengubah format penulisan artikel di blog Suar Pemancar menjadi lebih luwes tapi tetap merujuk pada literasi yang jelas dan terpercaya. Semoga kalian menyukai format baru ini. Kalo ada masukan, bisa dikirim ke suarpemancar@gmail.com atau DM Instagram @suarpemancar

Tulisan terkait

Mungkin kamu pengen baca ini juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *