Bagaimana Quarter Life Crisis Mengubah Saya dan Blog Ini?

Sudah hampir setahun saya berusaha beradaptasi dengan realita kehidupan dan pergolakan batin, hingga membuat saya hampir berniat untuk bunuh diri dan meninggalkan semuanya. Lalu, apa hubungannya dengan blog ini?

Bulan September 2018, saya mengalami kegelisahan dan tekanan batin yang luar biasa. Gimana nggak? Kontrak kerja saya di sebuah industri pengemasan di Jakarta akan berakhir. Di sisi lain, saya belum ada alternatif untuk melamar kerja di perusahaan lain, khususnya di Bandung.

Berhubung saya sedang berdomisili di Jakarta dan saya ada keinginan untuk bekerja di media, saya mencoba untuk mengirim lamaran kerja ke tiga stasiun televisi nasional. Pertama, melamar di bagian media sosial, lalu di bagian broadcast maintenance, dan terakhir di bagian Master Control Room. Namun sampai tulisan ini terbit, belum ada satupun lamaran tersebut yang berbalas panggilan dari personalia / HRD. Mungkin karena latar belakang pendidikan saya, yaitu Teknik Mekatronika, yang belum dikenal oleh orang awam.

Iya, dulu saya merasa salah jurusan saat kuliah. Saya pengennya masuk Teknik Informatika atau Ilmu Komunikasi. Akibatnya, IPK semester awal aja udah hampir jeblok (seinget saya 2,21). Namun seiring waktu, kondisi saya di jurusan tersebut sudah bisa diterima dan berakibat nilai IPK saya bisa naik seiring bertambahnya semester.

Akhirnya, saya memutuskan untuk memperpanjang kontrak kerja saya, walau agak terpaksa. Bukan karena kondisi kerjanya yang kurang nyaman, dimana saya sendiri masih memaklumi hal tersebut. Tetapi karena dari dalam diri saya masih ada pergulatan ego. Apakah tetap menjadi idealis dengan pekerjaan dan kehidupan sosialnya? Atau menjadi realistis dan menerima kehidupan sebagai “budak korporat”?

Saya sudah mencoba berdamai dengan situasi saya saat ini. Bahkan sampai jeda dari media sosial, tempat kemungkinan besar banyak “pameran” kehidupan ideal. Iya, IDEAL. Contohnya kayak kuliah di jurusan yang lama diinginkan, dapet kerja / pelatihan di Jepang, atau bekerja di perusahaan BUMN yang bonafit.

Awal Oktober 2018, saya menghadiri acara wisuda adik-adik kelas saya, yang pernah berada dalam satu naungan di UKM Pers kampus yang saya rintis kembali kegiatannya. Acara tersebut bisa dibilang menjadi semacam “reuni” kecil-kecilan. Alasannya, karena saya bertemu teman-teman angkatan saya, baik yang bergelar D3 seperti saya, dan juga bergelar D4 yang ikut diwisuda kemaren.

Meski dibilang sebagai reuni, saya sebenearnya ingin menghindari cerita-cerita mereka yang “lebih sukses” dari saya. Namun, mau tak mau saya harus mendengar cerita mereka. Termasuk menceritakan kondisi pekerjaan saya, yang bisa dibilang sebagai mahasiswa lulusan 2017 yang kondisi hidupnya malah “melarat”.

Sampai muncul satu pertanyaan yang membuat saya menyesali tujuan saya menghadiri wisuda itu:

“Ted, kenapa gak pindah tempat kerja aja?”

Dorrrrr……. Setelah mendengar pertanyaan tersebut, rasanya seperti ada peluru yang baru saja nembus kepala saya. Bagi saya, yang belum mendapat jawaban dari lamaran kerja terakhir dan terpaksa memperpanjang kontrak kerja di perusahaan lama, membuat batin saya yang awalnya “dikuat-kuatin” akhirnya goyah juga.

Efek menghadiri acara wisuda tersebut masih terasa hingga awal November 2018. Ditambah, beban pekerjaan saya yang semakin tak tentu arah, membuat rasa penyesalan pun semakin menjadi….

Akibatnya, saya sampai tidak ada semangat untuk melakukan aktivitas bulanan saya saat pulang ke Bandung, termasuk membimbing anggota Saka Kominfo Kota Bandung. Rasanya, saya ingin segera mengakhiri kontrak saya di sana. Kalo bisa, mengakhiri hidup aja sekalian!

Ya, saya pernah terpikir untuk bunuh diri. Walau hanya sekali dua kali.

Takut terjadi sesuatu yang lebih buruk pada diri saya, akhirnya saya mulai mencari tahu apa yang terjadi di dalam diri saya akhir-akhir ini. Saya butuh teman cerita untuk mengungkapkan kegelisahan saya. Sayang, orang tua saya tidak bisa diandalkan untuk mendengar kegelisahan saya.

Keluarga besar? Helehh, saya pilih magang di kampus aja komentarnya bikin sakit hati.

Teman-teman saya? Saya juga sudah berusaha untuk menghubungi teman-teman saya yang mungkin bisa memberi saran. Sayang, beberapa di antara mereka sudah mulai menjalani kehidupan ninjanya masing-masing.

Bahkan, ketika saya hendak bercerita dengan teman saya yang sama-sama “salah jurusan” sekalipun, saya malah dibilang PHO (Pengganggu Hubungan Orang) oleh pacarnya. Untuk yang ini, saya ada miskom sih. Jadi, saya kesannya maksa gitu untuk bertemu langsung. Terlebih, teman saya itu cewek.

Pada akhirnya, teman saya tersebut memaafkan kekhilafan saya itu dan kembali terbuka untuk mendengar cerita saya. Meski begitu, semenjak dibilang sebagai PHO, saya sudah merasa segan untuk mengajak teman saya tersebut untuk mendengar cerita dan berdiskusi kembali. Entah mengapa….

Akhirnya, saya lebih memilih bercerita ke teman saya yang sedang menempuh skripsi di jurusan Broadcasting salah satu PTS di Bandung. Kebetulan, teman saya ini pernah bekerja di biro psikologi. Dia mau mendengarkan dan komentarnya tidak sampai menyakitkan. Dia juga yang merekomendasikan saya untuk membuat tulisan yang sedang Anda baca ini. Tujuannya, agar segala rasa depresi saya bisa diluapkan dari artikel “pertama” di tahun baru ini.

Setelah bercerita, ada perasaan lega yang terasa. Tapi saya masih penasaran dengan apa yang menimpa saya sekarang ini. Dulu saat kuliah, saya nggak pernah tuh ngalamin turunnya semangat kalo mau melakukan apapun. Saya akhirnya mencari-cari biang keladi tersebut di internet.

Setelah penelusuran semalam suntuk, saya mendapatkan jawaban atas apa yang saya rasakan akhir-akhir ini. Saya mengalami masa yang disebut quarter life crisis. Dari tulisan di Pijar Psikologi, saya memahami bahwa saat ini saya sedang memasuki tahap emerging adulthood (fase di antara remaja dan dewasa). Orang-orang yang termasuk dalam kategori tersebut seringkali merasa tertekan akan faktor internal maupun eksternal.

Faktor internal misalnya, generasi milenial dihadapkan dengan banyaknya aspek hidup yang harus dipikirkan. Mulai dari jodoh, karir, hingga aspek spiritual (keyakinan). Faktor eksternal seperti adanya intimidasi harapan-harapan publik yang seakan menuntut untuk dipenuhi. Setelah saya pikir lagi, faktor-faktor tersebut bener-bener sedang saya alami saat ini.

Salah satu poin penting yang saya ambil dari tulisan di Pijar Psikologi tersebut, sekaligus menjadi pertanyaan besar bagi diri saya adalah: “Kemudian kamu mulai mempertanyakan kembali ideologi dan kepercayaan yang kamu pegang selama ini?”

Bicara soal ideologi, saya jadi teringat dengan ketua kelas saya di kampus dulu. Dia pernah berkata seperti ini: “Alus maneh ted euy, bisa jadi orang idealis di kampus ieu” (“Bagus kamu ted, bisa jadi orang idealis di kampus ini”).

Hal tersebut dia katakan mengingat kampus kami yang sistemnya cukup mengekang orang-orang untuk bisa berekspresi dan mengutarakan pendapat. Maklum, kami berada di kampus teknik yang terjebak nostalgia sebagai “politeknik terbaik”.

“Ah, idealis timana? Mun kondisina teu puguh mah urang teu saklek teuing. Realistis keneh lah” (“Ah, idealis darimana? Kalo kondisinya ga jelas mah, saya ga terlalu maksa banget. Masih realistis lah”), jawab saya kala itu.

Idealis yang dimaksud oleh ketua kelas saya dilihat dari aktifnya saya di UKM Pers Mahasiswa, yang saya rintis kembali kegiatannya dari awal. Kala itu, saya berani merilis editorial yang mengkritik pemeliharaan fasilitas kampus dan didukung oleh hasil survei terhadap mahasiswa. Sampai-sampai saya harus sabar menghadapi tekanan dari ketua jurusan sendiri, pembina UKM, dan wakil direktur kemahasiswaan. Cerita lengkapnya bisa kalian baca di tulisan saya yang terbit di blog UKM Pers kampus saya (yang mungkin juga menjadi tulisan terakhir blog tersebut).

Nah, dengan kondisi saat ini, dimana saya sudah melepas status “mahasiswa” dan sudah berkutat dengan realita pekerjaan dam kehidupan, apakah ideologi yang saya percaya dulu harus saya lepas? Apa saya harus pasrah menjadi budak korporat dan mengesampingkan semua tanggung jawab yang saya ambil di masa lampau?

Dan jawabannya adalah….

Belum tahu. Namun untuk saat ini, saya belum mengubah ideologi yang saya percaya selama ini. Itupun jika saya berhasil mempertahankannya sampai 10 tahun ke depan.

Oke, jika saya masih dibilang idealis, tetapi saya juga tidak bisa memaksakan kehendak jika mimpi saya tersebut harus kandas karena realita yang ada. Saya masih ada tanggung jawab di organisasi yang ikuti sampai sekarang.

Saya juga bersyukur, orang tua saya, khususnya ibu saya, tidak menuntut apa-apa soal karir. Bagi beliau, yang penting saya mendapat pekerjaan dan bisa menghidupi diri saya sendiri. Saya bersyukur orang tua saya tidak memaksakan saya untuk bekerja di bidang tertentu, walau sebenarnya ada harapan agar saya menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) seperti paman, om, dan nenek saya. Yahhh namanya juga orang tua. Pemikirannya masih cukup kolot kan?

Mungkin, inilah saatnya bagi saya menjadi orang yang berguna di kehidupan ini. Salah satunya dengan menggapai mimpi saya terdahulu, yaitu mengembangkan sebuah media. Lebih tepatnya, media alternatif yang bisa membawa harapan dan inspirasi bagi masyarakat. Media yang bisa menjadi wadah bagi saya untuk menyalurkan kreatifitas dan karya-karya saya.

Namun, saya juga tidak bisa mengembangkan media tersebut sendirian. Saya perlu rekan-rekan yang bisa diajak berkarya bareng dan mau belajar hal-hal baru. Saya juga perlu modal untuk mengembangkan media saya ini (jujur weh ini mah, ujung-ujungnya pasti duit hehe).

Akhirnya, saya menjatuhkan pilihan untuk mengembangkan blog saya yang sempat “hidup segan mati tak mau”, yaitu blog yang sedang Anda akses ini.

Mengapa disebut demikian? Karena kalo dibilang terurus, konten blognya gak seproduktif dulu. Tapi kalo dibilang gak keurus, saya masih membayar domain .xyz yang saya beli pada tahun 2015 lalu.

Jadi, mulai tahun 2019, blog ini akan saya kembangkan sebagai sebuah media alternatif yang membahas televisi, teknologi, transportasi, dan mengupas kehidupan sosial budaya masyarakat (atau sebutan luasnya humaniora). Saya memilih keempat topik itu karena topik-topik tersebut menarik perhatian saya sejak SMK hingga lulus kuliah.

Setelah memutuskan untuk mengembangkan media alternatif, saya mulai mengambil kursus web programming, belajar pengelolaan website menggunakan WordPress, mencari jasa hosting website, dan sempat terpikir untuk mengganti nama blog ini (walau ujung-ujungnya nggak jadi). Saya juga mulai mengumpulkan tulisan-tulisan yang saya buat selama menjalani pekerjaan paruh waktu sebagai content writer.

Tentu, agar media ini bisa terus berkembang, blog ini harus mulai menerima iklan. Jadi mulai sekarang, blog ini akan menampilkan iklan. Seperti yang saya bilang sebelumnya, idealis boleh tapi tetap harus realistis.

Jadi, apakah blog ini akan bertahan seiring dengan idealogi yang saya yakini selama ini? Apakah saya akan mencari pekerjaan yang lebih sesuai dengan passion saya? Apakah saya akan menyerah dan akan pasrah menjadi budak korporat? Entahlah….

Itulah mungkin bagaimana quarter life crisis bisa mengubah saya dan blog ini. Semuanya berkaitan dengan impian idealis saya. Walau harus diakui, bersikap realistis tetap diperlukan agar kita masih bisa hidup. Saya mohon doanya agar saya bisa menjalani krisis ini dengan baik.

Semoga pengalaman saya ini bisa menjadi inspirasi bagi pembaca yang juga sedang mengalami quarter life crisis. Tentu saja, cara mengatasinya tak mesti sama dengan saya. Be yourself.

Tanamkan IDE. Maksimalkan AKSI. Minimalkan BACOT. Inilah TeddyTV.xyz, media alternatif yang Aktif, Jernih, dan Menginspirasi.

Yogyakarta, 1 Januari 2019.

Ditulis di kamar hotel oleh Teddy Sukma Apriana | Founder dan Pemimpin Redaksi TeddyTV.xyz

Tulisan terkait

Mungkin kamu pengen baca ini juga

2 Comments

  1. Edanlah salut ted, blog TeddyTV masih bertahan dari zaman SMP sampe sekarang, sementara blog urang (Beritaneh) udah punah dari kapan taun haha… Keren ted, salut untuk semangat dan konsistensinya. Semoga tetap bertahan dan menemukan cara untuk berkembang. Btw, ga tau ente masih inget ga sama urg hehe…

    1. Halo lang, gimana kabar maneh? Yahh alhamdulillah blog urang ini masih tahan. Sebenernya sih sempet vakum, baru sekarang aja gencar lg. Kalem, urg masih inget ente kok hehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *